Skeptisisme dan Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis atas Pengaruh Skeptisisme terhadap Konsep World Theology dan Global Theology
Oleh : Ahmad Saifulloh
A. Pendahuluan
Sejak berakhirnya perang dunia ke-2, perseteruan ideologi dan konflik yang terjadi antara kapitalisme dan komunisme telah mempengaruhi situasi politik dunia. Negara-negara di dunia ketiga menjadi terkotak-kotak berdasarkan sikap politiknya; pro terhadap Amerika atau Uni Soviet. Pada perkembangan berikutnya, kapitalisme keluar sebagai pemenang yang ditandai dengan jatuhnya Uni Soviet dan kemudian disusul dengan berdirinya pemerintahan negara-negara baru. Kemenangan ini memunculkan sebuah sistem global (baca: globalisasi) yang berfungsi menyebarkan ideologi kapitalisme ke negara-negara non kapitalis. Ideologi tersebut menjelma sebagai sebuah kekuatan yang menurut Malcolm Waters dapat digunakan untuk mengurangi atau bahkan menghapus otoritas agama, politik, dan militer.[1]
Humanisme dan Implikasinya Bagi Wacana Syari’ah Kontemporer
Oleh Zulkarnain (Peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) ISID Gontor
A. Pendahuluan
Nilai-nilai Humanisme seakan sudah menjadi trend masyarakat saat ini. “Lebih baik tidak religius tapi humanis, dari pada religius tapi tidak humanis”, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia”[1] adalah bentuk ungkapan dari para pengusung humanisme. Ungkapan ini mencerminkan keapatisan terhadap agama, sehingga mengangap dengan beragama, menjadikan orang tidak manusiawi. Paham ini selalu mendengung-dengungkan kemanusiaan, kebebasan, persamaan sehingga segala sesuatu hanya untuk manusia. Kebaikan bagi mereka cukup dengan mengabdi kepada manusia, tanpa harus menyembah Tuhan.[2] Doktrin semacam ini seakan sudah menjadi pijakan baru bagi masyarakat saat ini, sehingga secara tidak sadar menggeser peran agama.
Filsafat Islam, Arab atau Muslim?
Di abad keduapuluh hingga sekarang ini, para ahli ketimuran dan keislaman masih belum sepakat mengenai istilah yang tepat dan seharusnya digunakan apabila kita bicara tentang filsafat yang digeluti golongan ahli pikir dari umat Islam. Sebagian orientalis lebih suka menyebutnya ‘filsafat Arab’ (Arabic Philosophy). Ernest Renan, Dimitri Gutas, Peter Adamson yang mewakili kelompok ini beralasan bahwa filsafat yang tumbuh berkembang di dunia Islam adalah hasil sebuah proses intelektual yang panjang dan rumit, dimana para sarjana Muslim maupun non-Muslim (terutama Yahudi dan Nasrani) turut aktif mengambil bagian.
Kritik Konsep Teologi Humanisme Hasan Hanafi
A. Pendahuluan
Secara umum humanisme merupakan suatu paham yang memandang bahwa, manusia adalah standar segalanya. Paham ini meniscayakan penghapusan agama[1] bahkan Tuhan[2] sekalipun. Agama[3] bagi humanis diyakini sebagai sekat yang menutup kesadaran manusia[4]. Maka untuk memperoleh kesadaran penuh diperlukan kebaranian menghapuskan agama, sehingga manusia tidak perlu lagi beragama.
Analisis Kritis Metodologi Penafsiran Ayat-Ayat Al Qur’an Farid Esack
Oleh:
Abdul Hakim (Peserta PKU Gontor Angkatan IV)
A. Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan kalam Ilahi yang terjaga sampai akhir zaman.[1] Seluruh ulama memahami al-Qur’an sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, untuk mencapai ridha-Nya. Dalam mencapai itu semua dibutuhkan pemahaman terhadap Al-Qur’an maka munculah ilmu tafsir sebagai suatu metode memahami al-Qur’an beserta perangkat perangat ilmu lain sebagai pendukungnya, seperti Ulumul Qur’an, Ulumul hadist, Ilmu Nahwu, dan perangkat lainnya. Semua berjalan berabad-abad lamanya sampai sekarang. Perangkat ilmu itu sudah mapan dan sudah sesuai dengan Islam.