Keistimewaan Bahasa Arab dan Peran Pentingnya bagi Perkembangan Bahasa Indonesia

Written by | Opini

fc2cnnjagx9y_quran1

Oleh: Apriyanti Kartika Agustin*

Inpasonline.com-Bahasa Arab sudah tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas beragama Islam, tentu masyarakat Indonesia sudah terbiasa melafalkan bahasa Arab saat membaca Al-Qur’an, bahasa Arab juga digunakan ketika shalat lima waktu, dan tanpa disadari digunakan sehari-hari karena sebagian besar telah menjadi serapan dalam bahasa Indonesia.

Tetapi perjalanan bahasa Arab telah lebih jauh dari itu. Bahasa Arab telah menyandang banyak predikat sepanjang peradaban manusia. Selain sebagai bahasa kitab suci al-Qur‘an dan hadis, bahasa Arab adalah bahasa resmi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bahasa nasional lebih dari 25 negara di kawasan Timur Tengah, dan sebagai bahasa warisan sosial budaya.

Jabir Qumaihah menegaskan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang mendapat garansi dan―proteksi Ilahi (al-himâyah al-Ilâhiyyah), seiring digunakannya sebagai―wadah ekspresi al-Qur‘an. Bahasa Arab juga dipandang sebagai bahasa yang sangat orisinal; tidak memiliki masa kanak-kanak sekaligus masa renta (lughah ashîlah, laisa lahâ thufûlah wa laisa lahâ syaikhûkhah).

Dari penjelasan tersebut, bahasa Arab terlihat telah tumbuh dan berkembang dengan sangat baik, bukan hanya bagi bangsa Arab. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Attas bahwa bahasa Arab bukanlah milik bangsa Arab saja, melainkan milik Islam dan seluruh umat Islam. Demikian itu menjadi isyarat bahwa bahasa Arab berhak tinggal di mana pun Muslim berada.

Akan tetapi, masuk dan diterimanya bahasa Arab khususnya di nusantara bukan berarti karena paksaan. Tetapi karena bahasa Arab memiliki keistimewaan yang membuatnya berjasa dan masih eksis hingga saat ini. Bahasa Arab juga punya andil yang cukup besar bagi sejarah perkembangan bahasa Indonesia yang tidak boleh dilupakan.

Bahasa Arab Adalah Bahasa Paling Ilmiah

Selain bahasa wahyu, salah satu keistimewaan dari bahasa Arab adalah termasuk bahasa paling ilmiah. Al-Attas menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memilih penggunaan bahasa Arab, karena bahasa arab mempunyai bawaan kecendrungan saintifk, bukan estetik dalam struktur gayanya.

BACA JUGA  Di Ramadhan, Israel Membiadabi Palestina

Istilah saintifik dimaksudkan sesuatu yang mempunyai bawaan dan sifat akliah berdasarkan pada ilmu pengetahuan, yang mempunyai cara dan gaya menilik sesuatu mengikuti tata tertib ilmiah.

Dari sifat bawaan tersebut maka tak heran jika istilah-istilah pokok hanya akan terjawab secara utuh jika diwakili dengan bahasa Arab. Hal ini mempertegas bahwa mempelajari bahwa Arab merupakan salah satu kunci utama membuka pintu ilmu pengetahuan; baik agama, sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Bahasa Arab Adalah Bahasa Ilmu Pengetahuan Sebelum Bahasa Inggris

Jauh ketika Barat masih terlelap dalam kegelapan ilmu, peradaban Islam di Spanyol dan Sicilia telah mengalami kemajuan, terutama di bawah pengaruh Ibn Rusyd (1126-1198 M). Saat itu bahasa Arab telah berperan penting bagi sejarah ilmu pengetahuan dimulai dari gerakan penerjemahan karya ilmiah ke dalam bahasa Arab.

Selain mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, gerakan penerjemahan itu juga berpengaruh besar terhadap wacana keilmuan Islam, baik ilmu-ilmu tradisional maupun ilmu-ilmu rasional, sehingga umat Islam tidak hanya bertindak sebagai pengalih ilmu tetapi juga penyusun, pengembang, dan pembangun berbagai disiplin ilmu pengetahuan baru.

Pengembangan ilmu pengetahuan itu dapat terjadi karena watak dan karakteristik bahasa Arab yang elastis (murûnah), menganut sistem derivasi dan analogi (isytiqâq wa qiyâs) yang komprehensif, dan memiliki perbendaharaan kata (tsarawât lughawiyyah wa mufradât) yang kaya.

Di samping itu, tentu saja, umat Islam mendapati bahasa Arab tampil sangat elegan, fleksibel, dan bernilai sastra tinggi dalam mentransmisikan berbagai karya intelektual Muslim dalam bentuk teks-teks, baik buku maupun manuskrip, yang hingga kini masih menjadi bahan kajian dan sumber inspirasi pemikiran Islam yang sangat berharga.

