Oleh M. Anwar Djaelani, aktif menulis sejak 1996
inpasonline.com – Pemimpin dan pidato, dua hal yang nyaris tak terpisahkan. Ada saat, pemimpin harus berpidato. Misal, kala menyampaikan program kerja. Di samping itu, kadang pemimpin perlu sesekali berbicara. Misal, ketika ada masalah tertentu yang dirinya patut memberikan pandangan. Bentuknya, bahkan bisa berupa pernyataan singkat.
Di saat-saat berpidato atau berbicara, pemimpin harus tepat menyampaikannya. Di titik ini, akan muncul setidaknya dua model pemimpin. Pertama, pemimpin yang akan dikenang karena pidato-pidatonya yang mencerahkan. Pemimpin jenis ini, saat berpidato serba bagus. Isinya, bernas. Pilihan katanya, oke. Bahasanya, elok.
Kedua, pemimpin yang akan diingat karena pidato-pidatonya membosankan (untuk tak menyebut menyebalkan). Pemimpin model ini, pidato-pidatonya tak menarik. Isinya, tak penting. Bahasanya, tidak keruan. Kadang, dari lisannya muncul kata-kata kurang elok.
Tentu, dua model pemimpin seperti di atas akan melahirkan dua citra. Pertama, pemimpin yag asyik. Kehadiran pemimpin jenis ini sering ditunggu dengan antusias. Dulu, jika KH Isa Anshary berpidato, masyarakat berduyun-duyun mendengarnya. Mereka bersemangat menyimaknya. Bahkan, mereka yang berseberangan secara politik, turut pula mengikutinya.
Kedua, pemimpin yang membosankan. Kadang, pemimpin jenis ini juga ditunggu jadwal pidatonya. Hanya saja, tujuan menunggu itu hanya untuk mencatat apa saja kalimat kontroversial yang akan diucapkannya. Juga, sikap nyleneh apa saja yang akan dipertontonkannya.
Pemimpin itu mestinya punya kemampuan berpidato atau berbicara yang baik. Hal ini, karena sebuah pidato yang baik dapat membangkitkan harapan, menggerakkan langkah, bahkan dapat mengubah arah sejarah dari masyarakat. Sebaliknya, pidato yang tak baik (bisa karena pilihan kata yang keliru, bisa karena ekspresi atau bahasa tubuh yang tak tepat) dapat menghilangkan kepercayaan kepada sang pemimpin. Pidatonya, menghadirkan pesimisme.
Panduan Penting
Seorang pemimpin harus punya gagasan besar dalam memajukan masyarakat. Kemudian, dia harus punya kemampuan menyampaikan ide itu secara baik agar bisa dipahami dan diterima masyarakat. Untuk itu, pidato adalah salah satu cara penyampaiannya.
Dalam Islam, berbicara di hadapan orang banyak bukan sekadar menyampaikan kata-kata tetapi juga menyampaikan kebenaran. Pidato berfungsi mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Oleh karena itu, seorang pembicara tidak cukup hanya fasih tapi juga harus memiliki ilmu dan akhlak.
Islam memberikan pedoman tentang bagaimana seorang Muslim berbicara. Perhatikan terjemahan ayat ini: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik” (QS An-Nahl [16]: 125).
Dari ayat di atas, saat berpidato/berceramah/berbicara, berikut ini pilihan modelnya; 1).Dengan hikmah (memberi ulasan sedemikian rupa dapat membedakan yang haq dengan yang bathil). 2).Dengan nasihat yang menyentuh. 3).Dengan debat yang pelaksanaannya tetap memelihara sikap santun.
Selain itu, Islam juga mengajarkan sejumlah prinsip berkomunikasi (termasuk bisa dipakai saat berpidato), yaitu:
1).Qaulan sadidan (perkataan yang benar). Simak terjemahan ayat ini: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”
(QS Al-Ahzab [33]: 70).
2).Qaulan balighan (perkataan yang membekas). Perhatikan terjemahan ayat ini: ”….. katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (QS An-Nisa’ [4]: 63).
3).Qaulan layyinan (perkataan yang lembut). Pelajari terjemahan ayat ini: ”maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”(QS Thaahaa [20]: 44).
4).Qaulan kariman (perkataan yang mulia). Hayati terjemahan ayat ini: ”….. ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS Al-Israa’ [17]: 23).
5).Qaulan maisuran (perkataan yang mudah dipahami). Resapi ayat ini: ”….. maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas” (QS Al-Isra’ [17]: 28).
Sejalan, Harus!
Dalam berpidato, sampaikan dengan jelas. Lakukan secara lembut, perlahan, dan tidak tergesa-gesa sehingga para pendengar mudah memahami setiap kalimat. Sangat penting, kejelasan dan ketepatan dalam berbicara.
Pidato yang baik juga harus disertai keteladanan. Kata-kata akan lebih mudah diterima apabila sesuai dengan perilaku pembicaranya. Misal, saat pemimpin bicara tentang perlunya melakukan efisiensi, maka dirinyalah yang harus memulai gerakan itu.
Pemimpin harus satu kata antara pidato dengan apa yang dikerjakannya. Pidato yang seperti ini akan mendatangkan manfaat. Sebaliknya, pidato yang indah tetapi tak dihidupkan dalam keseharian akan hilang manfaatnya. Pidato yang isinya berbeda bahkan bertentangan dengan perbuatan si pengucap, akan cepat menguap dari ingatan masyarakat.
Alhasil, kepada pemimpin, teruslah belajar. Termasuk, belajar berpidato yang baik. Berbicaralah secara tepat. Isi pidatonya harus baik dan memberikan perpektif yang menyegarkan. Berbicaralah, yang bisa mendatangkan manfaat dan terutama agar dapat meraih ridha Allah. Insya Allah, antara lain dengan cara itu, Anda akan diingat sebagai pemimpin punya citra yang baik. []



