Category: Opini

Opini

Ukhuwah dan Keterbukaan*

Oleh:  Kholili Hasib, M.A.

(Alumnus Program Kaderisasi Ulama (PKU),  

Pesantren Gontor Ponorogo)

 

Polemik tentang Syiah - seperti yang dimuat beberapa kali di Harian Republika - menunjukkan bahwa penyelesaian masalah Sunnah-Syiah di Indonesia merupakan masalah yang penting. Karena itu, masalah ini menagih solusi secepatnya. Untuk itu, masing-masing pihak, perlu menunjukkan sikap keterbukaan dan kejujuran. Polemik Haidar Bagir, Muhammad Baharun dan Fahmi Salim, masih belum sepenuhnya menjernihkan masalah, bahkan penulis khawatir memunculkan lagi polemik-polemik yang tidak berkesudahan.

Opini

‘Jembatan Maut’ Menagih Empati Pemimpin

Oleh M. Anwar Djaelani

 

Di negeri ini, wajah paradoksal mudah kita temui terutama jika menyangkut rasa keadilan dan kesejahteraan. Keduanya -keadilan dan kesejahteraan- seperti hanya berpihak kepada pemimpin atau pejabat dan tidak untuk rakyat.

 

Empati, ke Mana?

Sebenarnya daftar ironi di sekitar kita lumayan panjang. Tapi, ‘balada sandal jepit’ dan ‘kisah jembatan maut’ kiranya cukup mewakili kegelisahan publik atas masih tingginya kesenjangan antara janji-janji manis para pemimpin dengan realita.

Opini

Lexus dan Pohon Zaitun dalam Pergulatan

Oleh Kartika Pemilia Lestari*

Beberapa tahun lalu, kolumnis senior The New York Times Thomas L. Friedman menulis buku Lexus and the Olive Tree. Buku tersebut pada awal abad ini menjadi bacaan wajib di berbagai universitas. Tahun 2000 saat saya masih menjadi mahasiswa tingkat pertama, buku ini menjadi literatur pertama dan terutama yang disodorkan dosen saya.

Opini

Jangan Rancu Memandang Posisi Hadits; Kritik untuk Agus Mustofa

Oleh Bahrul Ulum

 Dalam sebuah tulisan berjudul “Salah Kaprah tentang As Sunnah & Hadits”, Agus Mustofa mengatakan bahwa penggunaan hadits, sifatnya tidak harus, melainkan sebuah pilihan. Ia bisa  digunakan dan  juga tidak. Jika hadits dirasa bisa memberikan tambahan penjelasan terhadap ayat-ayat Qur’an yang sedang dibahas, maka dianjurkan untuk menggunakannya. Tetapi, jika hadits itu dianggap malah merancukan pemahaman terhadap ayat Qur’an, sebaiknya tidak usah digunakan. Ia juga berpendapat bahwa Rasulullah melarang para Sahabat untuk mencatat ucapan dan perbuatan beliau karena dikhawatirkan akan mengacaukan catatan al-Qur’an yang sedang dalam masa penulisan.