As’ad Humam;Penemu Metode Iqro’, “Sang Penyelamat”!

Asad Humam Penemu Metode Iqro Sang Penyelamat

Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi ulama

Asad Humam Penemu Metode Iqro Sang Penyelamat

          inpasonline.com – As’ad Humam penemu dan kemudian membukukan Metode Iqro’: Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an. Sangat boleh jadi, di awal, dia tidak membayangkan bahwa karyanya akan menyebar sampai ke Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika.

Selanjutnya, mari baca berita pada 26 Februari 2020 ini: “Pencipta Metode Iqro’ Raih Lifetime Achievement Award IBF”. Disebutkan, bahwa Panitia Islamic Book Fair (IBF) 2020 memutuskan untuk memberi penghargaan kepada (almarhum) As’ad Humam sebagai penulis buku Iqro’. Hal ini, karena karyanya melegenda bagi kemajuan bangsa. Terutama bagi anak-anak generasi penerus bangsa dalam hal belajar membaca Al-Qur’an. Penghargaannya, Lifetime Achievement Award.

Itu semua, menunjukkan nilai manfaat yang sangat luar biasa dari karya lelaki asal Yogyakarta itu. Rasanya, nilai manfaatnya masih akan berumur sangat panjang.

Buku Iqro’ terdiri dari 6 jilid, disusun secara praktis dan sistematis. Hal itu memudahkan bagi setiap orang yang belajar dan mengajarkan membaca Al-Qur’an dalam waktu yang relatif singkat.

Sejak tahun 1950-an As’ad Humam telah menekuni bidang pengajaran Al-Qur’an. Dia berpengalaman menggunakan berbagai metode yang dalam kenyataannya belum sempurna. Atas dasar pengalaman yang cukup lama dan permintaan dari berbagai pihak maka berkat Hidayah Allah, kerja keras, dan bantuan berbagai pihak, tersusunlah buku Iqro’ yang melegenda itu.

Buah Ketekunan  

Mari, perhatikan cover buku yang terdiri dari 6 jilid itu. Di sampul belakangnya, terdapat gambar seorang lelaki tua. Dia berperawakan kurus dan berkacamata. Dia memakai jas hitam dan berpeci.

Lelaki itu adalah As’ad Humam, penemu metode Iqro’. Dia berasal dari Kotagede, Yogyakarta. Dia lahir tahun 1933. Nama Humam merujuk kepada ayahnya, Humam Siradj, pedagang sukses di Pasar Bringharjo Yogyakarta.

Dia tumbuh-kembang di keluarga dan lingkungan Muhammadiyah. Dia suka belajar. Pendidikannya dimulai di SD Muhammadiyah Kleco – Yogyakarta. Lalu, SMP Negeri di Ngawi. Kemudian, ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, As’ad Humam berhenti di kelas II. Ini, karena dia sakit pada tahun 1963. Dia mengalami pengapuran tulang belakang dan harus dirawat setengah tahun.

Selanjutnya, ada yang berkurang pada sebagian fungsi fisiknya. Lehernya tidak bisa digerakkan. Untuk berjalan, As’ad Humam mesti menggunakan tongkat sebagaimana yang tampak pada gambar di sampul belakang buku Iqro’.

Dia lalu berhenti dari pendidikan formal, namun terus mendapat pelajaran dari banyak orang di sekitarnya termasuk ayahnya yang seorang guru di SD Muhammadyah Kleco dan mubaligh ternama (https://pwmu.co/181555/03/06/ternyata-iqro-pernah-diteliti-profesor-jepang/).

As’ad Humam tetap bersemangat. Dia sempat belajar di Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak – Yogyakarta. Di Pesantren yang terkenal karena keunggulannya dalam pengajaran Al-Qur’an itu, dia belajar selama dua tahun.

Dia juga belajar langsung kepada KH Dachlan Salim Zarkasyi. Siapa dia? Tentang ini, Akhmad Ayub menulis: “KH Dachlan Salim Zarkasyi mempunyai peran penting dalam pengembangan pembelajaran membaca Al-Qur’an di Indonesia. Melalui metode Qiroati yang ditemukannya dan lembaga TK Al-Qur’an yang didirikannya merupakan lembaga pendidikan (non formal) Al-Qur’an yang pertama kali muncul di Indonesia dan berkembang menjadi TPQ/TPA. Metode Qiroati mempengaruhi munculnya metode membaca Al-Qur’an setelahnya (https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/12135/1/TESIS_1600118002_AKHMAD_AYUB.pdf).

Metode Iqro’ ditemukan As’ad Humam. Kala itu, dia ditemani oleh aktivis Muhammadiyah lainnya, yaitu M. Jazir ASP (yang kini sebagai Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta). Visi As’ad Humam, adalah bagaimana dengan seefektif mungkin memberikan sebuah metode yang dirasakan paling mudah untuk mengembangkan pembelajaran membaca Al-Qur’an secara cepat kepada anak-anak khususnya.

          Menemukan metode Iqro’, tak didapat dalam tempo sekejap. Butuh waktu bertahun-tahun. Setelah menemukan metode Iqro’, As’ad Humam bersama M. Jazir ASP dan dibantu oleh Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (AMM) Yogyakarta mendirikan TK Al-Qur’an AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986.

Tahun 1988, di tempat tinggal As’ad Humam di Kampung Selokraman, Kotagede, Yogyakarta. didirikan Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) untuk anak usia 4-6 tahun. Setahun kemudian didirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) untuk anak usia 7-12 tahun. Dari sini awalnya, Iqro’ menyebar dengan cepat sehingga digunakan di banyak tempat.

Berbeda dengan metode membaca Al-Qur’an sebelumnya, Iqro’ yang terdiri dari enam jilid tidak lagi dieja, melainkan menyajikan cara baca dengan sistem (suku) kata. Mula-mula dipilih kata-kata yang akrab dan mudah bagi anak-anak, seperti “ba-ta”, “ka-ta”, “ba-ja”, dan sebagainya.

Setelah itu dilanjutkan dengan kata yang lebih panjang, kemudian kalimat pendek, lalu mempelajari kata yang ada di dalam Surat-Surat pendek. Semuanya disajikan dengan sederhana sehingga yang belajar, terutama anak-anak, bisa mudah mempelajarinya.

Buku Iqro’ terdiri dari 6 jilid dengan variasi warna cover yang menarik minat anak kecil. Menurut As’ad Humam, ada “10 Sifat Buku Iqro’” yaitu: Bacaan langsung, CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), Privat / klasikal, Modul, Asistensi, Praktis, Sistematis, Variatif, Komunikatif, dan Fleksibel. Kesepuluh hal itu, ada di cover belakang Buku Iqro’: Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an (2017).

 

Berkembang dan Berkembang

Setelah berhasil di Kotagede Yogyakarta, sistem Iqro’ berkembang di Gresik dan Semarang. Hal lain, yang lebih membesarkan hati, di tahun 1988 metode Iqro’ mendapatkan pengakuan dari Menteri Agama sehingga didistribusikan secara nasional pada tahun 1992.

Metode ini dinilai memiliki banyak kelebihan, seperti kemudahan dan akurasi. Banyak penelitian, menyimpulkan bahwa metode ini efektif mengajarkan belajar Al-Qur’an bagi para pemula. Sebuah kajian menyebutkan, tingkat keberhasilannya mencapai 89,9 persen bagi anak usia TK dalam waktu enam hingga 18 bulan.

Pemerintah Malaysia mengadopsi metode Iqro’ secara resmi di akhir 1990-an. Metode Iqro’ telah menyebar di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika (https://gema.uhamka.ac.id/2021/12/02/asad-humam-kiai-legendaris-muhammadiyah-penemu-metode-iqro/).

Pahlawan Penyelamat

Atas jasanya yang tak kecil, As’ad Humam mendapat banyak penghargaan dari pemerintah. Pada 1991 Menteri Agama H. Munawir Syadzali menobatkan TKA-TPA asuhan As’ad Humam sebagai Balai Penelitian dan pengembangan LPTQ  (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Nasional. Kehadiran Iqro’ pun menyedot perhatian umat Muslim seantero nusantara, bahkan hingga ke mancanegara.

As’ad Humam wafat di Ramadhan, Jumat 2/2/1996, sekira pukul 11.30 WIB. Jenazahnya dishalati ribuan jamaah di Masjid Baiturahman Selokraman Kota Gede Yogyakarta.

Banyak kalangan yang berduka. Banyak yang lebih merasakan besarnya jasa As’ad Humam setelah tokoh sederhana itu berpulang.

“Lewat sistem Iqro’ yang diciptakannya, KH As’ad Humam telah menyelamatkan masyarakat dari kebutaan terhadap Al-Qur’an. Beliau adalah pahlawan penyelamat Qur’an,” kata Menteri Agama-kala itu-Tarmizi Taher dalam upacara pemakaman Kiai As’ad Humam.

Rasanya, cukup proporsional menyebut As’ad Humam telah menyelamatkan masyarakat dari kebutaan terhadap Al-Qur’an. Hal ini karena, terutama untuk anak-anak, belajar Al-Qur’an menjadi lebih mudah dan menyenangkan. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *