Dasar Larangan Mengucapkan Salam/Tahiyat dengan Redaksi dari Agama Lain  

Written by | Fikih dan Syariah

TOLERANSI

 Oleh: Ainul Yaqin

Sekum MUI Provinsi Jawa Timur 

Inpasonline.com-Ketika ada fihak yang menyangkal taushiyah MUI Jatim terkait larangan mengucapkan salam lintas agama dengan memberikan argumen-argumen, masyarakat ada yang mengira, MUI Jawa Timur tidak mempunyai dasar dalam menyampaikan taushiyah, karena di taushiyah memang tidak disebutkan dasar-dasarnya. Karena itu, perlu memang menyampaikan dasar-dasar sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 104

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقُولُواْ رَٰعِنَا وَقُولُواْ ٱنظُرۡنَا وَٱسۡمَعُواْۗ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٞ ١٠٤  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa´ina”, tetapi katakan-lah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 104)

Ayat tersebut menjelaskan larangan menyerupai orang-orang kafir, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Karena orang-orang Yahudi  senang bermain kata-kata yang mempunyai arti samar dengan maksud untuk mengurangi makna yang dikandungnya. Mereka mengatakan: “raa’ina, padahal yang dimaksudkan mereka adalah ru’unah (tolol/sangat bodoh). (lihat: Tafsir Ibnu Katsir Juz I/373)

  1. Al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 42tentang larangan mencampur aduk ajaran agama Islam dengan yang lain:

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤٢

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.

  1. Al-Qur`an surat al-Kafirun ayat 1-6:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ  ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan pe-nyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”

Surat al-Kafirun ini memberikan penegasan penolakan kepada orang-orang kafir yang ingin mengajak sharing dalam menjalankan aktifitas ritual agama. Maka Islam menyampaikan prinsip, untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku sendiri.

Prinsip ini menjadi salah satu landasan toleransi antar umat beragama. Toleransi bukan menggabungkan ajaran agama yang berbeda, tetapi menghormati  pihak-pihak yang berbeda dengan cara membiarkan masing-masing menjalankan ajaran agamanya sendiri-sendiri.  Selain itu, prinsip toleransi adalah tidak boleh ada paksaaan dalam memeluk agama sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah  ayat 256.

 

  1. al-A’raf ayat 180

وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Penjelasan ayat ini adalah sebagaimana penjelasan Ibnu Abbas ra:

عن ابن عباس: (وذروا الذين يلحدون في أسمائه) قال: إلحاد الملحدين: أن دعوا ” اللات ” في أسماء الله.

Dari Ibnu Abbas ra terkait dengan ayat (“wa dzaruu al-ladziina yulhiduuna fii asmaa’ihi), Dia berkata: (yang dimaksud adalah) penyimpangan orang-orang yang menyimpang yang memanggil al-lata di dalam menyebut asma Allah. (Tafsir al-Thabari Juz 10/597)

 

Demikian pula dengan penjelasan Mujahid ra:

عن مجاهد:  (وذروا الذين يلحدون في أسمائه) قال: اشتقوا ” العزى ” من ” العزيز “, واشتقوا ” اللات ” من ” الله “.

Dari Mujahid terkait dengan ayat (“wa dzaru al-ladziina yulhiduuna fii asmaa’ihi), Dia berkata: (orang-orang menyimpang itu) mengambil kata al-Uzza dari al-Aziiz, dan kata al-Laata dari lafadz “Allah”. (Tafsir al-Thabari Juz 10/597)

Kita dilarang menyebut Allah dengan al-uzza, walaupun kata itu dibuat dari Asma’ al-Husna, “al-Aziz”. Demikian pula dilarang menyebut Allah dengan  al-laata yang kata ini diambil dari kata Allah, juga al-manata walaupun kata ini juga dibuat dari asma Allah “al-Mannaan”.

Sekarang ada yang bilang seperti kata Dr. Muhlis Hanafi: Yang pasti, semua agama meyakini Tuhan Yang Maha Esa. Zat Yang Wajibul-wujuud (Maha Ada), Yang Mahatinggi, Pencipta alam semesta dan Semua yang Wujud. Nama, sifat dan cara meyakininya bisa berbeda. Selama merujuk ke situ, maka tak mengapa. Berbeda nama, tapi tujuan sama”.  (lihat: https:// diy.kemenag.go.id/3499-salam-lintas-agama-syubhat-benarkah.html). Dalam pernyataan ini seolah-olah tidak masalah menyamakan Allah dengan Sang Hyang Widhi karena hakikatnya adalah juga Tuhan Yang Maha Esa juga.

