Tidak Tepat, Tudingan MMI Terhadap Terjemahan Al-Qur’an Kemeneg
Jakarta-Tudingan terhadap Kementerian Agama yang dinilai salah dalam menerjemahkan al-Qur’an sehingga memberikan kontribusi terhadap terorisme, dinilai tidak tepat.
“Mengaitkan aksi terorisme dengan terjemahan Al-Quran adalah sebuah kesalahan,”jelas Dr H Muchlis Hanafi, Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran. Menurut Muhlis selain tidak tepat, hal itu juga mengingkari karakter terjemahan yang memiliki sejumlah keterbatasan serta mengabaikan fakta bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi faktor: sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.
Pesantren Al Zaytun Bakal Diperiksa
Terkait kasus NII KW9, nama Pondok Pesantren Al Zaytun, Indramayu menjadi pembicaraan lagi. Pesantren pimpinan Panji Gumilang ini dikaitkan dengan gerakan tersebut. Dalam hal ini pemerintah mengaku tidak tinggal diam dengan kecurigaan publik terhadap keterkaitan pesantren tersebut dengan NII KW9. Lembaga pendidikan tersebut bakal diperiksa.
Konsep Adil Dalam Politik Islam
Oleh : Daud Sukoco
Pendahuluan
Kezaliman mengakibatkan kesengsaraan, keadilan melahirkan kemuliaan. Allah membantu Negara yang adil meskipun kafir, dan tidak membantu Negara yang dzalim meskipun beriman[1].
Pernyataan ini menyiratkan akan urgensi tegaknya keadilan. Karena memang keadilan dan kezaliman adalah sesuatu yang bertolak belakang, manakala keadilan dating maka kezaliman akan sirna demikian juga sebaliknya. Seperti halnya siang dan malam meskipun dekat beriringang tapi tidak pernah bersatu. Semua orang sepakat bahwa tegaknya keadilan adalah sebuag keniscayaan. Akan tetapi apa yang dijadikan barometer untu menimbang?. Hal ini masih menjadi diperdebatkan.
Kemeneg Hati-hati Sikapi NII
Merebaknya ideologi dan gerakan NII di lembaga pendidikan disikapi hati-hati oleh Kementerian Agama (Kemenag). Menurut Dirjen Bimas Islam, Nasaruddin Umar, antisipasi terhadap gerakan itu harus dilakukan secara komprehensif. "Jangan sampai nanti merombak kurikulum, apalagi merombak sistem pendidikan, "katanya.
Islamia-Republika April Kritisi Perennialisme
Inpasonline, 27/04/11
Islamia-Republika di bulan April ini tampil dengan kajian kritisnya terhadap perennialisme. Perennialisme atau dikenal juga dengan istilah transendentalisme merupakan sebuah paham yang menegaskan bahwa semua agama memiliki titik temu pada level transenden. Menurut paham ini, agama-agama hanya berbeda pada level eksoteris dan akan bertemu pada level esoteris. Tujuan dari paham ini adalah menyelamatkan dunia dari ancaraman krisis kehancuran manusia sebagai akibat proses desakralisasi (sekularisasi), reduksionisasi dan relativisasi yang terjadi secara masif dalam seluruh aspek kehidupan manusia modern.