Oleh Mahmud Budi Setiawan, Lc.
(alumnus Al-Azhar Mesir)

Buku Kesopanan Tinggi Secara Islam, karya A. Hassan terbitan CV Diponegoro tahun 1993
inpasonline.com – Pada tahun 1939, A. Hassan (1887-1958) seorang ulama besar dari Persatuan Islam (Persis) menerbitkan buku Kesopanan Tinggi Secara Islam. Buku ini pada dasarnya merupakan panduan akhlak islami dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, jauh lebih dari itu, juga mengandung kritik sosial yang tajam terhadap dampak buruk pendidikan Barat terhadap generasi muda Muslim.
Buku Kesopanan Tinggi Secara Islam telah dicetak ulang beberapa kali. Terkait, dalam mengungkap kritik-kritik A. Hassan di tulisan ini, saya bersandar kepada cetakan ke-14 terbitan CV Diponegoro. Buku itu, cerakan tahun 1993.
Keras dan Tajam
Sejak bagian pendahuluan, A. Hassan telah menegaskan tujuan utama dari risalah ini, yakni membela dan menyebarkan ajaran kesopanan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Beliau mengutip Hadits yang berbunyi, “Aku diutus untuk menyempurnakan perangai (kesopanan) yang mulia” (hal. 5), sebagai dasar pijakan.
Menurutnya, tidak ada satu pun sistem atau agama yang mampu menandingi keluhuran kesopanan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Uniknya, makārimal akhlāq diartikannya sebagai kesopanan tinggi. Bukan standar perangai biasa, tapi istimewa. Nilai luhur akhlak inilah yang menjadi sumber mata air pendidikan Islam.
Dalam gaya khasnya yang lugas dan tanpa tedeng aling-aling, A. Hassan membuka tabir kerusakan moral yang muncul akibat pengaruh sistem didikan kolonial yang telah menyusup ke dalam masyarakat Islam kala itu. Dalam pendahuluan dia telah membuat catatan penting. Dalam fasal ketujuh ditandaskan: “Di beberapa tempat dari kitab ini, ada saya hadapkan celaan atas perangai anak-anak sekolah Barat, dengan tidak berkecuali lagi.”
Selanjutnya, keprihatinan A. Hassan tampak sangat jelas dalam kritiknya terhadap generasi yang telah tercerabut dari akar agama dan adab. Ia menyasar anak-anak sekolah Barat yang menurutnya tidak hanya kehilangan rasa hormat terhadap orang tua, tetapi juga telah disusupi pandangan hidup individualistik yang menjauh dari nilai-nilai Islam. Ia menulis dengan tajam, “Janganlah jadi seperti kebanyakan anak-anak yang dapat pelajaran Barat, yang memandang kepada ibu-bapanya…..dengan pandangan yang mengandung perasaan bahwa mereka itu bodoh” (hal. 20).
Ia juga menyebut bahwa anak-anak ini menganggap diri mereka sudah berkemajuan hanya karena mengenakan dasi, celana, atau dapat berbicara dengan gaya modern. Padahal, kata A. Hassan, mereka hanya menjadi: “Tukang penghabis harta, tukang berhutang, tukang merusak kesopanan kaum-nya, tukang merusak adat golongannya, tukang menghina agama” (hal. 20).
Lebih lanjut, A. Hassan bahkan menuding para orang tua sebagai pihak yang turut bertanggung jawab karena terlalu mudah tergoda oleh ilusi “kemajuan” yang ditawarkan Barat. Ia berkata, “Wajib pula bapa-bapa inshaf, bahwa yang menyebabkan anak-anak itu jadi duri dan unak, tidak lain melainkan bapa-bapa yang tertipu dengan bayang-bayang kemegahan Barat” (hal. 20).
Rupanya, kondisi seperti itu tidak hanya terjadi di masa kolonial. Sampai sekarang pun, atas nama kemajuan atau bahkan capaian materi, orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang notabene memakai metode ala Barat. Sementara itu, pendidikan agama anak mereka kurang diperhatikan. Dari sisi ini, sebagaimana yang dikritisi A. Hassan, orang tua punya andil dalam menjerumuskan pendidikan anaknya.
Selain itu, dalam pandangan A. Hassan, pendidikan Barat bukan hanya gagal membentuk manusia yang sopan, tetapi juga telah merusak struktur kehormatan sosial dalam Islam. Ia mengkritik keras perilaku anak-anak yang tidak lagi menghormati guru mereka, bahkan di hadapan kelas berani menertawakan atau mendebat guru tanpa adab. Ia menyebut, “Ada banyak murid-murid yang bertingkah-laku kasar di hadapan gurunya, berpaling kanan dan kiri, tertawa atau beromong-omong di waktu ia mengajar” (hal. 26).
Menurutnya, ini adalah pertanda hilangnya berkah ilmu. Murid seperti itu, meski secara formal hadir di kelas, tidak akan mendapatkan cahaya ilmu karena telah memutus adab terhadap guru yang merupakan pembawa ilmu. Ia mengingatkan bahwa guru adalah kunci pembuka rahasia ilmu dan jika hati guru tidak senang karena muridnya tidak sopan, maka ilmu itu tidak akan sampai dengan berkat.
Tidak hanya terhadap guru, sikap serupa juga diperlihatkan terhadap orang tua. A. Hassan menyampaikan bahwa sebagian anak sekolah Barat menganggap ayah dan ibunya sebagai orang kuno, tidak berkemajuan, bahkan memalukan. Mereka enggan berjalan bersama orang tua yang tidak berpakaian modern dan merasa hina memiliki ayah yang bekerja sebagai petani atau tukang. Ia menulis sinis, “Anak-anak yang menganggap ibu-bapanya kuno, bodoh, tidak berkemajuan dan fanatiek itu …. jadi hamba orang, jadi buruh orang” (hal. 20).
Semua, Menunduk!
Dalam bab mengenai kesopanan terhadap tetangga dan masyarakat sekitar, A. Hassan kembali mengangkat problem yang sama. Ia menyindir tajam para anak muda berpendidikan Barat yang tidak mengenal siapa tetangganya, tidak peduli pada keadaan sekitar dan hanya bergaul dengan orang yang bisa bicara bahasa asing. Ia menyatakan bahwa tata pergaulan Islam yang mulia telah dihancurkan oleh pandangan hidup individualistik yang tidak mengenal nilai-nilai kolektif dan sosial dalam Islam. Menurutnya, satu kampung itu bagaikan satu rumah besar dan jika tidak dijaga pergaulan di antara para penghuninya maka rusaklah tatanan sosial.
Kritik A. Hassan juga menyentuh para tokoh agama pada zamannya yang menurutnya ikut lalai. Ia menyayangkan bahwa banyak kiai dan guru agama hanya sibuk mengajarkan fiqih, tetapi tidak mengajarkan kesopanan sosial yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadits. Ia menulis, “Kerusakan pergaulan yang tersebut itu tidak lain yang menjadi sebab melainkan guru-guru, kiai-kiai, orang-orang ‘alim yang tidak mengenal Agama melainkan dari kitab-kitab fiqh yang hampir sama sekali tidak membicarakan hal-hal adab kesopanan” (hal. 31).
Bagi A. Hassan, adab sosial seperti menjaga hubungan dengan tetangga, menolong fakir miskin, menghormati yang tua, dan berlaku santun terhadap masyarakat adalah bagian integral dari kesopanan Islam yang justru diabaikan dalam pendidikan formal. Lalu, ketika anak-anak tumbuh dalam sistem yang tidak mengenal nilai-nilai luhur ini maka lahirlah generasi yang menurutnya “terkutuk” bukan karena tidak punya ilmu tetapi karena tidak punya sopan-santun.
Bangun, Bangun!
Hassan tidak hanya mengkritik, tetapi juga menyeru agar masyarakat kembali kepada pokok ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Ia menutup salah satu bagian bukunya dengan ajakan untuk memeriksa sendiri sumber ajaran Islam, karena tidak akan ditemukan keindahan Islam tanpa memahami langsung wahyu dan sabda Nabi Saw.
Ia menyindir. Bahwa, banyak kiai bahkan melarang umatnya membaca Al-Qur’an dan Hadits karena takut akan membuka ruang tafsir baru yang tidak sejalan dengan ajaran tradisional mereka (hal. 31).
Dengan segala kritik tajamnya, Kesopanan Tinggi Secara Islam adalah karya yang melampaui zamannya. Ia bukan hanya buku adab, tetapi juga buku perjuangan peradaban. A. Hassan tidak menolak ilmu atau modernitas, tetapi menolak sistem didikan yang memisahkan ilmu dari iman, etika dari adab, dan pendidikan dari ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Di tengah upaya membangun kembali sistem pendidikan nasional dan karakter bangsa hari ini, buku Kesopanan Tinggi Secara Islam ini layak dibaca ulang. Ia adalah peringatan, sekaligus panggilan, untuk kembali kepada akar. Bukan untuk mundur ke masa lalu, tetapi agar tegak di masa depan dengan fondasi yang kokoh: adab, ilmu, dan iman.
Ada pertanyaan reflektif yang menghentak sanubari di bagian buku Kesopanan Tinggi Secara Islam, di hal. 67, yang bisa direnungkan oleh para pendidik di sekolah dan orang tua di rumah: “Adakah belum sampai tempo kita mencari obat yang bisa mengentengkan ini bahaya yang kecelakaannya patut dipikul oleh kesopanan Barat?”
Pertanyaan tajam A. Hassan di atas seolah menggugah nurani kita: Sampai kapan kita akan terus meminjam sistem kesopanan dari Barat yang terbukti telah merobek akar budaya, memudarkan adab, dan menjauhkan anak dari orang tua serta murid dari guru?
Renungan ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan mendesak untuk kembali merumuskan obat—yakni sistem nilai dan pendidikan—yang bersumber dari khazanah Islam sendiri, yang mengedepankan penghormatan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Barangkali inilah saatnya kita berhenti terpukau oleh kilau luar dan mulai membangun peradaban yang berakar kuat di dalam. []