Dalam konteks ini, nampak jelas bahasa Arab mempunyai posisi sangat penting dan strategis dalam pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman serta peradaban Islam. Hingga saat ini bahasa Arab menjadi bahasa yang mampu menampung kebutuhan dan menyerap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang.

BACA JUGA  Ulama, Indonesia, dan Bung Karno

Menariknya, sebagian besar karya intelektual Muslim yang non-Arab (tidak berkebangsaan Arab), seperti Sibawaih (w. 180 H), al-Farabi (w. 339 H), Ibn Sina (w. 428 H), Ibn Miskawaih (932-1030 M), al-Ghazali (w. 1111 M), dan lainnya ditulis dalam bahasa Arab, karena pada waktu itu bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan.

Begitu juga Madrasah Nizhamiyyah di Persia, tempat al- Ghazali digurubesarkan, Madrasah al-Ayyubiyyah, Pusat-pusat Studi di Harran dan Jundisyapur (Persia) serta al-Azhar di Kairo juga menjadikan bahas Arab sebagai bahasa akademik; bahasa studi, pendidikan, dan kebudayaan mereka.

Fakta tersebut menunjukkan bahasa Arab bukan sebatas bahasa komunikasi harian antarpenuturnya, melainkan bahasa ilmu pengetahuan yang mampu mewadahi dan mentransmisikan wacana pemikiran dan karya-karya ilmiah para filosof dan ilmuwan terkemuka.

 

Bahasa Indonesia Mayoritas Diambil dari Bahasa Arab

Hasil penelitian menunjukkan kata serapan dari bahasa Arab menempati urutan ketiga setelah bahasa Belanda dan bahasa Inggris yakni 1.495 kata (Jumariam, 1996: 9). Kata serapan dari bahasa Arab juga tidak hanya berkaitan dengan agama Islam, tetapi banyak juga kata-kata umum seperti kursi, kitab, mistar, daftar, kertas, kalimat, ilmu, syarat, hewan, jasad dan lain-lain.

Kata-kata serapan tersebut ada yang tetap sama dengan aslinya, namun banyak juga yang mengalami perubahan bentuk akibat penyesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia. Selain perubahan bentuk, ada juga yang mengalami pergeseran makna, bahkan menjadi berbeda. Contoh: kata berkat dan berkah, filsafat dan falsafah, amanah dan amanat.

Selain kosakata, pengaruh bahasa Arab juga dapat ditemukan pada aksara Arab yang digunakan pada bahasa Indonesia maupun pada bahasa daerah.

Sampai saat ini banyak dijumpai tulisan-tulisan, buku-buku, buku agama, hikayat maupu sastra yang ditulis dengan menggunakan aksara (huruf) Arab yang dikenal dengan Arab-Melayu atau Arab-Jawi (Pegon). Termasuk juga bahasa-bahasa daerah (yang memiliki aksara tersendiri maupun yang tidak) yang menggunakan aksara Arab dalam naskah-naskah mereka.

BACA JUGA  Potret Kegagalan Pendidikan Akidah

Bahasa Indonesia tentu berhutang banyak terhadap bahasa Arab atas sejarah perkembangannya hingga saat ini. Bisa dikatakan separuh jiwa bahasa Arab mengalih di dalam tubuh bahasa kesatuan bangsa Indonesia yang tidak akan bisa dipisahkan atau dihilangkan.

Penulis teringat peristiwa Selasa Kelabu, atau biasa disebut 11/9 tahun 2001 silam. Saat itu, meski label teroris kerap kali disematkan Barat kepada umat Islam, para peminat kajian Islam di Barat, khususnya Amerika Serikat justru semakin meningkat.

Rasa keingintahuan mereka tentang Islam—berikut upaya pembuktian benar tidaknya Islam sebagai agama yang menyokong terorisme—setidaknya mengantarkan mereka untuk mengkaji sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur‘an dan Sunnah.

Begitu pun sebuah statement baru-baru ini yang seolah menyudutkan bahasa Arab. Demikian itu bukan tidak mungkin pada gilirannya justru mendorong masyarakat untuk lebih mengenal dan mempelajari bahasa Arab; kembali membumikan bahasa Arab karena keistimewaan yang dimilikinya.

Sebab cahaya kebenaran itu akan tetap memancar meski sekuat dan serapat apa pun upaya kita menutupinya. Justru ketika kita membuat kekeliruan tentangnya, demikian itu akan mempercepat pengenalan dan penerimaan terhadapnya. Sebab orang akan berusaha mencari kebenaran tersebut dengan sendirinya.

 

Penulis adalah alumni PKU Unida Gontor Angkatan XIV

Last modified: 21/09/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *