Membongkar Strategi Orientalis dalam Studi Islam dan Pluralisme
Inpasonline,27/06/09
Inpas kembali mengadakan Dialog Ilmiah Regional (DIR), Jum'at (26/07) kemarin. Kali ini yang menjadi narasumber adalah dua tokoh istimewa yang khusus diundang dari negeri seberang, Dr. Anis Malik Thoha dan Dr. Syamsuddin Arif. Keduanya adalah peneliti INSISTS cabang Malaysia yang juga menjadi staf pengajar di IIUM-Malaysia.
Dr Syamsuddin Arif: Belajar Islam ke Barat, Iman Harus Kuat
InpasOnline, 25/06/09
Kini Barat sedang gencar-gencarnya mengundang mahasiswa muslim untuk belajar Islam di universitas mereka. Tentu saja ini tidak lepas dari maksud tertentu yaitu agenda mereka merubah pandangan umat Islam terhadap agamanya. “Barat menginginkan orang Islam memahami Islam sebagaimana mereka memahami Islam,”jelas Dr. Syamsuddin Arif.
Dr Anis Malik Thaha: Pluralisme Agama Itu Otoriter dan Kejam
Berbicara tentang pluralisme agama di Indonesia, orang tidak bisa mengabaikan nama DR Anis Malik Thoha. Laki-laki kelahiran Pati (Jateng), 31 Desember 1964, ini bisa disebut satu-satunya cendekiawan Muslim dari Indonesia yang sudah menulis buku ilmiah tentang pluralisme. Judul buku itu Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis (diterbitkan Gema Insani Press), terjemahan dari disertasinya di Universitas Islam Internasional Islamabad (Pakistan), at-Ta’adudiyah ad-Diniyah: Ru’yah Islamiyyah.
Lebih Dekat dengan Dr Anis Malik Thaha
InpasOnle, 23/06/09
"Paham pluralisme agama itu menyesatkan. Kaum Muslimin dipaksa untuk tidak mengakui Islam sebagai satu-satunya agama yang benar,"kata Dr. Anis Malik Thaha. Di saat kebanyakan cendekiawan Muslim gandrung mengampanyekan perlunya pluralisme agama, dosen bidang perbandingan agama di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini justru memilih untuk bersikap berseberangan.
Kedudukan Sanad Dalam Islam
Kedudukan Sanad Dalam Islam
Oleh Bahrul Ulum
Salah satu alasan orientalis tidak menerima hadits sebagai kitab yang otentik, karena menurut mereka hadits ditulis 200 tahun setelah meninggalnya Rasulullah. Dalam rentang waktu yang panjang itu, kemungkinan terjadinya pemalsuan dan perubahan sangat besar sekali. Karena itulah mereka menolak jika hadits disebut sebagai kitab yang terjaga otentisitasnya.