Kaidah-Kaidah Cinta yang Menggugah

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Keluarga Sakinah Perindu Jannah

cinta-telah-mengubahku

Judul buku  : Cinta Telah Mengubahku

Penulis        : Adham Syarqawi

Penerbit       : Pustaka Al-Kautsar Jakarta

Tahun terbit : Januari 2025

Tebal           : x + 225 halaman

inpasonline.com – Ini buku apik, karya penulis asal Palestina. Dia pemilik gelar Master dalam sastra Arab. Juga, seorang motivator dan penulis best seller internasional. Di dalamnya, setiap kaidah cinta dilengkapi kisah-kisah asyik. Misal, ada kaidah: Cinta Mengubah Kita. Lalu, kaidah apa sajakah yang lain?

          Tema cinta, selalu menarik dibicarakan. Bahkan, para ulama juga turut menuliskannya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, misalnya, menulis buku Raudhatul Muhibbin (Taman Para Pecinta).

Buku Adham Syarqawi ini berisi puluhan kaidah cinta. Kita buka pendahuluannya. ”Saya memberitahumu sumber setiap cerita sebelum memulainya. Jadi, kamu tidak akan menemukan apapun kecuali yang menenangkan hatimu,” kata Adham (h.5).

Masih Ada Esok

Lihat, kaidah pertama: Kamu Layak Mendapatkan Kesempatan Kedua. Jangan pernah berpikir bahwa kita satu-satunya orang yang terluka, kehilangan, atau dikhianati di dunia ini. Setiap orang memiliki luka yang sama atau mirip dengan yang kita dapatkan.

Pernah, pernah seseorang melihat perempuan di padang pasir yang bagi dia kecantikannya tak ada yang melebihinya.

”Demi Allah pasti dunia ini berlaku baik padamu,” sapa seseorang itu.

”Tidak, demi Allah,” respons si perempuan.

Lalu, perempuan itu melanjutkan. Bahwa, dia punya seorang suami dan dua anak laki-laki. Suatu hari si suami (ayah kedua anak itu) menyembelih seekor kambing pada Hari Raya Idul Adha. Sementara, kedua anak itu melihatnta.

Belakangan, kedua anak itu bermain. Anak yang lebih tua berkata kepada adiknya, ”Apakah kamu ingin saya menunjukkan bagaimana ayah menyembelih kambing?”

”Ya,” jawab sang adik.

Lalu, secara tidak sengaja si kakak menyembelih sang adik.

Ketika melihat darah, si kakak ketakutan dan lari ke arah gunung. Di ketinggian, dia dimakan serigala.

Sang ayah lantas keluar untuk mencarinya. Namun, dia terjatuh dan meninggal.

”Bagaimana kamu menghadapi semua ini dengan kesabaran,” tanya seseorang itu kepada si perempuan.

”Seandainya aku mengikuti perasaanku, maka aku akan tetap berduka. Namun, itu hanyalah luka yang akhirnya pulih,” jawab si perempauan (h.9).

Pilu, Tutup!

Masih pada kaidah pertama, Kamu Layak Mendapatkan Kesempatan Kedua. Hendaknya, kita jangan sampai tertipu penampilan. Manusia itu seperti buku. Di dalamnya ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui hanya dengan melihat sampulnya saja.

Bahkan mereka yang menulis tentang cinta untuk kita, yang memberitahu kita bagaimana mereka bahagia karenanya, dan yang mengajarkan kepada kita bagaimana kita juga bisa bahagia dengannya, mereka pun sebenarnya memiliki duka sendiri. Namun, mereka memberi diri mereka kesempatan kedua untuk mencintai dan dicintai lagi (h.10).

Mengiringi paragraf di atas, Adham lalu menukil Kitab Thauq Al-Hamamah karya Ibnu Hazm. Kata Adham, jika kita melihat performa Ibnu Hazm hampir yakin bahwa dia seseorang yang hatinya tak pernah terluka. Yakin bahwa hidupnya serba indah dengan menggamit buah-buah manis dari pohon cinta.

Padahal, Ibnu Hazm memiliki catatan luka yang dalam di hatinya. Dia ditinggal wafat oleh yang dia cintai, Nugham namanya. ”Cintaku padanya telah menghapus semua cinta sebelumnya dan mengharamkan semua cinta sesudahnya,” kata Ibnu Hazm. Meski begitu, Ibnu Hazm tetap melanjutkan hidupnya. Dia menikah dan memiliki anak.

Menutup kisah Ibnu Hazm, ini kata Adham: ”Kamu tidak akan menemukan bagian dari kebahagiaan yang tersisa untukmu dalam perjalanan hidup ini selama kamu terus membuka pintu untuk perasaan pilu” (h.11).

Mengubah, Positif!

Sekarang, kaidah ketiga: Cinta Mengubah Kita. Bahwa, betapa banyak kelembutan dalam diri kita yang sebelumnya tidak kita sangka ada. Namun, ketika kita jatuh cinta, kita menemukannya. Begitu juga dengan kekerasan hati yang kita anggap sebagai sifat dasar kita. Namun, cinta mampu menjinakkannya.

Betapa sering kita merasa terlalu besar harga diri kita untuk memaafkan. Namun, cinta membuat kita memaafkan. ”Tidak ada yang melewati cinta tanpa berubah setelahnya. Saya tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa cinta membuat kita mengenali diri kita sendiri,” kata Adham (h.33).

Dulu, di Persia ada seorang raja. Dia memiliki putra yang ia siapkan untuk menjadi raja. Namun sang putra, si pemuda, tumbuh menjadi seorang yang tidak bersemangat, pemalas, dan tidak beretika.

Sang raja lalu mempercayakan putranya kepada sejumlah guru dan cendekiawan untuk mendidiknya. Sayang, untuk waktu yang cukup lama tidak ada perubahan.

Sampai suatu saat si pemuda jatuh hati kepada seorang perempuan, anak salah seorang pejabat. Tahu tentang itu, diaturlah skenario. Lewat serangkaian komunikasi yang telah diatur, sampailah kepada sebuah fragmen saat si pemuda mendengar bahwa gadis impiannya itu tidak layak untuk seorang seperti dirinya yang tidak memiliki kualitas raja (h.35).

Sejak itu, si pemuda alias sang pangeran, mulai aktif belajar. Dia pelajari aneka ilmu, belajar sopan-santun, mendalami kebijaksanaan, serta melatih kemampuan berkuda dan memanah. Hasilnya, dia unggul di semua hal tersebut.

Perkembangan selanjutnya, sang pangeran menikah dengan perempuan idamannya itu. Keduanya berbahagia. Tentu saja, hal yang demikian membuat sang raja bahagia juga.

Sungguh, cinta berhasil mengubah seorang. Bahwa, seorang pemuda yang dulunya suka bersenang-senang dan tidak bertanggung jawab menjadi seorang yang layak untuk memerintah dan menjadi raja (h.36).

Mengubah, tapi!

Kisah di atas, cinta mengubah seseorang, dalam artian postif. Sekarang, kita bandingkan dengan kisah berikut ini. Kisah, yang mengharuskan kita ekstrahati-hati.

Dikisahkan oleh Ibnu Jauzi dalam bukunya, Dzammu Al-Hawa (Celaan terhadap Hawa Nafsu). Ada seorang lelaki Muslim yang jatuh cinta pada seorang perempuan Nasrani. Cintanya begitu kuat hingga merusak akal sehatnya.

Lelaki tersebut akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Di situ dia tinggal selama beberapa waktu. Temannya sering mengunjunginya.

Suatu hari, lelaki itu sekarat. Dia berkata kepada temannya, ”Saya telah kehilangan harapan untuk bertemu dengan Si Fulanah di dunia ini. Saya khawatir tidak akan bertemu dengannya di akhirat karena saya seorang Muslim. Oleh karena itu saya bersaksi di hadapanmu bahwa saya telah masuk agama Nasrani”. Lalu, dia meninggal.

Tak lama setelah itu, pada kesempatan yang berbeda, si teman tadi mendengar kabar tentang Si Fulanah. Perempuan tersebut ternyata juga mencintai lelaki Muslim itu. Perempuan tersebut berkata, ”Saya telah kehilangan harapan untuk bertemu dengannya di dunia. Saya khawatir tidak akan bertemu dengannya di akhirat karena saya seorang Nasrani. Oleh karena itu saya bersaksi di hadapan kalian bahwa saya telah masuk agama Islam”. Lalu, dia meninggal (h.36).

Sekadar Perhatian

Kaidah kesebelas, Kenikmatan Terletak pada Memberi, bukan Menerima. Lihatlah, peristiwa asyik ini. Suatu ketika pada Hari Raya, orang-orang Habasyah (Ethiopia) memasuki masjid. Mereka bermain dengan tombak.

Nabi Muhammad Saw berkata kepada Aisyah Ra, ”Apakah engkau ingin melihat mereka?”

Aisyah Ra menjawab, ”Ya”.

Nabi Saw berdiri di pintu masjid, lalu Aisyah Ra meletakkan dagunya di pundak sang suami dan menempelkan pipinya pada pipi Muhammad Saw. Keduanya mulai melihat permainan tombak.

 Setelah beberapa waktu, Nabi Saw berkata, ”Cukupkah?”

”Wahai Rasulullah, jangan tergesa,” kata Aisyah Ra.

Nabi Saw pun tetap berdiri sampai Aisyah Ra puas menonton permainan tombak.

Sungguh, dialog suami-istri di atas indah. Itu, sebuah fragmen yang sederhana tapi memberikan pelajaran yang sangat berkesan. Pelajaran tentang keutamaan memberi, apapun wujudnya (h.113).

Apik dan Asyik

Di buku ini ada 26 kaidah cinta. Kaidah-kaidahnya masuk di hati. Penjelasannya, lewat kata-katanya, elok. Kisah-kisah yang mendukung kaidah cinta yang disampaikan, benar-benar bisa menggugah.

Alhasil, buku terjemahan dari Khamsuuna Qaanuunaa Lilhubbi ini, bisa dibaca semua kalangan. Dapat dinikmati tua dan muda. Bagi yang masih belum berkeluarga, sangat bermanfaat. Untuk yang sudah berumah-tangga potensial menguatkan cinta suami-istri. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *