Adab Sebelum Ilmu; Fondasi Penting dalam Menuntut Ilmu

Adab Sebelum Ilmu Fondasi Penting dalam Menuntut Ilmu

Oleh Mahmud Budi Setiawan, Lc

Adab Sebelum Ilmu Fondasi Penting dalam Menuntut Ilmu

inpasonline.com – “Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu, dan tidak akan mengambil manfaat darinya, kecuali dengan mengagungkan ilmu, dan ahli ilmu, serta mengagungkan guru, dan menghormatinya”

(Burhanuddin az-Zarnūji, Ta’līmu al-Muta’allim fī Tharīq al-Ta’allum, 2014: 55)

Dalam pendidikan modern, fokus belajar seringkali tertuju pada perolehan informasi dan gelar akademis semata. Siswa berlomba mengejar nilai tinggi dan peluang karir. Namun, ada dimensi amat vital yang kerap terlupakan: adab. Adab, atau etika luhur, bukanlah sekadar pelengkap, melainkan prasyarat fundamental yang menentukan keberkahan dan kemanfaatan ilmu. Ia adalah cerminan kemuliaan batin seorang pencari ilmu.

Untuk memahami urgensinya, mari kita perhatikan di antara definisinya. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Jilid 10, halaman 400) mendefinisikan adab sebagai: “Mengambil akhlak-akhlak yang mulia.” Sedangkan ilmu adab, menurut Al-Hafizh Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin (Jilid 2, halaman 368), adalah: “Ilmu yang memperbaiki lisan dan tutur kata, menempatkannya pada tempat yang tepat, memperindah ungkapan, serta menjaganya dari kesalahan dan kekeliruan.

Posisi adab bagi penuntut ilmu demikian istimewa. Ibnul Qayyim melanjutkan: “Adab seseorang adalah pertanda kebahagiaan dan keberhasilannya, sementara kurangnya adab adalah pertanda kesengsaraan dan kehancurannya. Tidak ada kebaikan dunia dan akhirat yang dapat diraih semisal adab, dan tidak ada yang dapat menghalanginya seperti kurangnya adab” (Madarij as-Salikin, Jilid 2, halaman 368). Ini menunjukkan bahwa adab adalah kunci pembuka segala kebaikan.

Sang Teladan

Dalam khazanah keilmuan Islam, adab terbagi menjadi dua jenis: adab alami, yang Allah anugerahkan sejak lahir, seperti sifat sabar dan tenang yang Nabi SAW sebutkan pada Al-Mundzir Al-Asyaj (riwayat Abu Daud). Lalu ada adab yang diusahakan, yang diperoleh melalui belajar dan berinteraksi dengan orang-orang shaleh dan berilmu.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri adalah teladan adab tertinggi, sebagaimana Sufyan bin Uyainah berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ؛ فَعَلَيْهِ تُعْرَضُ الْأَشْيَاءُ، عَلَى خُلُقِهِ وَسِيرَتِهِ وَهَدْيِهِ، فَمَا وَافَقَهَا فَهُوَ الْحَقُّ، وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ الْبَاطِلُ.

Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah timbangan terbesar; segala sesuatu ditimbang padanya, pada akhlak, sirah, dan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya adalah kebenaran, dan apa yang menyalahinya adalah kebatilan” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 79). Bahkan, ilmu itu sendiri adalah adab dari Allah yang diajarkan kepada Nabi-Nya, lalu Nabi mengajarkannya kepada umatnya seperti penuturan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri.

Serius dan Panjang

Dalam sejarah peradaban Islam, adab sangat penting nilainya. Bagi para ulama salaf, adab adalah kurikulum inti yang dipelajari dengan kesungguhan, bahkan melebihi ilmu-ilmu lainnya. Mereka meyakini adab sebagai fondasi pemahaman dan keberkahan ilmu. Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah pernah berkata: “Dahulu seseorang, jika ingin menulis hadits, dia akan beradab dan beribadah selama dua puluh tahun sebelumnya.” (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, Jilid 6, halaman 361). Ini menunjukkan betapa panjangnya proses pembentukan adab.

Selain itu, Abdullah bin Mubarak Rahimahullah-salah satu ulama terkemuka-, seperti yang diriwayatkan oleh Makhlad bin Al-Husain bahwa ia berkata: “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 80).

Ibnu Mubarak juga sangat menghargai adab: “Jika digambarkan kepadaku seorang laki-laki yang memiliki ilmu orang-orang terdahulu dan yang terakhir, aku tidak akan menyesal jika tidak bertemu dengannya. Tetapi jika aku mendengar seorang laki-laki yang memiliki adab jiwa, aku sangat berharap untuk bertemu dengannya dan menyesal jika tidak sempat” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Jilid 3, halaman 552).

Beliau bahkan memperingatkan: “Barang siapa meremehkan adab, ia akan dihukum dengan terhalangnya dari sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah, ia akan dihukum dengan terhalangnya dari kewajiban. Dan barang siapa meremehkan kewajiban, ia akan dihukum dengan terhalangnya dari makrifat” ( Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 80). Perhatikan, betapa ada konsekuensi serius ketika orang dalam pendidikan mengabaikan adab, sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Mubarak tadi.

Para Tabi’in pun sangat memperhatikan adab. Muhammad bin Sirin menggambarkannya sebagai berikut: “Mereka mempelajari petunjuk (tingkah laku) sebagaimana mereka mempelajari ilmu” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 79). Ini semakin memperkuat bahwa adab itu sebelum ilmu. Ketika orang mau belajar suatu keilmuan, maka adabnya harus diketahui dan dipelihara.

Beliau juga menegaskan: “Merupakan keharusan bagi siapa saja yang mencari ilmu untuk memiliki kewibawaan, ketenangan, dan rasa takut (kepada Allah), serta mengikuti jejak para pendahulu” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 156). Ini juga menunjukkan betapa pentingnya adab dalam menuntut ilmu.

Sedemikian pentingnya adab, bahkan Ibnu Wahb berkata: “Apa yang kami ambil dari adab Imam Malik lebih banyak daripada apa yang kami pelajari dari ilmunya” (Al-Hafizh Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, Jilid 8, halaman 113). Ini sebagai gambaran betapa pola pendidikan zaman ulama shaleh terdahulu, begitu mementingkan adab sebelum berilmu.

Menariknya, keteladanan adab ini terus berlanjut. Di majelis ilmu Imam Ahmad, banyak yang datang bukan untuk menulis, melainkan untuk belajar adab dan ketenangan dari beliau (Siyar A’lam An-Nubala, Jilid 11, halaman 316). Contoh lain, murid Abdullah bin Mas’ud Ra bahkan sengaja mengamati tingkah laku dan ketenangan beliau untuk ditiru (Gharibul Hadits, Jilid 1, halaman 384).

Ibrahim An-Nakha’i menegaskan bahwa mereka akan melihat tingkah laku, shalat, dan kondisi seorang syekh sebelum mengambil ilmu darinya (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 28). Bayangkan! Sebelum belajar, mereka memastikan terlebih dahulu apakah calon gurunya adabnya sudah bagus sehingga layak dijadikan guru.

Saling Terkait

Dampak dari buruknya adab tidak hanya merugikan individu, tetapi juga bisa meluas terhadap masyarakat dan persepsi mereka terhadap ilmu. Lemahnya adab dapat menyebabkan seseorang menyimpang dari jalur ilmu dan ajaran agama serta menimbulkan  perilaku yang merendahkan martabat ilmu.

Al-Khatib Al-Baghdadi menegaskan: “Wajib bagi penuntut hadits untuk menjadi orang yang paling sempurna adabnya, paling tawadhu, paling bersih dan agamis, paling sedikit kecerobohan dan kemarahannya” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, Jilid 1, halaman 78).

Jika penuntut ilmu tidak menunjukkan adab yang baik, masyarakat tidak akan menghormati ilmu yang dibawa. Adab seorang penuntut ilmu adalah cerminan langsung dari kemuliaan ilmu yang ia pelajari.

Penting untuk dipahami bahwa adab dalam menuntut ilmu adalah bagian tak terpisahkan dari penghormatan terhadap syariat. Ilmu agama bersumber dari wahyu Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kurangnya adab saat mempelajari Al-Qur’an dan Hadits menunjukkan kurangnya rasa takzim kepada Allah dan Rasul-Nya. Menghormati ilmu dan syariat akan mengangkat derajat penuntut ilmu di mata masyarakat dan, yang lebih penting, di hadapan Allah SWT.

Salah satu aspek penting adab adalah menjaga kehormatan para ulama. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits Qudsi:

إن الله قال: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ (أَعْلَمْتُهُ) بِالْحَرْبِ.

Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah menyatakan perang terhadapnya’” (HQR Bukhari).

Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Wali Allah adalah orang yang mengenal Allah, taat, dan ikhlas (Fathul Bari, Jilid 11, halaman 343). Para ulama yang tulus dan beramal adalah pewaris para Nabi. Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Jika bukan fuqaha yang beramal adalah wali-wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali” (Siyar A’lam An-Nubala, Jilid 10, halaman 53).

Abdullah bin Mubarak mengingatkan: “Barang siapa meremehkan ulama, maka akhiratnya akan sirna” (Siyar A’lam An-Nubala, Jilid 8, halaman 408). Bahkan, mencela ulama bisa mengakibatkan penolakan terhadap kebenaran, merendahkan ilmu, menjauhkan pelajar dari ulama, dan mengurangi wibawa mereka di masyarakat.

Penuntut ilmu adalah pewaris para Nabi. Gelar mulia ini membawa tanggung jawab besar. Para Nabi diutus menyempurnakan akhlak. Oleh karena itu, pewaris mereka harus menjadi teladan adab, memancarkan akhlak mulia yang mencerminkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Mereka harus menjadi mercusuar yang memancarkan cahaya ilmu dan adab.

Sangat Penting

Adab, dengan demikian, bukanlah sekadar pelengkap melainkan fondasi esensial dan tak tergantikan dalam menuntut ilmu. Ia adalah kunci pembuka pemahaman, penangkal kesombongan, dan penjamin keberkahan ilmu yang abadi. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi beban. Dengan adab, ilmu akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, membawa kemuliaan, dan memberikan manfaat tak terhingga.

Sebagai penutup, kata-kata Imam Malik bin Anas dalam menasihati seorang pemuda Quraisy ini sangat relevan untuk dijadikan renungan:

يَا بْنَ أَخِي، تَعَلَّمِ ٱلْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ ٱلْعِلْمَ

Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu” (Hilyatul Auliya, Jilid 6, halaman 330). Jadi, adab adalah pondasi penting sebelum menuntut ilmu. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *