Perumusan Paradigma Sains dan Teknologi Menurut Armahedi Mahzar

Oleh: Indra Ari Fajari

religionandscienceInpasonline.com-Aplikasi sains dalam dunia modern telah menghasilkan banyak teknologi yang menjadikan manusia lebih praktis, nyaman, dan aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, beberapa cendikiawan dan saintis punya gagasan sendiri tentang Islam dan Sains. Armahedi Mahzar berpendapat bahwa sains bisa disebut sebagai karunia untuk manusia yang tak tertandingi sepanjang zaman. Sementara itu, sains juga merupakan salah satu jalan untuk mencari kebenaran objektif. Walaupun demikian, sains cenderung menjadi otonom sehingga karenanya ia lebih sering dipandang sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran.

Biografi Armahedi Mahzar

            Armahedi Mahzar dilahirkan di Genteng, Jawa Timur, pada 1943. Dia lulus dari jurusan Fisika ITB pada 1972.Pernah belajar Geofisika di University of Arizona, Tucson, Amerika Serikat, pada 1974-1975, dan tamat program S2 Fisika sekolah Pascasarjana ITB pada 1984. Menjadi staf Dosen ITB jurusan Fisika 1972-1999. Kini, dia mengajar mata kuliah Philosophy of Science di Islamic College for Advanced Studies, Jakarta.

Hingga kini dia masih mengajar mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dan pernah menjadi Koordinator Kuliah Pengenalan Sains dan Matematika untuk Mahasiswa TPB Seni Rupa ITB. Dia juga pernah mengajar mata kuliah Seminar Studi Futuristik di Departemen Planologi ITB pada 1995-2002 dan memberi mata kuliah pilihan Pilsafat Ilmu di Biro Mata Kuliah Dasar Umum-kini Departemen Sosioteknologi ITB-pada 1993-2003.

Dia pernah menjadi editor konsultan Majalah Pustaka 1974-1978 dan editor konsultan Penerbit Pustaka Salman ITB sejak 1980. Dia adalah salah seorang anggota staf Lembaga Pengkajian Islam Masjid Salman ITB sejak 1991. Dulu, pernah menerjemahkan buku Islam Militan (Pustaka Salman, 1980). Dia juga pernah menulis dua buah buku: Integralisme sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam (Pustaka Salman, 1983) dan Islam Masa Depan (Pustaka salman, Bandung 1993). Di samping itu, dia juga banyak menulis pengantar untuk buku-buku yang diterbitan di Indonesia, baik karya asli maupun terjemahan.Lihat Mahzar, A. (2004). Revolusi Integralisme Islam. Bandung: Mizan. hal. xi-xii.

 

 

Sains dan Agama menurut perspektif ilmuwan

Beberapa ilmuan memandang sains dan agama sebagai berikut, Ian G. Barbour yang mencoba memetakan hubungan sains dan agama, menurutnya antara sains dan agama terdapat empat varian hubungan: konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Ian memilih hubungan yang keempat, yaitu integrasi, bahwa di antara sains dan agama tak ada dikotomi antara satu sama lainnya, namun pengamatan itu dibatasinya pada teologi Kristen bukan Islam dalam Barbour, I. G. (2005). Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama. Bandung: Mizan. hal. 9-11.

Sedangkan Dr. Mulyadhi Kertanegara seorang doktor filsafat lulusan Universitas Chicago berpendapat bahwa fondasi pemersatu yang mendasari integrasi-integrasi epistemologis, tidak lain daripada prinsip paling mendasar dalam seluruh ajaran Islam, yaitu Tauhid sebagai esensi peradaban Islam yang tanpanya lahirlah problem funademntal yang sangat mungkin lahir dari dikotomi ketat antara ilmu-ilmu agama dan sekuler. Sebagaimana Barat membatasi objeknya hanya pada entitas-entitas fisik, maka alat atau sumber yang mereka pakai untuk memperoleh pengetahuan tentang entitas-entitas fisik tersebut adalah indra-indra fisik dalam Kartanegara, D. M. (2005). Integrasi Ilmu. Bandung: Penerbit Arasy. hal . 32.

