Revitalisasi Turats Fikih
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
Inpasonline, 4/6/11
PARA ulama Islam banyak meninggalkan karya berharga berupa buku-buku yang telah membangun peradaban dunia tujuh abad lamanya. Karya-karya itu kemudian mereka wariskan kepada generasi setelahnya: untuk diolah kembali guna membangun peradaban manusia yang lebih unggul dan berwibawa. Bukti dari itu adalah peradaban Islam yang pernah membentang dari Baghdad ke Persia, dari Andalusia (Spanyol) ke India bahkan sampai ke Indonesia. Buku-buku yang menceritakan itu sangat banyak. Lihat, misalnya peradaban Islam di Baghdad dalam Hadharat al-`Iraq, 13 Jilid (Baghdad, 1985) yang ditulis oleh sekian pakar sejarah dan peneliti Iraq sendiri.
Liberalis: Ahl Bid’ah, Bukan Mujtahid!
Oleh: Asmu’i
Selasa 24 Mei 2011 kemarin, atas undangan Markaz al-‘Alamiy Li Al-Wasathiyyah yang berada di bawah naungan Kementrian wakaf Kuwait, saya dan beberapa teman mengikuti Daurah Wasathiyah di Negara Kuwait. Kajian mendalam yang dilaksanakan dalam bahasa Arab ini dimaksudkan agar kita bisa menempatkan makna washatiyah dalam ber-Islam. Apakah ia modernisme sebagaimana yang dipahami dan diperjuangkan oleh orang-orang liberal, dengan ciri kemustian dekonstruksi agama, baik dalam masalah furu’iyah maupun ushuliyah, yang menyangkut dalil-dalil qath’iyyah dan dzanniyah sekaligus, sehingga sesuai dengan konteks.
Surabaya Menuju Kultur Buku
Kartika Pemilia Lestari
(Peneliti InPAS)
Menjelang hari jadinya yang ke-718 pada 31 mei 2011, apa yang akhir-akhir ini paling menarik perhatian warga Surabaya? Benar, taman bunga dan pusat kuliner (rumah makan). Sebagai orang yang telah menetap lebih dari 10 tahun di kota kedua terbesar kedua di Indonesia ini, maka saya merasakan betul pengaruh kedua hal tersebut terhadap ekpektasi dan gaya hidup warga Surabaya. Mata kita yang senang melihat keindahan akan dimanjakan oleh banyaknya taman bunga yang digarap serius oleh Dinas Pertamanan Surabaya. Sepuluh tahun lalu, Surabaya terasa sangat ‘garing’; minus keberadaan taman bunga, udara yang panas makin terasa panas. Kemudian keberadaan pusat kuliner yang sangat pesat di seantero Surabaya berhasil menggiatkan sektor perdagangan dan pariwisata Surabaya. Surabaya makin sering dilirik para investor dan media nasional; makin banyak orang di Indonesia yang tahu bahwa di Surabaya ada Rawon Setan.
Neo-Orientalis Dalam Sorotan Islamia-Republika
Inpasonline, 25/05/11
Di Bulan Mei ini, Islamia-Republika menyoroti sepak terjang orientalis masa kini, atau yang biasa disebut neo-orientalis. Sebagian kalangan beranggapan bahwa kajian neo-orientalis ini terhadap Islam lebih objektif dari pendahulu mereka, sehingga tidak canggung mengadopsi hasil kajiannya. Tapi bagi para penulis Islamia-Republika ini justru tidak banyak perubahan dalam kajian orientalis. Sebagian mereka memang ada yang obyektif dan jujur dengan kajiannya, tetapi mayoritas dari mereka tetap tidak percaya dengan Islam, bahkan memusuhinya.Pelajar Kita Belajar Apa?
Oleh M. Anwar Djaelani
Akhlaq (setidaknya sebagian) pelajar semakin memrihatinkan? Lihat di Pamekasan, misalnya. Jika di tahun 2010 saat konvoi perayaan kelulusan, sejumlah siswi menyobek roknya serta melepas kerudungnya dan dikibar-kibarkan, maka -seperti ditulis www.kompas.com 16/5/2011- di 2011 ada siswi yang kedapatan bertelanjang dada.