Year: 2011

Pemikiran Islam

Skeptisisme dan Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis atas Pengaruh Skeptisisme terhadap Konsep World Theology dan Global Theology

Oleh : Ahmad Saifulloh

A.     Pendahuluan

Sejak berakhirnya perang dunia ke-2, perseteruan ideologi dan konflik yang terjadi antara kapitalisme dan komunisme telah mempengaruhi situasi politik dunia. Negara-negara di dunia ketiga menjadi terkotak-kotak berdasarkan sikap politiknya; pro terhadap Amerika atau Uni Soviet. Pada perkembangan berikutnya, kapitalisme keluar sebagai pemenang yang ditandai dengan jatuhnya Uni Soviet dan kemudian disusul dengan berdirinya pemerintahan negara-negara baru. Kemenangan ini memunculkan sebuah sistem global (baca: globalisasi) yang berfungsi menyebarkan ideologi kapitalisme ke negara-negara non kapitalis. Ideologi tersebut menjelma sebagai sebuah kekuatan yang menurut Malcolm Waters dapat digunakan untuk mengurangi atau bahkan menghapus otoritas agama, politik, dan militer.[1]

Opini

Toleransi Tak Memerlukan Pluralisme

Oleh M. Anwar Djaelani,

Dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya

Banyak tokoh (seperti ulama, pakar, budayawan) yang menolak film berjudul “?” (baca: Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo yang mulai ditayangkan 7/4/2011. Mereka menilai film itu mengampanyekan pluralisme, sebuah paham yang difatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2005.

Nasional

KH. Abdussomad Buchori:Tegas Terhadap Paham Spilis

Inpasonline, 26/4/11

Sosok KH. Abdussomad Buchori selama ini dikenal sebagai salah satu ulama yang menentang keras paham spilis (sekularisme, liberalisme dan pluralisme).  Maklum, menurut ketua MUI Jawa Timur ini, paham tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam. "Penggunaan istilahnya saja sudah tidak tepat, apalagi isinya,"ujarnya.

 

Opini

Kontradiksi Pluralisme

 

Oleh : Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi

 

Ada dua kesan yang terbersit dari wajah pendukung pluralisme agama: kontradiksi tapi percaya diri! Kontradiksi karena mulutnya berbunyi toleransi tapi sorot matanya menyiratkan relativisme. Percaya diri karena merasa berada di jantung wacana postmodernisme.