Imam Zarnuji dan Buku Ta’limul Muta’allim yang Legendaris

Imam Zarnuji dan Buku Ta'limul Muta'allim yang Legendaris

Oleh M. Anwar Djaelani

talimul mutaalim

          inpasonline.com – Imam Zarnuji adalah ulama dan pendidik yang sangat terkenal, termasuk di Indonesia.  Bukunya, dipelajari dan dikaji di Timur dan Barat. Di Indonesia, bukunya dipakai secara luas di pesantren-pesantren. Juga, dimanfaatkan di banyak lembaga pendidikan lainnya.

          Salah satu versi terjemahan dari buku yang dimaksud, berjudul Ta’limul Muta’allim; Pentingnya Adab Sebelum Ilmu. Itu, diterbitkan Aqwam Solo. Di tahun 2019 saja, terbit edisi cetakan I pada April. Lalu pada Agustus, masih di tahun 2019, telah terbit cetakan VI.

          Banyak tokoh yang memberikan kesaksian sangat baik terhadap Imam Zarnuji dan karyanya. Itu kitab yang ”Sangat bagus dan bermanfaat,” kata Abdul Hayyi Al-Hindi (w.1304). Sementara, Edward Van Dyck memberikan penghormatan kepada  Imam Zarnuji dan karyanya lewat catatannya bahwa, buku itu telah dicetak di berbagai negara atau kota besar dunia. Misalnya, dicetak di Mesir dan Konstantinopel. Juga, sebagai contoh, dicetak juga di Kota Leipzig (Jerman) dan Kota Murshidabad (India).

          Kalangan santri Indonesia pasti tidak asing dengan kitab Ta’limul Muta’alim karya Imam Zarnuji. Ini, karena buku itu telah menjadi semacam ”pegangan wajib”.

          Kitab fenomenal ini berisi tentang pentingnya adab sebelum ilmu. Isinya bermanfaat bagi para pecinta ilmu yang ingin mengetahui rahasia adab dan cara belajar ilmu yang benar. Kitab Ta’limul Muta’alim merupakan salah satu buku paling tua dalam jajaran literasi Islam yang membahas tarbiyah (pendidikan). Kitab ini menjadi buku wajib di beberapa pesantren yang menekankan pentingnya adab sebelum ilmu (https://mualliminenamtahun.net/ 10 Januari 2021).

Latar Belakang

          Kita buka buku Ta’limul Muta’allim; Pentingnya Adab Sebelum Ilmu. Apa latar belakang penerbitan buku itu?

          Banyak penuntut ilmu yang sudah bersungguh-sungguh tapi tidak sampai juga kepada ilmu. Mereka tidak mendapatkan manfaat dari ilmunya serta tidak mengamalkan dan menyebarkannya. Di samping itu, mereka juga keliru dalam menempuh jalan untuk mencari ilmu. Mereka juga meninggalkan syarat-syarat maupun adab-adab serta hal lain terkait dengan menuntut ilmu.

          Atas fakta di atas itu Imam Zarnuji menulis Ta’limul Muta’allim. Dalam buku tersebut beliau menjelaskan cara menuntut ilmu seperti yang beliau pahami dari buku-buku serta dari guru-gurunya yang memiliki ilmu dan hikmah. Harapannya, agar para penuntut ilmu mendapatkan manfaat dan keberkahan dari ilmu yang dicarinya. Juga, supaya mendapatkan kemenangan dan keselamatan pada hari kiamat.

          Buku dimulai dari penjelasan tentang definisi ilmu dan fiqih beserta keutamaannya. Lalu, tentang meluruskan niat ketika belajar. Tentang cara memilih ilmu, guru, teman. Juga, tentang mengagungkan ilmu dan ulama. Ada juga penjelasan tentang hal-hal yang mempermudah hafalan dan yang menyebabkan lupa. Di bagian akhir buku, juga dijelaskan tentang hal-hal yang mendatangkan dan menjauhkan rezeki, serta memperpanjang dan mengurangi usia.

          Buku ini banyak menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Juga, banyak memakai Hadits. Pun, memanfaatkan syair-syair yang mendukung pemikiran Imam Zarnuji dalam pendidikan  (2019: iv-v).

