Pedoman Mengesankan tentang Isi Al-Qur’an

peta-al-quran-ilustrasi-thumbnail-min

Resensi buku oleh M. Anwar Djaelani, peminat masalah perbukuan

Judul           : Peta Al-Qur’an (The Quranic Mapping of Life)

Penulis        : Dr. Misy’al Abdul Aziz Al-Fallahi

Penerbit       : Pustaka Al-Kaustsar – Jakarta

Terbit          : Maret 2026

Tebal           : xiv + 596 halaman

inpasonline.com – Buku ini punya banyak manfaat. Pertama, bisa membuat kita lebih dekat kepada isi Al-Qur’an. Hal ini, karena dengan memahami isinya, kita lebih bisa menghayati saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kedua, kita bisa lebih mencintai Al-Qur’an. Kondisi ini, bisa terjadi karena kita menjadi lebih mengetahui berbagai pesan di dalamnya. Hal ini, karena buku ini berupaya memetakan isi Al-Qur’an sehingga kita dapat memahami tujuan dan tema besar yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, kita lebih terbimbing dalam menjelajahi kandungan Al-Qur’an secara relatif menyeluruh. Buku ini bisa menjadi panduan istimewa bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Al-Qur’an.

Bertujuan Mulia

Apa yang mendorong buku ini terbit? Kata si penulis buku ini, ”Ilmu paling agung dan tinggi kedudukannya secara mutlak adalah ilmu yang berkaitan dengan Kita Suci Allah”. Ilmu yang seperti ini merupakan kebutuhan mendasar dan sangat mendesak. Agar apa? ”Untuk mendekatkan pemahaman kita terhadap Wahyu Allah,” tegas Misy’al.

Lewat buku ini, Misy’al berusaha menampilkan persepsi yang transparan terhadap setiap Surat dalam Al-Qur’an. Lewat apa? Lewat penjelasan penulis terhadap tujuan tiap Surat, tema-tema yang terkandung di dalamnya, dan nilai-nilai di dalamnya (h.vii-viii).

Statistik Menarik

Buku dibuka dengan Data Statistik Al-Qur’an. Misalnya, ada 77.439 kosa kata dalam Al-Qur’an. Ada 321.250 huruf dalam Al-Qur’an. Lalu, apa kata terpanjang dan terpendek? Apa ayat Al-Qur’an yang turun terakhir kali?

Di bagian ini, juga ada klasifikasi Surat-Surat berdasarkan tempat turunnya. Begitu pula, berdasarkan panjang-pendeknya. Pun, berdasarkan pembukaannya (h.1-3).

Sang Pembuka

Sekarang, kita buka tentang Surat Al-Fatihah. Ini, Surat pertama dalam Al-Qur’an. Ini, Fatihah Al-Kitab (Pembuka Kitab Suci). Juga, Umm Al-Kitab (Induk Kitab Suci). Membacanya, rukun dalam setiap shalat (h.7).

Tujuan Surat, merealisasikan orientasi ibadah kepada Allah dengan sepenuh pengertiannya. Tema-temanya: 1).Mengenal Allah. 2).Mengenal Jalan Ibadah kepada Allah. 3).Menjelaskan berbagai kondisi mereka yang meniti Jalan Allah (h.8-13).

”Wajib” di Rumah

          Cukup banyak uraian menarik di Surat Al-Baqarah. Berikut ini sekadar sebagian saja. Bahwa, Al-Baqarah adalah Surat pertama dari tujuh Surat Al-Qur’an yang panjang. Proses turunnya, terbentang dari permulaan hijrah hingga Rasulullah Saw wafat.

          QS Al-Baqarah terbilang punya posisi khusus. Dalam riwayat Muslim, ada nasihat: ”Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah” (h.14).

          Apa tujuan Surat Al-Baqarah? 1).Memberikan penjelasan, bahwa Al-Qur’an adalah fondasi utama dalam membangun umat. 2).Menjelaskan sistim kekhalifahan (kepemimpinan) di bumi. 3).Memberi gambaran karakter orang-orang yang layak mengemban tugas kekhalifahan (h.15).

Kenali Musibah

          Bagaimana dengan Surat Al-Kahfi? Ini mungkin termasuk Surat yang paling mengundang penasaran. Tak lain, karena di setiap masuk hari Ju’mat, banyak di kalangan umat Islam yang saling mengingatkan tentang sunnah membaca QS Al-Kahfi di hari itu.

          Tujuan Surat, menjelaskan strategi dalam menghadapi dan berinteraksi dengan berbagai fitnah dan musibah. Berikut ini, tema-temanya:

          Pertama, tentang musibah termasuk saat menegakkan agama Allah. Lihat Ashabul Kahfi, kisah para pemuda beriman yang harus memisahkan diri dari masyarakatnya. Allah menjaga dan melindungi mereka.

          Kedua, tentang musibah harta-benda. Lihat kisah seorang pemilik kebun yang mendapat karunia Allah rezeki yang melimpah. Sayang, dia terpedaya dan lupa Allah. Dia melampaui batas, sombong, dan kufur kepada Allah. Akhirnya, semua yang dimilikinya musnah.

Ketiga, tentang musibah (fitnah) ilmu. Di sini ada kisah Nabi Musa As dan Nabi Khidir As. Bahwa, Allah telah menginformasikan kepada Nabi Musa As tentang dirinya yang merupakan paling berilmu di dunia ini. Hanya saja, Allah mengingatkan bahwa tetap saja ada yang lebih berilmu yaitu Nabi Khidir As.

Dengan ilmu, pesan Misy’al, hendaknya kita rendah hati kepada hamba-hamba Allah, seraya memohon pertolongan dan keteguhan kepada-Nya. Bersungguh-sungguhlah, agar dapat menunaikan tugas dan tanggug-jawabnya, tegas Misy’al (h.219).

Keempat, tentang musibah kekuasaan. Dalam hal ini, hendaknya kita seperti yang tergambar dalam kisah Dzulkarnain. Dia seorang raja yang ahli ibadah dan terpuji. Allah melimpahkan kekuasaan kepadanya dan memudahkannya dalam memperkuat kerajaanya (h.219).

Alhasil, berhati-hatilah! Iblis merupakan sumber semua musibah di bumi ini. Tentang ini, bisa kita cermati QS Al-Kahfi [18]: 50. Untuk itu, jadikan QS Al-Kahfi sebagai panduan mengatasi berbagai musibah di atas (h.270-271).

Lebih Kenal

Surat lain, boleh jadi termasuk juga yang dicari penjelasannya yaitu QS Al-Mulk. Hal ini, karena membaca Surat Al-Mulk di malam hari adalah suatu kebaikan. Surat ke-67 ini termasuk Makkiyah dan terdiri dari 30 ayat.

          Apa tujuan QS Al-Mulk? Tujuannya, untuk mengenal Allah melalui fenomena-fenomena yang menunjukkan Kerajaan, Keagungan, dan Kekuasaan Allah di alam semesta (h.486).

          Tema-temanya: Pertama, menegaskan keagungan Allah dan kuasa-Nya dalam menghidupkan dan mematikan. Kedua, menegakkan bukti dan dalil atas keesaan Allah. Ketiga, menerangkan akhir kesudahan orang-orang yang mengingkari Hari Kebangkitan (h.486-488).

Secarik Catatan 

Buku ini terbit kali pertama di Syria pada 2022. Penerbitnya, Darul Qalam – Damaskus. Di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar Jakarta meluncurkan edisi pertama terjemahannya pada Maret 2026.

Buku ini patut kita apresiasi, antara lain karena mampu membantu proses tadabbur kita kepada Al-Qur’an. Meski bukan kitab tafsir, dengan buku ini kita bisa menjadi lebih mudah dalam usaha memahami Al-Qur’an. Ini, memang tujuan penulisannya.

Buku ini semacam gerbang masuk, yang memudahkan kita sebelum sampai kepada kajian yang lebih mendalam. Untuk itu, mengingat uraian di buku ini yang ringkas, kita perlu merujuk kepada kitab-kitab lain.

          Untuk edisi cetak ulang, ada baiknya dilengkapi hal-hal yang sekiranya menjadi fokus dari sebagian orang. Salah satu contohnya, tentang Ayat Kursi. Ayat ke-255 dari QS Al-Baqarah ini, dikatakan oleh buku ini sebagai ”Ayat yang paling agung” (h.32). Mengapa ”paling agung”?

Apapun, buku ini bermanfaat. Buku ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan seperti santri, pelajar, mahasiswa, aktivis dakwah, maupun masyarakat umum. Semua akan terbantu dalam aktivitas mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an. Selamat membaca! []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *