Category: Opini

Opini

Mengkritisi Ide Penyatuan Sunni-Syi’ah

M. Masykur (peneliti InPAS)

inpasonline.com, 21/06/11 

Bulan kemarin, tepatnya 20 Mei 2011, beberapa tokoh Syi’ah yang tergabung dalam Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) merekayasa pendeklarasian sebuah ormas yang mengatasnamakan Sunni dan Syi’ah. Ormas yang mereka deklarasikan di Masjid Agung Kemayoran Jakarta ini mereka beri nama Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia (MUHSIN). Mereka mencatut nama institusi Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) yang diklaim sebagai deklarator mewakili pihak Sunni.

Opini

Al-Zabidi, Membuat Mudah Belajar Bukhari

Oleh Bahrul Ulum

Nama lengkap ulama ini adalah Imam Zainuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Latif bin Abu Bakr al-Sharji Al-Zabidi al-Yamani. Selain dikenal sebagai seorang ahli hadits (muhaddits) pada zamannya, al-Zabidi juga merupakan seorang yang faqih, sastrawan dan penyair.

Opini

Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi

Kartika Pemilia Lestari*

            Tidak ada subjek diskusi publik kontemporer yang lebih menarik perhatian dan kebingungan kecuali diskusi seputar hubungan antara ‘Islam’ dan ‘Barat’; baik yang berkaitan dengan hubungan antara pemikiran Islam dan pemikiran Barat, hubungan antara negara-negara Islam dan negara-negara non-Islam, maupun hubungan antara orang Muslim dan orang non-Muslim yang terjadi di negara Barat; semua hubungan tersebut memiliki kecenderungan di kedua belah pihak, yakni kecenderungan untuk menuju ke arah sikap optimis dan kritis. Di sini sengaja dipilih term ‘kritis’ karena kelompok kedua ini tidak bisa dibilang pesimis terhadap globalisasi, namun mereka menerima globalisasi dengan kritis. Kekritisan tersebut kemudian memunculkan sikap kreatif dan inovatif dalam membendung dampak negatif globalisasi.

Opini

Pendidikan Multikultural Mendekonstruksi Teologi Islam

 

                                       Oleh: Prihanto

Dewasa ini dunia pendidikan Islam dihadapkan pada  wacana baru yang dikemas dengan kata-kata dan istilah menarik perhatian banyak kalangan. Wacana tersebut adalah pendidikan multikultural. Pendidikan yang berparadigma inklusif dan pluralis ini, hadir dengan menawarkan pengenalan keanekaragaman budaya. Konsep ini sebetulnya memprotes pendidikan Islam saat ini. Alasannya adalah, pendidikan agama -terutama agama Islam- selama ini dianggap sebagai pendidikan yang eksklusif dan dogmatis. Wacana ini menjadi berkembang ketika mendapat respon yang positif dari pihak pemerintahan, cendikiawan, dan para akademisi. Yang menjadi persoalan adalah, model pendidikan ini sudah melampaui toleransi, karena mengusung pluralisme agama dan mendekonstruksi konsep-konsep teologis.