Ilmu dan Pendidikan

          Tentang hal yang terkait kewajiban menuntut ilmu. Kita baca pasal 1 yang berjudul Definisi Ilmu, Fiqih, dan Keutamaannya. Hal yang pasti, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang Muslim dan Muslimah. Hanya saja, menurut Imam Zarnuji, setiap Muslim dan Muslimah tidak berkewajiban mempelajari semua ilmu tetapi berkewajiban mempelajari ilmu yang mereka butuhkan saat itu. Kata dia, ilmu yang paling utama adalah ilmu yang dibutuhkan saat itu dan sebaik-baik amal adalah menjaga (amal) yang dituntut saat itu (2019: 35-36).

          Apa konsep pendidikan akhlak menurut Imam Zarnuji? Dalam hal ini, ada kajian berjudul Konsep Pendidikan Akhlak dalam Kitab Ta’lim Muta’allim Karangan Imam Az-Zarnuji (‘Aliyah dan Amirudin, 2020). Disebutkan, bahwa di di dalamnya ada penjelasan akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama makhluk (orang tua, guru, dan teman), akhlak terhadap diri sendiri, dan akhlak kepada ilmu. Di samping hal itu, masih terkait akhlak, adalah: 1).Memiliki niat yang baik, 2).Musyawarah, 3).Rasa hormat, 4).Sabar dan tabah, 5).Kerja keras, 6).Menyantuni diri, 7).Bercita-cita tinggi, 8).Sederhana, 9).Saling menasihati, 10). Istifadzah (mengambil pelajaran, 11).Tawakkal. Dengan demikian, tampak pandangam-pandangan Imam Zarnuji di buku Ta’lim Muta’allim masih sangat relevan dengan pendidikan akhlak di Indonesia (https://journal.umg.ac.id/index.php/tamaddun/article/view/2113).

          Tentang metode belajar, seperti apa? Terkait, ada kajian berjudul Metode Belajar Menurut Imam Zarnuji: Telaah Kitab Ta’lim Al-Muta’allim (Shofwan, 2017). Disebutkan, dalam pandangan Imam Zarnuji, apabila para pelajar ingin sukses mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan, maka ada dua hal yang harus dilaksanakan, yaitu: (1) Hendaknya melakukan dengan benar ketika menapaki jalan atau metode dalam menempuh ilmu pengetahuan; (2) Hendaknya melaksanakan syarat-syarat dalam menempuh ilmu pengetahuan. Dengan melaksanakan kedua hal tersebut, maka para pelajar akan mendapatkan ilmu pengetahuan serta mendapatkan manfaat ilmu pengetahuan yang dicita-citakan (https://jurnal.unublitar.ac.id/index.php/briliant/article/view/96).

Siapa, Apa?

          Tentang riwayat hidup Imam Zarnuji, tidak ada yang bisa menyampaikannya secara lengkap. Dalam keterbatasan sumber itu, dapat diambil kesimpulan bahwa Imam Zarnuji hidup pada abad ke-6 Hijriyah. Dia berasal dari sebuah wilayah milik bangsa Turki di belakang Uzgen. Dia wafat pada 593 H.

          Imam Zarnuji adalah satu salah satu murid dari Burhanuddin Al-Marghinani. Adapun Marghinan dan Farghanah adalah dua kampung di Al-Khawarizm di Wara’a an-Nahr. Itu, wilayah Asia Tengah.

          Tak hanya pribadi Imam Zarnuji, juga tidak mudah dilacak siapa guru-gurunya dan murid-murid-muridnya. Pun, karya-karya tulisnya yang lain, tidak sampai kepada kita informasinya (2019: xxvi-xxvii).

          Apapun, buku Ta’limul Muta’allim telah banyak memberi pelajaran kepada kita. Pelajaran itu, antara lain: Pertama, ada adab-adab yang harus dipenuhi dalam menuntut ilmu. Kedua, sebagai penulis (buku) tak penting orang-orang mengenalnya sebagai pribadi. Cukuplah, orang-orang tercerahkan dengan karyanya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *