
inpasonline.com – Baru saja kami menerima kabar duka. Prof. Diraja Tan Sri Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof. Al-Attas) wafat pada Ahad, 8 Maret 2026 sekitar pukul 18.47 waktu Kuala Lumpur. Beliau adalah salah satu filsuf dan pemikir peradaban Islam paling berpengaruh di dunia Islam modern.
Sepanjang hidupnya, beliau dikenal sebagai tokoh yang mendalami berbagai bidang: filsafat Islam, metafisika, tasawuf, sejarah, bahasa, dan pendidikan. Ia juga pelopor gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan, serta pendiri International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), sebuah pusat kajian pemikiran Islam yang sangat berpengaruh di tingkat internasional.
Kepergian beliau merupakan kehilangan besar bagi dunia keilmuan Islam. Banyak generasi sarjana Muslim di berbagai negara—termasuk Indonesia—dibentuk oleh gagasan beliau tentang adab, konsep manusia, konsep ilmu, dan worldview Islam.
Secara intelektual, Prof. al-Attas memberi kesan yang sangat khas: kedalaman berpikir yang berpadu dengan ketelitian bahasa dan kesadaran metafisik yang tinggi. Dalam hampir setiap tulisannya, kita merasakan bahwa ilmu tidak diperlakukan sekadar sebagai informasi atau teori, melainkan sebagai cahaya yang harus menuntun manusia menuju kebenaran dan keadilan. Karena itu, ketika beliau berbicara tentang krisis umat, beliau tidak melihatnya semata sebagai krisis politik atau ekonomi, tetapi sebagai krisis adab—hilangnya kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya secara benar.
Kesan lain yang sangat kuat dari sosok Prof. al-Attas adalah kesungguhannya menjaga tradisi intelektual Islam dari kekacauan konseptual. Ia mengingatkan bahwa banyak problem pemikiran modern muncul karena kekeliruan dalam memahami konsep-konsep dasar seperti ilmu, manusia, agama, dan kebudayaan. Melalui proyek besar yang ia sebut sebagai Islamization of contemporary knowledge, beliau berusaha mengembalikan kerangka berpikir umat Islam kepada pandangan hidup tauhid yang utuh.
Bagi para pengkaji pemikirannya, membaca karya-karya Prof. al-Attas seringkali terasa seperti memasuki sebuah taman intelektual yang rapi dan tertata. Setiap istilah dipilih dengan sangat hati-hati, setiap konsep disusun dengan struktur yang kokoh, dan setiap argumen berakar pada tradisi turāth yang luas. Dari sinilah tampak bahwa beliau tidak sekadar menulis, tetapi sedang membangun kembali bangunan peradaban ilmu.
Kepergian beliau tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam. Namun pada saat yang sama, karya-karya dan gagasan yang beliau wariskan akan terus hidup, dibaca, dikaji, dan dikembangkan oleh generasi setelahnya.
Dalam arti tertentu, seorang pemikir seperti Prof. al-Attas tidak benar-benar pergi; ia tetap hadir dalam halaman-halaman bukunya, dalam pemikiran murid-muridnya, dan dalam setiap upaya umat Islam untuk mengembalikan ilmu kepada tempatnya yang mulia.
Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, menerima amal dan perjuangannya, serta menjadikan ilmu yang beliau wariskan sebagai ṣadaqah jāriyah yang terus mengalir manfaatnya bagi umat.
Oleh : Dr. Kholili Hasib
Bangil, 19 Ramadhan 1447 H




