‘Knowledge Society’ Menyalakan Api Peradaban
Kebangkitan peradaban Islam tidak bisa dicapai tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan karena kejayaan dan kejatuhan suatu peradaban itu lantaran ilmu. Sejarah adalah saksi bagi kebenaran sunnatullah ini. Maka membudayakan tradisi ilmu demi membangun ‘knowledge society’ merupakan sebuah keharusan jika umat Islam tidak ingin terus terpuruk dalam kejumudan serta tidur panjangnya.
Pascasarjana ISID Gontor Kembangkan Konsep Dasar Sains Islam
Inpasonline, 13/6/11Genda Islamisasi yang kurang lebih berusia tiga puluh tahun sejak pertama kali dicanangkan pertama kali oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas direspon secara serius oleh Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. Menurut Khoirul Umam, M.Ec, salah satu dosen ISID, mata kuliah dan tesis pascasarjana diarahkan kepada pengembangan konsep-konsep Islam. Konsep-konsep dasar ini akan menjadi basis epistemologi dalam pengislaman sains.
Children of Palestine – Memoar Anak-anak Palestina
Kartika Pemilia Lestari*
Okupasi Israel terhadap Palestina pada tahun 1948 menyisakan banyak luka dalam memori anak-anak Palestina. Sejak Israel memproklamirkan secara sepihak dirinya sebagai sebuah negara pada Mei 1948, Israel menyebut tanah yang diambil secara okupasi tersebut sebagai tanah miliknya. Sejak saat itu perang terus berkelanjutan hingga sekarang. Testimoni anak-anak Palestina di bawah ini memberikan gambaran detik-detik pengusiran rakyat Palestina dari tanah mereka sendiri, yang menjadi titik balik kehidupan mereka sekaligus menandai perubahan konstelasi politik internasional.
“My Fellow American” Meluncur di “The Dream Land”
Inpasonline, 11/1/11
Amerika selalu menjadi melting pot (tempat peleburan) berbagai agama, ras dan suku bangsa di dunia. Masyarakat dunia menganggapnya sebagai“the dream land” atau tanah impian, tempat orang mengejar mimpi demi sebuah penghidupan dan status yang lebih layak. Namun pasca 11 September, Amerika menjadi tempat yang sarat dengan aroma permusuhan serta kebencian.
Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi
Kartika Pemilia Lestari*
Tidak ada subjek diskusi publik kontemporer yang lebih menarik perhatian dan kebingungan kecuali diskusi seputar hubungan antara ‘Islam’ dan ‘Barat’; baik yang berkaitan dengan hubungan antara pemikiran Islam dan pemikiran Barat, hubungan antara negara-negara Islam dan negara-negara non-Islam, maupun hubungan antara orang Muslim dan orang non-Muslim yang terjadi di negara Barat; semua hubungan tersebut memiliki kecenderungan di kedua belah pihak, yakni kecenderungan untuk menuju ke arah sikap optimis dan kritis. Di sini sengaja dipilih term ‘kritis’ karena kelompok kedua ini tidak bisa dibilang pesimis terhadap globalisasi, namun mereka menerima globalisasi dengan kritis. Kekritisan tersebut kemudian memunculkan sikap kreatif dan inovatif dalam membendung dampak negatif globalisasi.