Ratusan Pengikut “Millata Ibrahim” Bertaubat
Banda Aceh-Sebanyak 139 pengikut ajaran Milata Abraham yang dinilai sesat di Banda Aceh, dikembalikan kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka diminta mengucapkan dua kalimat syahadat dan ikrar untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Humanisme dan Implikasinya Bagi Wacana Syari’ah Kontemporer
Oleh Zulkarnain (Peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) ISID Gontor
A. Pendahuluan
Nilai-nilai Humanisme seakan sudah menjadi trend masyarakat saat ini. “Lebih baik tidak religius tapi humanis, dari pada religius tapi tidak humanis”, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia”[1] adalah bentuk ungkapan dari para pengusung humanisme. Ungkapan ini mencerminkan keapatisan terhadap agama, sehingga mengangap dengan beragama, menjadikan orang tidak manusiawi. Paham ini selalu mendengung-dengungkan kemanusiaan, kebebasan, persamaan sehingga segala sesuatu hanya untuk manusia. Kebaikan bagi mereka cukup dengan mengabdi kepada manusia, tanpa harus menyembah Tuhan.[2] Doktrin semacam ini seakan sudah menjadi pijakan baru bagi masyarakat saat ini, sehingga secara tidak sadar menggeser peran agama.
Filsafat Islam, Arab atau Muslim?
Di abad keduapuluh hingga sekarang ini, para ahli ketimuran dan keislaman masih belum sepakat mengenai istilah yang tepat dan seharusnya digunakan apabila kita bicara tentang filsafat yang digeluti golongan ahli pikir dari umat Islam. Sebagian orientalis lebih suka menyebutnya ‘filsafat Arab’ (Arabic Philosophy). Ernest Renan, Dimitri Gutas, Peter Adamson yang mewakili kelompok ini beralasan bahwa filsafat yang tumbuh berkembang di dunia Islam adalah hasil sebuah proses intelektual yang panjang dan rumit, dimana para sarjana Muslim maupun non-Muslim (terutama Yahudi dan Nasrani) turut aktif mengambil bagian.
Kritik Konsep Teologi Humanisme Hasan Hanafi
A. Pendahuluan
Secara umum humanisme merupakan suatu paham yang memandang bahwa, manusia adalah standar segalanya. Paham ini meniscayakan penghapusan agama[1] bahkan Tuhan[2] sekalipun. Agama[3] bagi humanis diyakini sebagai sekat yang menutup kesadaran manusia[4]. Maka untuk memperoleh kesadaran penuh diperlukan kebaranian menghapuskan agama, sehingga manusia tidak perlu lagi beragama.