Pendapat ini jelas tidak mendasar. Tidak boleh kita menyebut Allah dengan Sang Hyang Widhi, karena kata ini menjadi  identitas sesembahan Agama Hindhu, sama seperti larangan menyebut Allah dengan al-laata, al-Uzzaa, dan al-Manaata. Dengan demikian sekiranya ada orang Islam yang menyebut kata “Om swastiastu” seruan do’a dalam agama Hindhu untuk Sang Hyah Widhi, lalu dalam hati yang dimaksud adalah menyeru kepada Allah, tetap tidak bisa dibenarkan.

BACA JUGA  Konsep Makna Menurut Ulama Ushul

Lalu dalam soal Namo Budhaya, yang artinya terpujilah Sang Budha, ada yang mengasosiasikan bahwa Budha adalah seorang nabi. Jika asumsi ini benar, mari kita bandingkan, kepada Nabi Muhammad yang jelas-jelas nabi, kita tidak pernah mengucapkan alhamdu li Muhammadin, tetapi alhamdulillah. Kita pun tidak mengucapkan nahmadu Muhammadan, tetapi yang diajarkan adalah nahmadullah wa nasta’iinuhu.

 

  1. Haditslarangan meniru dalam berbagai hal

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang menyeru-pai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR Abu Dawud No. 4031 / Sunan Abi Dawud Juz VI/hal 144)

  1. Hadaits larangan menyerupai dalam penampilan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Dari Ibnu Umar ra, dari Rasulullah Saw beliau bersabda: Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot panjang, dan pendekkanlah kumis” (shahih Bukhari Juz III/hal 369 Hadits No. 5681, hadits senada juga terdapat dalam Shahih Muslim Jilid I/hal 134, hadits No. 54)

  1. Hadits larangan menyerupai dalam cara bertegur sapa menggunakan salam

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

Dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami, maka janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya”. (HR. al-Tirmidzi No. 2695 / Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal 56)

لاَ تُسَلِّمُوا تَسْلِيمَ اليَهُودِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَهُمْ بِالأَكُفِّ وَالرُّؤوسِ وَالإِشَارَةِ (أخرجه النسائيُّ في السنن الكبرى)

Janganlah kalian menyampaikan salam dengan salamnya Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya salam mereka dengan  telapak tangan dengan kepala, dan isyarat. (HR. al-Nasa’i)

  1. Larangan menyerupai dalam cara membaca al-Qur’an

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وأَصْوَاتِها وَإِيَّاكُمْ ولُحُونَ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ وَأَهْلِ الْفسقِ فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ بَعْدِي قَوْمٌ يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ وَالرَّهْبَانِيَّةِ وَالنَّوْحِ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ مفتونةٌ قُلُوبُهُمْ وقلوبُ مَنْ يُعْجِبُهُمْ شَأْنُهُمْ (رواه الترمذي في نوادر الاصول والطبراني في الاوسط)

Bacalah al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu  kedua kelompok ahli kitab dan orang orang fasiq. Kelak akan ada orang datang setelahku orang membaca al-Quran seperti menyanyi, dan meratap, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya.

  1. Hadits yang menjelaskan agar berhati-hati dalam mengucapkan kalimat yang bermasalah

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka”. (HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970)

Dengan demikian bagi seorang muslim, mengucapkan redaksi salam milik agama lain yang secara makna bermasalah menurut teologi Islam, seperti ungkapan Namo Buddhaya, atau Om Swastiastu bisa membahayakan, tidak bisa dianggap remeh lalu mengatakan, “ah cuma tegur sapa”.

  1. Pendapat Hubaib bin Rabi al-Maliki

قال حبيب بن الربيع :إن إدِّعَاء التأويل فِي لفظ صُراح لَا يقبل (الشفا بتعريف حقوق المصطفى، ج2: 217)

Mengaku adanya takwil dalam dalam ucapan yang jelas (sharih) mengandung kekufuran maka pengakuannya tersebut tidak dapat diterima”

Karena itu, metakwil kalimat redaksi salam milik agama lain, yang secara redaksi makna sudah jelas bermasalah menurut teologi Islam, seperti ungkapan Namo Buddhaya, atau Om Swastiastu, tidak bisa dibenarkan.

  1. Pendapat dalam madzhab Hanafi

مَنْ كَفَرَ بِلِسَانِهِ طَائِعًا وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ فَهُوَ كَافِرٌ ولايَنْفَعُهُ مَا فِي قَلْبِهِ لِأَنَّ الْكَافِرَ يُعْرَفُ بِمَا يَنْطِقُ بِهِ

Barangsiapa mengucapkan kata-kata kufur dengan lisannya dengan jelas, walaupun hatinya merasa tetap dalam iman; maka sesungguhnya orang ini kafir. Dan apa yang ada dalam hatinya tidak dapat memberikan manfaat apapun bagi dirinya. Karena kekafiran itu diketahui dengan apa yang terucapkannya (Lihat Durar al-Hukkam fi Syarh Ghurar al-Ahkam I/hlm. 324; al-Fatawa al-Sarajiyah, hlm. 304; dan Fatawa Qadhikhan, hlm. 513).

  1. Penjelasan Tajj al-Diin al-Subki
BACA JUGA  Monoteisme Bukan Tauhid

قد علم أن لبس زي الكفار وذكر كلمة الكفر من غير إكراه كفر.  فلو اقتضت مصلحة المسلمين إلى ذلك واشتدت حاجتهم إلى من يفعله فالذي يظهر أنه يصير كالإكراه.

“Sudah diketahui bahwa memakai perhiasan (simbol khas) orang-orang non muslim dan mengucapkan kalimat yang mengandung kekufuran tanpa adanya paksaan dari pihak lain itu menyebabkan kekufuran. Namun demikian bila kemaslahatan kaum muslimin menuntutnya dan sangat dibutuhkan ada orang yang melakukannya, maka status hukumnya seperti dalam kondisi terpaksa (al-Asybah wa al-Naadzair li Taj al-Din al-Subki, Juz 2/hlm. 132)

Terkait penjelasan Tajj al-Diin al-Subki ini, ada fihak yang menyampaikan bahwa penggunaan sederet ucapan tegur sapa / salam / tahiyyat dengan redaksi dari berbagai agama dalam kondisi tertentu diperbolehkan dengan maksud untuk memperkokoh kesatuan. Pandangan ini jelas merupakan alasan yang tidak mendasar. Kenyataannya informasi dari Bali menyatakan, bahwa sudah ada kesepakatan di FKUB Bali,  masing-masing pemuka agama menyampaikan salam pembuka sesuai dengan agama masing-masing. Demikian pula disampaikan oleh seorang kawan non muslim dalam pesan tertulisnya. Bahwa justru bagi kalangan non muslim lebih merasa nyaman mengucapkan salam pembuka dari agamanya sendiri. Karena pada kenyataannya bagi sebagian non muslim tidak mudah pula mengucapkan salam orang Islam secara fasih, malah khawatit keliru.

Selain itu perlu dipertanyakan pula alasan kobelehan pengucapan redaksi salam lintas agama adalah karena adanya kemaslahatan. Maka yang patut dipertanyakan kemaslahataan yang bagaimana itu. Mendasarkan hukum kepada maslahat mestilah hati-hati. Berkaitan dengan maslahat ini Imam al-Ghazali menyampaikan:

نعني بالمصلحة  المحافظة على مقصود الشرع . ومقصود الشرع من الخلق خمسة : وهو أن يحفظ عليهم : دينهم,  ونفسهم, وعقلهم, ونسلهم, ومالهم

Yang kami maksudkan dengan mashlahah adalah memelihara tujuan syara’. Dan tujuan syara’ bagi makhluk ada lima hal, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta mereka. (al-Mustashfa Juz I/416-417)

 

Selanjutnya Imam al-Ghazali memberikan persyaratan:

وهذه الأصل الخمسة حفظهاواقع في رتبة الضرورات, فهي أقوى المراتب في المصالح

Kelima dasar/prinsip ini memeliharanya berada pada tingkatan darurat. la merupakan tingkatan maslahat yang paling kuat. (al-Mustashfa Juz I/417)

الواقع في الرتبتين الأخرتين لا يجوز الحكم بمجرده إن لم يعتضد بشهادة أصل, لأنه يجري مجرى وضع الشرع بالرأي

Maslahat yang berada pada dua tingkatan terakhir/dibawah tingkatan darurat (yakni tingkat hajiyat dan tahsiniyat) tidak boleh berhukum semata-mata dengannya apabila tidak diperkuat dengan dalil, karena hal itu sama saja dengan membuat syara’ dengan pendapat semata  (al-Mustashfa Juz I/420)

فكل مصلحة لاترجع الى حفظ مقصود فهم من الكتاب والسنة والإجماع وكانت من المصالح الغربية التي لاتلائم تصرفات الشرع فهي باطلة مطرحة

Setiap maslahat yang tidak kembali untuk memelihara maksud hukum Islam yang dapat difahami dari al-Kitab, sunnah, dan ijma’ dan merupakan maslahat garibah (yang asing) yang tidak sejalan dengan tindakan syara’ maka maslahat itu batal dan harus dibuang. (al-Mustashfa Juz I/430)

Dengan demikian tidak boleh sembarang mendasarkan kebolehan untuk melakukan sesuatu hanya berdasar pada maslahah tanpa diteliti dan dicermati.

 

Catatan:

  1. Sejumlah kalangan menggunakan dasar surat Nabi Muhammad Saw kepada kaisar Heraclius, kepada Muqauqis penguasa Qibti, kepada Raja Najasi, dan kepada Kisra Persia sebagai dasar membolehkan mengucapkan redaksi salam lintas agama untuk membantah taushiyah MUI Prov. Jatim. Penggunaan dasar ini jelas tidak relevan karena surat yang ditulis Nabi Muhammad Saw dimulai dengan redaksi salam Nabi, bukan redaksi salam atau tahiyyat dari agama lain. Salam Nabi dalam surat-surat tersebut adalah:

السَّلَامُ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى
keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk (HR al-Bukhari)
سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى

keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk

  1. Ada yang salah faham juga, menyangka taushiyah MUI Provinsi Jawa Timur melarang orang mengucapkan salam kepada non muslim. Padalah fokus taushiyah MUI Provinsi Jawa Timur tidak terkait dengan masalah ini karena masalah ini sudah jelas dan banyak dibahas oleh para ulama. Dalam hal ini Imam al-Nawawi menjelaskan:

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي رَدّ السَّلَام عَلَى الْكُفَّار وَابْتِدَائِهِمْ بِهِ فَمَذْهَبنَا تَحْرِيم اِبْتِدَائِهِمْ بِهِ وَوُجُوب رَدّه عَلَيْهِمْ بِأَنْ يَقُول وَعَلَيْكُمْ أَوْ عَلَيْكُمْ فَقَطْ……….

وَيَجُوز الِابْتِدَاء بِالسَّلَامِ عَلَى جَمْع فِيهِمْ مُسْلِمُونَ وَكُفَّار أَوْ مُسْلِم وَكُفَّار

BACA JUGA  Tiga Pesan Guru Syekh Naqsabandi tentang Tariqah

Para ulama berbeda pendapat terkait menjawab salam kepada orang kafir dan memulai salam kepada mereka, adapun madzhab kami (Maadzhan Syafi’i) mengharamkan memulai salam kepada mereka, dan untuk menjawab salam mereka wajib dengan mengucapkan “wa ‘alaikum” atau “alaikum” saja…..dan boleh memulai salam atas kumpulan terdiri dari muslim dan kafir. (Syarh Shahih Muslim: XIV/145)

Adapun dasar yang menjadi pertimbangan melarang memulai salam kepada non muslim adalah hadits Nabi Muhaammad Saw:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nasrani dalam salam (ucapan selamat). (HR. Muslim)

Madzhab Hanafi menghukumi makruh memulai salam kepada non muslim, demikian pula madzhab Maliki. Namun demikian, jika mengucapkan seperti yang ada dalam surat-surat Nabi yaitu kalimat, “Assalaamu alaa man ittaba’a al-hudaa” , tidaklah mengapa. (lihat: Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah XXV/168)

Di sisi lain, sebagian para ulama membolehkan mendahului salam kepada non muslim jika karena ada kebutuhan. Sebagaimana penjelasan Ibnu al-Qayyim al-Jauzi.

وقالت طائفة: يجوز الابتداء لمصلحة راجحة من حاجة تكون إليه أو خوف من أذاه أو لقرابة بينهما أو لسبب يقتضي ذلك

Berkata sekelompok ulama, boleh mendahului salam (kepada non muslim) karena ada mashlahat yang lebih diperhitungkan, yang seseorang membutuhkannya, atau takut dari gangguannya atau karena ada hubungan kerabat diantara keduanya atau sebab lain yang menuntut untuk memulai salam. (Zaad al-Ma’ad 2/395)

Namun, dalam hal ini  Imam al-Nawawi menyampaikan catatan:

وَذَهَبَتْ طَائِفَة إِلَى جَوَاز اِبْتِدَائِنَا لَهُمْ بِالسَّلَامِ  رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ اِبْن عَبَّاس وَأَبِي أُمَامَةَ وَابْن أَبِي مُحَيْرِيز  وَهُوَ وَجْه لِبَعْضِ أَصْحَابنَا حَكَاهُ الْمَاوَرْدِيّ  لَكِنَّهُ قَالَ : يَقُول : السَّلَام عَلَيْك  وَلَا يَقُول : عَلَيْكُمْ بِالْجَمْعِ. وَاحْتَجَّ هَؤُلَاءِ بِعُمُومِ الْأَحَادِيث ، وَبِإِفْشَاءِ السَّلَام ، وَهِيَ حُجَّة بَاطِلَة لِأَنَّهُ عَامّ مَخْصُوص بِحَدِيثِ ( لَا تَبْدَءُوا الْيَهُود وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ )

Sekelompok ulama membolehkan memulai salam kepada mereka (non muslim), sebagaiamana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu Umamah, Abu Muhairiz, dan ini salah satu pendapat sahabat-sahabat kami seperti yang diceritakan Al Mawardi,  tetapi mengatakan ucapan salamnya adalah dengan ucapan, ‘assalamualaika’ bukan dengan cara jama’,  ‘assalamualaikum’. Kelompok ini berargumen berdasarkan hadits-hadits yang masih umum tentang perintah untuk menyebarkan salam. Namun demikian alasan ini adalah alasan yang batil, karena hadits tersebut masih umum dan telah dikhususkan oleh hadits: “Janganlah memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani”. (Syarh Shahih Muslim: XIV/145)

Kesimpulan:

  1. Dengan penjelasan ini, MUI Provinsi Jawa Timur kembali menegaskan taushiyah yang sudah dibuat, agar seorang muslim cukup menggunakan kalimat: “Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”,yang secara makna mengandung do’a yang mencakup semuanya, dan jika ingin netral karena ada non muslim bisa menggunakan ungkapan “salam sejahtera”, atau seperti yang pernah dicontohkan oleh KH. Abdurrahman Wahid, dengan kalimat: “selamat pagi, selamat siang, dst”.
  2. Bahwa menggembalikan cara mengucapkan salam pembuka sesuai dengan agama yang dianut atau menggunakan salam nasional yang netral, justru lebih memudahkan juga bagi non muslim.
  3. Dalam taushiyah MUI sudah disampaikan, bahwa pada dasarnya setiap agama mempunyai ajaran yang bersifat eksklusif dan  berbeda antar agama satu dengan yang lain, sehingga dalam kehidupan bersama membutuhkan sikap toleransi. Maka toleransi yang perlu dilakukan adalahdengan cara menghormati masing-masing fihak yang berbeda, bukan dengan menggabung atau mencampur ajaran-ajaran yang ada, yang justru bisa merusak kemurnian ajaran masing-masing.
  4. Patut di cermati pula, bahwa dalam tinjauan faham pluralisme agamamemang toleransi saja belum cukup, tetapi harus pluralisme agama. Maka seperti disampaikan Diana L. Eck, pakar pluralisme dalam tulisannya berjudul: “What is Pluralism? Ia menjelaskan bahwa pluralism is not diversity alone but the energetic engagement with diversity (pluralisme bukanlah keberagaman saja, tetapi merupakan sikap yang terlibat secara energik dengan keanekaragaman). Dia juga mengatakan bahwa, pluralism is not just tolerance, but the active seeking of understanding across lines of difference (pluralisme bukan hanya sekedar toleransi, tapi sikap aktif saling mencari pemahaman terhadap lintas perbedaan) (sumber: http://pluralism.org/what-is-pluralism/)
  5. Maka jelaslah bahwa, fenomena pengucapan sederet redaksi salam dari lintas agama menjadi satu adalah manifestasi dari proyek pluralisme agama ini, yang sebenarnya faham ini sudah difatwakan haram oleh MUI. Karena itulah, umat Islam perlu cermat dan teliti dengan perkembangan seperti ini.

 

Last modified: 12/01/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *