Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Jiwa Dakwah Mohammad Natsir
inpasonline.com – Mohammad Natsir, salah satu teladan terbaik di negeri ini. Dia ulama, pejuang, negarawan, pendidik, pemikir, penulis, dan aneka sebutan baik lainnya. Sebagai penulis, dia mulai berkarya di usia 21 tahun. Hasilnya, puluhan buku.
Fiqhud Da’wah dan Capita Selecta adalah dua karya Natsir yang paling sering disebut sampai hari ini. Buku Fiqhud Da’wah menjadi rujukan penting aktivis dakwah sejak kali pertama diterbitkan pada 1969, hingga kini. Anwar Ibrahim (sekarang Perdana Menteri Malaysia), termasuk yang sangat merasakan manfaat dari buku itu.
Sementara, buku Capita Selecta (yang terdiri dari tiga jilid tebal), sampai kini masih sering dikutip terutama oleh aktivis pergerakan. Apa isinya? Di dalamnya dihimpun berbagai tulisan Natsir. Misalnya, ada artikel-artikel Natsir di sejumlah media massa. Ada tulisan yang berasal dari khutbah dan pidato (seperti di parlemen atau radio). Isinya, tentang apa? Macam-macam, seperti agama, kebudayaaan, pendidikan, ketatanegaraan, politik, dan lain-lain.
Semua buku Natsir patut dibaca, terutama dua judul yang disebut di atas. Hal ini, karena ilmu dan pengalamannya luar biasa. Sekadar menyebut sebagian di antaranya, Natsir adalah Direktur Pendidikan Islam di Bandung, 1932-1942. Mulai menjadi guru Persatuan Islam (Persis), 1937. Anggota Dewan Rakyat Bandung, 1940-1942.
Natsir Menteri Penerangan, 1946-1949 (dalam tiga kabinet yang berbeda). Mosi Integral Natsir yang disampaikannya di parlemen pada 3 April 1950, menjadi faktor tegaknya kembali NKRI setelah sempat menjadi RIS. Natsir menjadi Perdana Menteri pada 1950-1951.
Pada 1967 bersama sejumlah sahabatnya mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Di DDII, dia menjadi Ketua Umum, 1967-1993. Hal lain, Natsir menerima berbagai penghargaan (dari dalam dan luar negeri), termasuk sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2008.
Aktivitasnya tak hanya berskala nasional, tapi juga internasional. Sekadar menyebut, Natsir adalah Vice President World Muslim Congress yang bermarkas di Karachi – Pakistan, 1967-1993. Natsir adalah anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami, yang berpusat di Mekkah, 1969-1993.
Sejarah Berulang
Natsir, lahir di Solok – Sumatera Barat pada 17 Juli 1908. Dengan demikian, saat tulisan ini dibuat pada 17 Juli 2026, memang disengaja untuk menjadi semacam cara menghormati Natsir yang banyak berjasa bagi negeri ini.
Sekarang, mari buka buku Capita Selecta 2. Buku itu, bersama yang jilid 1, terbit kali pertama pada 1954. Adapun yang menjadi sumber tulisan ini, yang terbitan Laznas Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia edisi 2021.
Bukalah halaman 73, di situ ada tulisan Jangan Terhenti Tangan Mendayung Nanti Arus Membawa Hanyut. Tulisan ini berasal dari materi khutbah Jum’at pada 17 Agustus 1951. Tak dijelaskan, di masjid mana dan di kota apa?
Hanya saja, berdasar catatan, Natsir menjadi Perdana Menteri ke-5 pada masa jabatan 6 September 1950 – 27 April 1951. Artinya, khutbah itu sekitar empat bulan setelah Natsir tak lagi sebagai Perdana Menteri.
Hal yang menarik, apa yang disampaikan Natsir 75 tahun itu, terasa mirip (untuk tak menyebut persis) dengan kondisi kita sekarang. Kata Natsir, dulu semua orang meniadakan dirinya untuk kepentingan masyarakat (h.74). Dulu, maksudnya, adalah masa pergerakan kemerdekaan.
”Semua orang meniadakan dirinya untuk kepentingan masyarakat”. Seperti apa makna kalimat tersebut? Dulu, kata Natsir, semua gembira meski harta habis. Dulu, semua rela meski rumah terbakar. Dulu, semua ikhlas meski anak gugur di medan juang. Sayang, kini mereka kecewa. Kini, kita mendapat tapi seperti kehilangan (h.76). Mengapa?
Berikut ini, jawaban Natsir: Semua orang menghitung pengorbanan dan minta dihargai. Mereka berharap balasan. Timbul sikap bakhil. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya, sekalipun itu untuk tugasnya sendiri (h.76-77).
Natsir lalu mengingatkan dengan metafora yang mudah kita mengerti. Kita, kata Natsir, sedang di tengah arus tapi sudah merasa di tepi pantai. Lantaran merasa seperti itu, tangan kita berhenti mendayung. Hal itu, akan membuat kita hanyut kembali, ke tempat yang tidak kita ingini (h.78).
Keadaan yang seperti di atas, mengingatkan Natsir pada QS An-Nuur [24]: 39, yang terjemahnya sebagai berikut: ”Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”.
Pada QS An-Nuur [24]: 39 di atas, semua amaliyah harus didasarkan kepada iman. Semua, mesti digerakkan oleh iman. Janganlah seperti orang-orang kafir! Oleh karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, maka tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu.
Petunjuk Penting
Boleh jadi, kala menulis hal-hal di atas, Natsir ingat Pembukaan UUD 1945. Pada alinea keempat, disebutkan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dicita-citakan bisa ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Juga, bisa ”memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
Pada 1951 itu, Natsir mungkin saja melihat bahwa hal-hal yang dicanangkan sebagai cita-cita Pemerintah itu masih jauh dari kenyataan. Oleh karena itu, kata Natsir, dayung terus perahu kita. Teruslah berkeringat untuk mencapai cita-cita (h.79).
Perjuangan, lanjut Natsir, hanya dapat dilakukan dengan antusiasme yang berkobar. Seperti apa? Kita berani meniadakan diri serta mampu untuk merintis jalan secara berencana (h.79).
Menunduk, Menunduk!
Tampak, 75 tahun lalu, Natsir serius meminta kita untuk meminggirkan ego masing-masing. Pinggirkan ego pribadi, lepaskan ego kelompok. Kedepankanlah kebersamaan dan semua hal yang dapat mendekatkan kita untuk segera mencapai tujuan negara.
Mari, kata Natsir, kita bersama-sama memeras keringat. Tak apa-apa berdarah, jika itu memang diperlukan (h.79). Sungguh, jangan berhenti tangan mendayung! []



