Net Generation Melintas Batas
Inpasonline.com, 08/07/11
Sidoarjo-Di tengah perkembangan teknologi informasi yang makin canggih dan kehadiran internet, sebutan yang acapkali akrab terdengar untuk menggambarkan kemunculan kelompok remaja di era revolusi informasi adalah Net Generation. Penyebutan ini bisa dipahami, karena dari fenomena yang terlihat menunjukkan adanya kecenderungan yang sangat radikal dari kelompok remaja untuk terpapar dan memanfaatkan inovasi teknologi internet.
Islam vis a vis Demokrasi
Inpasonline.com, 08/07/11
Meski terdengar klise, demokrasi terus menjadi “komoditas unggulan” di kalangan akademisi di Timur maupun di Barat. Tarik-ulur kompatibilitas Islam dan demokrasi semakin keras seiring semakin tegangnya hubungan Barat dan Islam pasca tragedi 11 September.
Pakar Pluralisme Melakukan ‘Rihlah Ilmiah’ di Jawa Timur
Inpasonline.com, 06/07/11
SURBAYA - Pakar Pluralisme agama, Dr. Anis Malik Thoha, memanfaatkan waktu liburannya untuk melakukan rihlah ilmiah di Jawa Timur. Tidak seperti rihlah biasanya yang pergi ke tempat-tempat rekreasi, tapi rihlah yang dilakukan oleh Dosen IIUM Kuala Lumpur ini adalah menghadiri undangan beberapa Pesantren dan Kampus di Jawa Timur.
Refleksi Atas Wafatnya KH. Zainuddin MZ
Wafathya KH. Zainuddin MZ pada Selasa, 5 Juli 2011 selain memberikan kesedihan tersendiri, juga memberikan motivasi kepada umat Islam Indonesia untuk bergiat mencetak ulama pengganti ulama-ulama yang telah wafat. KH. Zainuddin MZ pernah menjadi sebuah fenomena pada era 1980-an dan 1990-an. Tepat kiranya jika KH. Zainuddin MZ dijuluki ‘dai sejuta umat’. Di era dimana TV belum menjadi focus of view, ribuan umat Islam berbondong-bondong menuju lapangan atau gedung pertemuan demi mendengarkan ceramah beliau. Bukan itu saja. Suara beliau yang sangat khas berkumandang dimana-mana, baik public space maupun domestic place lewat kaset-kaset yang berisi ceramah beliau.
Pluralisme Agama Bisa Picu Problem Sosial
Selama ini pluralisme baik secara terminologi maupun kandungan ideologinya ternyata masih banyak disalah pahami. Secara simplitis dan gegabah pluralisme hanya disinonimkan dengan kata toleransi. Penyamaan ini biasanya hanya mengambil dari salah satu arti pluralisme secara etimologis, bukan epistemologis.