Kampus Islam dan Tantangan Peradaban Modern

Written by | Opini

islamic university

Oleh: Kholili Hasib

Inpasonline.com-Pada Maret 2019 terbit buku menarik tentang Perguruan Tinggi Islam (PTI). Judulnya “Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi, Konsep, Aplikasi dan Tantangannya”. Ditulis oleh Adian Husaini, MA, P.hD, pakar pendidikan Pendiri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok. Buku ini boleh dikatakan buku pertama yang menjelaskan tantangan PTI di era disrupsi.

Tetapi, yang menarik lagi adalah gagasan kritis tentang kriteria PTI terbaik. “Sepatutnya, para akademisi Muslim menilai kriteria utama kampus terbaik berdasarkan nilai-nilai Islam itu sendiri. Misalnya, berdasarkan pada hadis Nabi Muhammad Saw, bahwa manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesama; dan manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya; juga, orang terbaik adalah yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an”, tulis Adian Husaini dalam bukunya (hal. 143). Artinya, iman, taqwa dan akhlak mulia menjadi dasar utama penilaian.

Tentu saja, gagasan ini terdengar asing bagi, — mungkin – sebagian kampus Islam. Namun, semestinya tidak aneh. Persoalannya memang, kampus Islam ditantang dengan kriteri-kriteria administratif oleh BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi). Jumlah mahasiswa, lulusan terserap dunia kerja, prosentasi dosen berpangkat, luas gedung, ketersediaan fasilitas, jumlah artikel dosen di jurnal terakreditasi, dan lain-lain menjadi target kejaran kampus untuk menaikkan rangking universitas. Kadang, kampus harus “berperas keringat” memenuhi kriteria dalam akreditasi demi meraih nilai terbaik. Jadi, mengejar nilai itu menjadi daya tawar kampusnya. Kalau perlu, membuat “rekayasa” supaya kampusnya memenuhi kriteri standar BAN-PT. Akibatnya, proyek peningkatan kualitas kampus kurang sehat. Menyiapkan keperluan administratif secara maraton. Demi nilai di atas kertas, dalam bingkai sertifikat.

Kriteria tersebut tetap perlu diperhatikan, namun alangkah baiknya jika kampus Islam memiliki standar khusus. Sebagai tambahan, tetapi menjadi acuan utama. Mengacu pada nilai-nilai Islam. Jika kampus Islam itu berbasis pesantren, maka lebih layak lagi acuannya adalah nilai-nilai Islam, dan ditambah dengan nilai kepesantrenan. Kelebihan kampus Islam berbasis pesantren dibandingkan kampus Islam lainnya adalah kampus berbasis pesantren lebih mudah mendidik adab, akhlak dan prilaku mahasiswanya. Sehingga mahasiswa mendapatkan dua internalisasi; ruh pesantren dan ruh akademik kampus. Jadi, karakter keislaman menyatu dalam budaya ilmiah kampus. Tradisi pendidikan tinggi menyatu dengan karakter kepesantrenan. Jika dikembangkan dengan baik, akan melahirkan manusia yang memiliki skill khusus.

BACA JUGA  Ramadlan dan Identitas Masyarakat Berperadaban

Bagiamana melahirkan manusia terbaik dari kampus Islam? Di sinilah persoalan dan tantangannya. Pendekatan filsafat ilmu dalam hal ini sangat menentukan. Manusia sholih, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia tidak lahir dari mahasiswa yang mendapatkan internalisasi pikiran filsafat ilmu sekular. Cita-cita baik melahirkan manusia baik, harus dilakukan dengan pendekatan yang baik.

Jika kampusnya adalah berbasis pesantren, maka harusnya pendekatan filsafat ilmunya digali dari turats-turats Islam. Teori, konsep dan pemikiran tentang ilmu dari turats itu sangat melimpah. Pekerjaan kampus Islam sekarang adalah mengelaborasi turats yang melimpah itu untuk menjejak pemikiran tentang konsep ilmu para ulama. Ironinya, hal demikian belum banyak dilakukan. Kampus Islam, bahkan yang berbasis pesantren, masih mengandalkan pendekatan filsafat ilmu sekular.

Beberapa kitab turats yang mesti dirujuk antara lain; Bab Ilmu kitab Ihya Ulumuddin imam al-Ghazali, ‘Aqoid an-Nasafi, Ushuluddin Abdul Qohir al-Bahdadi, Uyunul Hikmah Ibnu Sina, Mizanul Ilmi, Risalah al-Laduniyah imam al-Ghazali, Ihsa’ul Ulum al-Farabi, Ar Risalah imam Syafii. Belum lagi karya-karya Hakim at Turmudzi, Ibnu Athoillah as-Sakandari, Ibnu ‘Arabi, dan lain-lain masih banyak lagi. Jadi, tugas kampus Islam dalam hal ini adalah menyusun buku-buku kuliah untuk filsafat Ilmu perspektif Islam.

Syed Ali Tawfik al-Attas menjelaskan tantangan perguruan tinggi Islam antara lain adalah universitas dilihat sebagai sekedar pendidikan praktis yang menyiapkan sarjana siap mengamalkan sains dalam pekerjaan. Artinya orientasi univeristas adalah pragmatis materialis. Inilah tantangan internal (dalaman) yang dihadapi universitas Islam sekrang (Ali Tawfik al-Attas,Cabaran-Cabaran Pendidikan Tinggi dalam Mohd Zaidi Ismail & Wan Suhaimi Wan Abdullah dalam Adab dan Peradaban Karya Pengi’tirafan untuk Syed Muhammad Naquib al-Attas,(Kuala Lumpur, MPH Publishing, 2012), hal. 345).

BACA JUGA  Islamisasi Media Massa

Tahun 2014 saya telah menulis artikel “Filsafat Ilmu dan Problem Metodologi Pendidikan Islam” dalam jurnal Ta’dib Fakultas Tarbiyah Universitas Darussalam Gontor. Dalam artikel ini saya tulis bahwa saat sekarang ini diperlukan segera desain kurikulum pendidikan Islam yang berasaskan dinamisasi konsep ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Konsep ini akan membentuk karakter kuat dalam pribadi anak didik.

Pengajaran menurut perspektif Islam itu bukan bersifat juz’i (parsial) tetapi kulli (komprehensif). Kulli maksudnya, kurikulum yang membentuk kerangka utuh yang menggambungkan seluruh ilmu agama, seperti tauhid, fiqih, kalam, tafsir, hadis, tasawu. Menggabungkan antara ilmu syariyyah dengan ilmu duniawi. Secara akal akademik kuat, ditopang oleh pondasi ilmu syariyyah.

Tentu saja proyek demikian harus dilandasi oleh konsep ilmu yang benar dan kuat. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof. Al-Attas) menjelaskan dalam Risalah untuk Kaum Muslimin karakteristik penting ilmu dalam Islam. Bahwa ilmu dalam Islam terkait rapat dengan pengenalan diri, pengenalan kepada Allah, akhlak, adab, Negara, masyarakat. Maka, tidak bisa disebut berilmu bila ilmunya terpisah dari hal tersebut. Sementara, filsafat ilmu sekular memisahkan ilmu dengan perkara-perkara tersebut.

Prof. Al-Attas pernah membangun kampus Islam bernama ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) yang cita-citanya mengungguli kampus-kampus Barat ternama. Pakar-pakar ternama dunia diundang mengajar di sini. Dari Timur dan Barat. Kampus ini luar biasa. Membangun tradisi ilmiah murni dari Islam. Boleh dikatakan, kampus Islam terbaik yang dibangun di era modern. Jika di zaman Abbasiyah ada kampus Nidzamiyyah, maka di era modern ada ISTAC. Maka, ISTAC merupakan model terbaik kampus Islam di zaman modern. Kampus seperti ini harus tetap menjadi impian. Minimal menjadi contoh.

BACA JUGA  Jefry dan ‘Kelokan’ Hidup Manusia

Maka untuk membangun peradaban manusia yang baik, maka kampus Islam semestinya kembali ke khittahnya. Khittah kampus Islam itu berbudaya dan beriklim akademik tradisi Islam. Ia perlu berdiri independen. Berjalan dengan kurikulum, pendanaan, dan kriteri/standarisasi yang independen.

Menurut Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, seyogyanya universitas Islam tidak dipecah menjadi jabatan-jabatan yang terpisah dan saling terasing seperti berlaku di fakultas-fakultas kebanyakan universitas modern. Universitas semestinya mencerminkan istilah asalahnya yaitu kulliyah, yang mengacu pada hakikat keadaan yang saling berkait dan menyeluruh.

Kampus Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Model pendidikan, tidak saja dimodifikasi untuk mengikuti perkembangan zaman, akan tetapi lebih penting lagi, adab dan esensi konsep Islam harus menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan Islam.

Tetapi, yang lebih penting untuk hal itu semua adalah adanya pemimpin kampus Islam yang baik berkualitas. Pemimpin kampus Islam tidak selayaknya hanya seorang pengurus saja. Tapi ia pemimpin pengurus sekaligus pemimpin ilmiah. Memiliki otoritas bidang ilmu. Karena perguruan tinggi adalah institusi ilmiah, maka harus dipimpin oleh orang yang memiliki daya pemimpin ilmu yang kreatif, yang mampu menyelesaikan persoalan keilmuan Islam.

Walhasil, produk peradaban modern yang baik diambil. Adapun yang merugikan, dilepas dan diganti dengan produk-produk peradaban dalam tradisi Islam. Jangan sampai kampus Islam tetapi adopsinya “kaffah” pada produk kampus modern yang sekular. Selektif kreatif, adaptif kritis.

Last modified: 08/01/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *