Amr bin Ash; Musuh Besar yang Kembali ke Fitrah

amr bin ash musuh besar yang kembali ke fitrah

Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi tokoh teladan

amr bin ash musuh besar yang kembali ke fitrah

            inpasonline.com – Amr bin Ash, salah satu penentang paling keras kehadiran Islam di Mekkah. Dia dikenal pemberani. Dia lakukan apa saja yang sekiranya menyakitkan pemeluk Islam.

            Menurut Khalid Muhammad Khalid di bukunya, Biografi 60 Sahabat Nabi Saw, Amr bin Ash termasuk yang sempat didoakan oleh Nabi Muhammad Saw agar diazab Allah (2018: 589). Doa yang seperti ini lalu dilarang Allah, sebab masalah hidayah itu urusan-Nya. Turun ayat ini: ”Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim” (QS Ali ’Imran [3]: 128).

Lika-Liku

Allah memberikan jalan bagi Amr bin Ash dalam menerima rahmat serta memberikan petunjuk untuk menganut Islam. Segera setelah itu, Amr bin Ash beralih menjadi Muslim yang taat bahkan menjadi salah satu Panglima yang perkasa. Dia arahkan jiwanya dan berikan hartanya, untuk Islam.

Amr bin Ash baru masuk Islam tidak lama sebelum Mekkah dibebaskan. Dia mengawali keislamannya, dari hasil percakapan dengan Raja Najasyi di Habasyah. Hal itu terjadi karena Raja Najasyi kenal dan menaruh rasa hormat terhadap Amr bin Ash yang sering berkunjung ke Habasyah dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah baginya.

Kunjungan itu peristiwa diplomasi. Hal ini, karena Amr bin Ash membawa misi dari pemuka kafir Quraisy di Mekkah. Intinya, agar Raja Najasyi memulangkan kaum Muslimin Mekkah yang hijrah ke Habasyah.

Pada kunjungan terakhir Amr bin Ash ke Habasyah, terjadi percakapan tentang kehadiran seorang Rasul yang menyebarkan tauhid dan berakhlak mulia di Tanah Arab. Kata Najasyi kepada Amr bin Ash, mengapa dia tidak mau beriman dan mengikutinya padahal orang itu benar-benar urusan Allah?

”Benarkah begitu,” tanya Amr bin Ash.

Najasyi mengiyakan dan menasihati Amr bin Ash agar mengikuti Rasul itu. ”Demi Allah,” lanjut Najasyi, ”Dia berada di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya”.

Setelah itu, bergegas Amr bin Ash pulang. Dia arungi laut untuk kembali ke Mekkah, kampung halamannya. Lalu, dia mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk berserah diri kepada Allah.

Di dalam perjalanan ke Madinah itu, dia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah. Keduanya punya maksud yang sama yaitu hendak menyatakan baiat (janji setia)  kepada Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw melihat ketiga orang itu datang, wajah Beliau Saw berseri-seri. Lalu Nabi Saw bersabda kepada para sahabatnya, ”Mekkah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita”.

Khalid bin Walid berinisiatif lebih dahulu, berbaiat. Kemudian Amr bin Ash, dengan berkata, ”Wahai Rasulullah, aku akan berbaiat kepadamu dengan syarat Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu”.

”Wahai Amr bin Ash, berbaiat-lah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya,” demikian jawab Nabi Saw.

Makna ”menghapus dosa-dosa yang sebelumnya” senilai dengan ungkapan kembali kepada fitrah. Kembali kepada keadaan suci. Kembali bertauhid kepada Allah.

Sejak bersyahadat, Amr bin Ash mendedikasikan kecerdikan dan keberaniannya kepada agamanya yang baru, Islam. Ketika Rasulullah Saw wafat, Amr bin Ash sedang berada di Oman menjadi gubernur pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab Ra. Jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan di Syria, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.

Memang, Amr bin Ash dikenal sebagai Pembebas Mesir dari cengkraman Romawi. Di titik ini, ada yang perlu dicermati. Bahwa, Amr bin Ash sangat berharap penduduk Mesir (yang sedang terjajah) terhindar akibat buruk dari peperangan melawan sang penjajah yaitu Romawi. Jadi, saat membebaskan Mesir, dia berusaha agar perang terbatas yaitu hanya antara pasukannya melawan tentara Romawi saja.

Sebuah Catatan

Sekali lagi, siapakah Amr bin Ash? Postur tubuh, cara berjalan dan berbicaranya memang memberi isyarat bahwa dia diciptakan untuk menjadi pemimpin. Ada riwayat yang menyebutkan, bahwa suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra melihatnya datang. Umar Ra tersenyum melihat cara berjalan dari Amr bin Ash. Lalu dia berkata, bahwa tidak pantas Amr bin Ash berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir atau pemimpin.

Tentang kecakapannya memimpin, teruji. Ketika banyak bahaya besar datang mengancam kaum Muslimin, Amr bin Ash menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan cara seorang pemimpin yang cerdik. Dia memiliki kemampuan yang tinggi, yang dengan itu memiliki juga rasa percaya diri yang besar. Dia yakin dengan keunggulannya.

Amr bin Ash juga memiliki sifat amanah. Hal itu yang menyebabkan Umar Ra, seorang khalifah yang terkenal sangat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya, menetapkan dia sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir.

Pada perkembangannya, Amirul Mukminin Umar Ra mengetahui bahwa Amr bin Ash punya gaya hidup yang terbilang telah melampaui batas dari yang semestinya. Terkait, Sang Khalifah tidak memecatnya. Umar Ra hanya mengirimkan Muhammad bin Maslamah dan memerintahkannya agar membagi dua semua harta kekayaan Amr bin Ash. Separuh untuk Amr bin Ash, separuhnya lagi harus dibawa ke Madinah untuk Baitul Mal (2018: 593).

Pelajaran Penting

Pada tahun 43 Hijriyah Amr bin Ash wafat di Mesir, ketika masih menjabat gubernur di sana. Di saat-saat terakhir, dia mengemukakan riwayat hidupnya. Bahwa, pada mulanya dia adalah seorang kafir dan orang yang sangat keras terhadap Rasulullah Saw.

Amr bin Ash lanjutkan, seandainya dia meninggal pada saat itu, pasti dirinya masuk neraka. Kemudian, masih kata Amr bin Ash, dia berbaiat kepada Rasul Saw. Sejak itu, baginya, tidak seorangpun di antara manusia yang lebih dicintai dan lebih dimuliakan selain Nabi Muhammad Saw.

Lalu Amr bin Ash berdoa: ”Yaa Allah, aku tidak lepas dari kesalahan maka ampunilah aku. Aku tidak luput dari kelemahan, maka tolonglah diriku. Bila aku tidak memperoleh karunia-Mu, aku pasti celaka.” Dengan ucapan terakhir La ilaha illallah, dia berpulang ke Rahmatullah.

 Demikianlah, di Mesir Amr bin Ash dikebumikan. Sungguh, dari lelaki ini kita mendapat banyak pelajaran. Di antara pelajaran yang penting, sebagaimana yang dialaminya, bahwa siapapun yang kembali kepada ajaran Allah maka dia seperti kembali kepada fitrahnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *