Category: Opini

Opini

Jangan Rancu Memandang Posisi Hadits; Kritik untuk Agus Mustofa

Oleh Bahrul Ulum

 Dalam sebuah tulisan berjudul “Salah Kaprah tentang As Sunnah & Hadits”, Agus Mustofa mengatakan bahwa penggunaan hadits, sifatnya tidak harus, melainkan sebuah pilihan. Ia bisa  digunakan dan  juga tidak. Jika hadits dirasa bisa memberikan tambahan penjelasan terhadap ayat-ayat Qur’an yang sedang dibahas, maka dianjurkan untuk menggunakannya. Tetapi, jika hadits itu dianggap malah merancukan pemahaman terhadap ayat Qur’an, sebaiknya tidak usah digunakan. Ia juga berpendapat bahwa Rasulullah melarang para Sahabat untuk mencatat ucapan dan perbuatan beliau karena dikhawatirkan akan mengacaukan catatan al-Qur’an yang sedang dalam masa penulisan.

Opini

Membaca dan Menulis, Tradisi Umat Terbaik

Oleh M. Anwar Djaelani

Tak ada peradaban yang bangkit tanpa didahului kebangkitan tradisi ilmu. Tak ada peradaban yang mulia tanpa diwarnai aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu, tradisi ilmu seperti apa yang harus kita miliki? Dalam beramar ma’ruf nahi munkar, lewat media apakah yang terhitung strategis?

Opini

Jauhi Hura-hura Tahun Baru yang Sia-sia!

Oleh Anwar Djaelani

Umat Islam dilarang melakukan aktivitas yang berkategori sia-sia. Umat Islam dilarang mengerjakan sesuatu yang tak bermanfaat karena itu termasuk perilaku orang-orang yang tak beriman. Kini, ketaatan kita atas ajaran mulia itu diuji saat aroma pesta sambut Tahun Baru 2012 menyeruak di sekitar kita.

Opini

Meneguhkan Kembali Budaya Ilmu

Oleh Kholili Hasib*

Inpasonline.com, 25/12/11

Untuk membangun peradaban mulia, ada dua tugas besar yang harus diemban ilmuan muslim. Yaitu, mempelajari konsep-konsep kunci dalam Islam dan mempelajari peradaban lain di luar Islam. Seperti  disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil dalam orasi akhir tahun pada acara Musyawarah INSISTS Network di Trawas 18 Desember 2011 bahwa Ilmuan muslim harus memiliki dua ilmu; ilmu Islam dan ilmu tentang peradaban Barat. Ilmu tentang peradaban Barat perlu dipelajari, sebab tantangan terbesar di abad ini adalah hegemoni ilmu Barat.

Opini

Gagasan tentang Putih dan Rasisme

Oleh Kartika Pemilia Lestari*

Inpasonline.com, 25/12/11

“Dapatkan kulit putih seperti mutiara hanya dalam 7 hari”. “Kulitmu akan lebih cerah hanya dalam 3 minggu”. “Lebih putih dan lebih putih lagi”. Kata-kata dalam iklan sabun tersebut jamak kita baca dan dengar di media massa. Pikiran masyarakat lantas terkonstruksi bahwa ke-putih-an (whiteness) atau menjadi putih adalah sangat penting dalam sebuah kehidupan. Bahwa dengan menjadi putih dan lebih putih lagi, kita menjadi “normal” secara sosial.