BACA JUGA  Indonesia Kuat Karena Umat Islam Bersatu

Lain halnya dengan Shaharir Mohamad Zain, seorang Profesor dalam bidang Matematika, Universiti Kebangsaan Malaysia yang menganalogikan konsep sains dengan konsep “objektivitas” dimana saintis dikatakan sebagai orang yang berusaha berpikir dan bekerja secara objektif. Kajian objektif sering disebut sebagai kajian kajian yang tidak dipengaruhi oleh emosi, cita rasa, budaya, kepercyaan, agama, atau pada umumnya tidak dpengaruhi oleh sistem masyarakatnya atau dirinya sendiri. Sebenarnya di Barat pun, usaha untuk mengintegrasikan sains dan agamanya (Kristen) telah dilakukan berdasarkan pengaruh kemajuan Islam yang mengesankan mereka pada abad ke-12 dan ke-13 (zaman pertengahan). Tetapi mereka gagal karena ketidak mampuan agama mereka dalam mengakomodasi sains. Hanya Islam saja yang berhasil mengintegrasikan agama dan sains sebagaimana tertulis dalam sejarah di abad ke-9 hingga abad ke-11 dalam Zain, S. M. (1987). Pengenalan SejarH dan Falsafah Sains. Kuala Lumpur: Sinar Ilmu. hal. 6-9.

Begitu pula Prof. Dr. Ir. AM Saefuddin menegaskan bahwa mayoritas pemikir Muslim sejak dekade 1970-an mencoba menggagas islamisasi sains. Dalam perspektif mereka, sains dan teknologi saat ini sudah terkontaminasi oleh peradaban Barat yang sekuler. Banyak usaha yang dilakukan oleh para mubaligh, ustadz atau bahkan aktivis dakwah kampus untuk melakukan usaha “mengislamkan” atau dakwah di kampus. Namun berbagai upaya tersebut belum cukup karena masih dilakukan secara sporadis, volunteer dan kurang terorganisasi. Para cendikiawan dan ulama dituntut agar memberikan landasan-landasan agama yang kuat dan tepat untuk komunitas kampus dan juga dituntut untuk mulai menyebarkan ide-ide dan metodologi sains dan teknologi yang islami. Dengan ketiga solusi di atas maka kampus sebagai gudangnya cendikiawan dan calon cendikiawan akan memiliki nuansa Islami sehingga ilmu pengetahuan dan teknologinya pun akan bermanfaat dalam Saefuddin, P. D. (2010). Islamisasi Sains dan Kampus. Jakarta: PPA Consultants. hal. 7-11.

Dan yang terakhir adalah gagasan guru besar Pendiri ISTAC yaitu Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, bahwa banyak kesamaan penting dari posisi kita dengan filsafat dan sains kontemporer, dalam hal sumber dan metode ilmu; kesatuan cara mengetahui secara rasional dan empiris, gabungan antara realisme, idealisme, dan pragmatisme sebagai landasan kognitif. Pengakuan kita (muslim) terhadap wahyu, sebagai satu-satunya sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran terakhir yang berkenaan dengan makhluk dan khaliqnya, memberikan landasan bagi suatu kerangka metafisika. Dalam kerangka inilah filsafat sains kita kembangkan sebagai sistem terpadu yang menerangkan realitas dan kebenaran itu dengan suatu cara yang tidak dapat dilakukan oleh metode-metode sekuler filsafat sains modern, yaitu rasionalisme filosofis dan empirisme filosofis dalam Al-Attas, P. S. (1989). Islam dan Filsafat Sains. Malaysia: Universiti Sains Malaysia. hal. 33-34.

Berdasarkan pemaparan para cendikiawan dan saintis di atas, baik Barat dan Timur terhadap Islam dan Sains sangat kontras. Di mana Barat mengembangkan sains hanya berdasarkan sumber indrawi, sedangkan Timur berdasarkan sumber wahyu ilahi dan juga indrawi. Meskipun awal kemajuan Barat lahir dari kekaguman terhadap para saintis muslim, tapi itu ternyata awal kebencian Barat untuk menghancurkan Timur dengan memisahkan Islam dan sains. Sehingga perlu adanya tindakan preventif untuk menghindari dikotomi Islam dan sains dengan cara Islamisasi sains di berbagai lembaga pendidikan terutama kampus yang mayoritas di dalamnya para cendikiawan dan calon cendikiawan.

BACA JUGA  Ibnu Sina, ‘Bapak Kedokteran’ yang Polymath

Paradigma Sains Alternatif Barat

            Dari zaman Yunani kuno terdapat konfrontasi antara paradigma atomisme Demokritos dan organisme Aristoteles dalam melihat alam semesta. Menurut paradigma Demokritos, alam semesta ini terdiri dari banyak bagian kecil yang tidak dapat dibagi lagi yang disebutnya atomos.Seluruh karakteristik benda-benda lainnya tidak lebih dari efek-efek gerak dan pertumbuhan atomos-atomos tersebut. Tetapi paradigma ini ditentang oleh Aristoteles yang menekankan adanya kesatuan-kesatuan organis yang mengatasi dan tidak dapat dijelaskan dengan melihat pada gerakan bagian-bagian.

Pandangan organisme Aristoteles telah mendominasi peradaban Barat dalam kurun waktu Kristiani selama lebih sepuluh abad. Dalam kurun yang disebut Sejarawan modern Barat sebagai masa kegelapan itu, Aristotelianisme telah menjadi satu dengan teologi Kristen ketika Renaisana menjadi marak pada abad ke-15, atomisme tak lama keudian mulai diminati lagi.

Atomisme menjadi populer, terutama ketika Isaac Newton mendobrak dominasi pandangan organismik di bidang Fisika dengan penemuan hukum-hukum dasar mekanika non-Aristotelian yang kini disebut sebagai mekanika klasik. Karena populernya pandangan ini sehingga ketika sang empu fisika bersabda bahwa cahaya adalah butiran-butiran, para ilmuwan membetulkan, kendati Christian Huygens menyanggahnya dengan menyajikan teori bahwa cahaya adalah gelombang.

Setelah itu muncullah aliran Holisme, sebuah aliran serba keseluruhan yang dipelopori oleh Jan Christian Smuts. Dia mencoba menyintesiskan teori evolusi Darwin dan teori relativitas Einstein untuk menerangkan evolusi materi maupun evolusi pikiran, bagi Smuts, keseluruhan adalah ciri pokok dari alam semesta yang mengarahkan seluruh proses alam semesta.

Perang Antaraparadigma Sains

Perdebatan di atas menjadi sebuah fenomena peradaban yang luar biasa yaitu perang antarparadigma. Beberapa peperangan paradigmatik ini meliputi organisme holistik dan komputasionalisme totalistik yang neoreduksionalisme. Mereka bersaing untuk menggantikan paradigma mekanisme materialistik yang sedang rancu bahkan mengalami dekonstruksi.

Front pertama perang antarparadigma Biologi yang dikomputasikan, alam semesta suatu saat akan menjadi komputer yang terus menyusut ukurannya menjadi mahakecil menuju titik omega. Tipler berspekulasi bahwa itulah akhir evolusi semesta. Dan baginya akhirat adalah kehidupan virtual dalam supermikrokomputer yang abadi di “dekat” titik omega. Intinya titik omega sebagai representasi matematis Tuhan maha pencipta.

Front kedua perang antarparadigma kosmologi yang dibiologikan, bagaimana jagat raya bisa melahirkan jagat raya baru adalah sebuah misteri. Contohnya konsep lubang cacing menurut Stephen William Hawking, berspekulasi bahwa lubang putih merupakan cikal-bakal jagat raya baru di luar jagat raya tempat lubang hitam berada. Berdasarkan prinsip geometri kuantum, lubang cacing itu bisa putus bagaikan tali ari bayi yang diputuskan dari rahim ibunya.

Big bang merupakan representasi dari lubang putih tadi yang menjadi bayi jagat yang baru yang lepas sama sekali secara fisik dari jagat ibunya. Pada akhirnya, jagat ini kemudian bisa melahirkan jagat baru baru sebagai cucu dari ibunya. Begitulah wawasan aneka jagat versi kosmologi chaotic seperti yang diajukan fisikawan Rusia, Andrei Linde. Dalam model Linde, dimungkinkan konfigurasi keadaan awal yang berbeda bagi anak-anak jagat yang dilahirkan ibunya.

BACA JUGA  Konsep Jiwa Menurut Islam

Berasarkan analogi biologis, hal itu dapat dipandang sebagai mutasi genetik. Perluasan imajinasi ini memungkinkan fisikawan Amerika. Lee Smolin mengajukan tori tentang Darwinisme Kosmik menyatakan tentang terjadinya seleksi atas-alam terhadap alam-alam baru, di mana alam yang paling subur adalah alam yang mengandung banyak lubang hitam. Di mana lubang hitam itu sendiri merupakan benih bagi lahirnya alam-alam yang lebih baru.

Front ketiga perang antarparadigma Komputasionalisasi Biologi dan Fisika, spekulasi kosmologi kuantum berujung pada paradigma biologi organismik ala Whitehead, teori tentang mekanisme perkembangan organisme ternyata berujung pada paradigma komputasional informatik.

Contohnya, Stuart Kauffman dari Santa Fe Institute melihat bahwa bukan otak saja yang merupakan sebuah komputer paralel, melainkan juga sel-sel saraf bahkan sel-sel biasa merupakan komputer paralel kimiawi yang paling kecil di alam semesta. Bahkan dalam skala besar, Daniel Dennet mengatakan bahwa evolusi merupakan sebuah algoritma.

Jika seperti ini, maka dapat disimpulkan bahwa paradigma komputasional secara bertahap telah merembes menduduki ilmu-ilmu lainmulai dari disiplin ilmu psikologi, melalui konsep Al (Artificial Intellegence), merambat ke disiplin ilmu Biologi melalui konsep A life. Dengan demikian, tidak sulit diramalkan bahwa disiplin ilmu fisika hanya menunggu gilirannya.

 

Paradigma Peradaban Islam Masa Depan

            Entitas krusial yang utama dan perlu diperhatikan dalam penyusunan pandangan dunia baru Islam adalah sejarah perkembangan teknologi yang telah memengaruhi format pandangan-dunia dominan pada suatu zaman.

Perkembangan Teknologi dan Pandangan Dunia

Teknologi Pandangan Dunia Karakteristik
Komunikasi lisan

Teori Fonetik

Tulisan Cetak

Elektronik audio

Elektronik audiovisual

Komputasi digital

Mitos

Filsafat/teologi

Sains

Ideologi

Imagologi

Hibrida

Metaforik asosiatif

Logis sistematis

Logis empiris

Logis pragmatis

Figural simbolis

Kombinasi

 

Contoh :

Era Mitologi : masyarakat perburuan dan berladang

Era Teologi: masyarakat monarki feodal

Era imagologi : masyarakat dunia yang didominasi oleh kapitalisme korporasi multinasional

Pandangan dunia baru dalam Islam yaitu kesepaduan alam-manusia-tuhan, memasukkan kembali relasi kepada Allah dalam bentuk din-Al-Islam sebagai ruh kolektif tubuh umat Muslim yang merupakan ummah wasathan atau pertengahan.

Melalui proses tazkiyah al-madaniyah adalah proses islamisasi peradabn, terhadap hubungan antara manusia dengan alam, melalui penyerasiannya kedalam kesepaduan, keserasian, dan keselarasan dengan din-al-Islam. Teknologi adalah representasi dari korelasi manusia dengan alam secara kolektif. Seni merupakan hubungan manusia dengan alam secara individual dan sains adalah hubungan manusia dengan alam secara universal.

Dalam paradigma ini, teknologi harus diintegrasikan ke dalam tasyakkur (bersyukur) sebagai bagian dari ta’abbud (pengabdian) kita kepada Allaah SWT, begitu pula sains dan seni harus diintegrasikan ke dalam ta’alum (belajar) sebagai bagian dari tasyahud (kesaksian) kita pada al-haqq sebagai kebenaran mutlak.

Perumusan yang paling realistis adalah mengakui bahwa teknologiinformasi komunikasi menuntut adanya masyarakat informasi yang mendukungnya. Intinya, yang harus dilakukan pertama kali adalah menetapkan pembentukan masyarakat informasi sebagai bagian integral pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara di negara-negara Muslim. Wallahu a’lam bishawa

No Response

Leave a reply "Perumusan Paradigma Sains dan Teknologi Menurut Armahedi Mahzar"