Penjajahan Zionisme dan Sikap Bangsa se-Dunia

Written by | Opini

UN_General_Assembly_hall_compress25

Oleh: Fatih Madini*

Inpasonline.com-Melalui teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea pertama, Indonesia jelas mengutuk dan mengecam penjajahan Zionis atas Palestina. Roeslan Abdulgani (menteri luar negeri Indonesia periode 1956-1957) pun berkata bahwa semangat anti Zionisme telah menjiwai Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

“The Blackest Imperealism” adalah sematan paling tepat bagi mereka. Karena mereka tidak hanya menjajah sebagaimana tiga negara Eropa menjajah kita. Tapi juga sampai mengusir penduduk Palestina yang tidak sedarah dengan mereka.

Itulah mengapa “The Jewish State” atau negara khusus orang Yahudi menjadi tujuan utama. Saat itulah rasisme sebagai ideologi khas bangsa Yahudi terpampang begitu nyata. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Jumu’ah ayat 12 bahwa orang Yahudi mengaku sebagai the choosen people, satu-satunya bangsa pilihan Tuhan mereka.

Karena begitu berbahayanya ideologi ini, Prof. Ismail Raji Al-Faruqi sampai harus berkata, “Bahkan jika negara Yahudi hendak didirikan di bulan, ide itu tetap harus ditolak bersama.”

Sebetulnya, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah mengeluarkan resolusi pada tahun 1975, bahwa Zionisme adalah bentuk rasisme dan dikecam oleh banyak negara. Namun, kecaman itu tetap tak berarti karena kalah dengan suara 15 negara yang masuk ke dalam anggota security council (dewan keamanan) di PBB.

Masalahnya, lima anggota (Amerika, Rusia, China, Inggris, dan Perancis) adalah anggota tetap dan memperoleh hak Veto. Jadi, meskipun 99% anggota PBB setuju untuk mengecam tindakan Israel atas Palestina, kalau salah satu negara dewan keamanan itu tidak setuju, maka kecaman itu menjadi sia-sia.

Lebih-lebih, Israel sudah “punya” salah satu negara pemegang hak veto, Amerika. Maka, meskipun PBB sudah menemukan banyak pelanggaran HAM di Palestina. Selama Amerika tidak setuju, sia-sialah semua itu.

BACA JUGA  Tidjani, Ulama Madura Berkelas Internasional

Ingatlah, ketika tahun lalu dikabarkan bahwa Tepi Barat akan dicaplok secara serius saja, hampir seluruh dunia mengecam dan mengutuk tindakan Zinois. Mulai dari Rabi Yahudi yang anti Zionis, ribuan warga Palestina, Hamas dan Fatah, PBB, Liga Arab dan 25 negara Eropa (Belgia, Inggris, Estonia, Perancis, Jerman, Norwegia, Irlandia, dll), negara-negara Arab

(Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi), OKI (Organisation of Islamic Cooperation, yang terdiri dari 57 negara), Xi Jinping (Presiden China), Muhyiddin Yassin (Perdana Menteri Malaysia), Boris Johnson (Peradana Menteri Inggris), Vatikan, tidak lupa Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri-nya.

Demi mengehentikan aneksasi Tepi Barat, Semuanya bersuara sekeras-kerasnya. Bahkan Hamas sudah siap perang dengan segala persenjataan yang dimilikinya, kalau rencana tersebut tetap dilaksanakan juga.

Begitu pula dengan kejadian baru-baru ini di penghujung Ramadhan. Berupa serangan terhadap umat Islam dan Masjid al-Aqsha secara membabi buta sejak 25 Ramadhan. Tak peduli kapan, siapa, dimana, dan sedang apa. Bahkan yang sedang ibadah pun dihujani bom, peluru, dan gas air mata. Kebengisan, kekejaman, kekejian, sampai diskriminasi, terus-menerus menghujam fisik dan jiwa umat Islam di sana.

Tentu saja mayoritas umat Islam di dunia mengecam tindakan mereka. Khususnya Erdogan, masyarakat Turki dan Indonesia atas dasar negara dan agama. Tapi, mereka yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia dan sistem demokrasi pun seharusnya ikut mengecam, apapun agama dan ideologinya. Hanya mereka yang kurang akalnya dan yang tertutup hati nuraninya-lah yang tega membenarkan bahkan mendukung tindakan biadab, kurang ajar, dan terkutuk bangsa Yahudi.

Lalu apa dan bagaimana sikap kita? Bukan lagi saatnya kita berdiam diri menatap tragedi yang sedang dan akan menimpa Palestina dengan penuh duka dan luka. Sakit rasanya ketika kesalahan yang sama terus berulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada habisnya rasa malu tatkala melihat mereka, anak kecil sampai orang tua, berjuang habis-habisan demi tegaknya kemerdekaan negara sendiri.

BACA JUGA  Tauhid dan Ihsan

Maka saatnya memberikan kontribusi semampu kita. Kalau saat ini tidak bisa lewat fisik, mari optimalkan lewat yang lainnnya. Entah lewat keilmuan, harta, ataupun doa. Ingatlah, Theodor Herzl (The Father of Modern Zionism dan pencetus ide negara khusus orang Yahudi bernama Israel) memulai gerakannya (untuk merebut Palestina dan mendirikan negara Israel) bukan dengan perang senjata, melainkan dengan semua keilmuan yang ia miliki sebagai seorang wartawan handal.

Demi mewujudkan “ide gilanya”, Herzl harus menggagas, merencanakan, melobi, mencari dana dan pendukung, dan meyakinkan banyak orang. Meski butuh 50 tahun tiga bulan untuk mendirikan negaranya sendiri (14 Mei 1948), optimisme selalu dipegangnya. Artinya, di samping tidak pernah pantang menyerah dan tak kenal lelah, ia juga sabar menanti hasil panen yang sudah ia tanam sejak lama.

Kalau mau lihat hasilnya, lihatlah kondisi Palestina yang saat ini masih penuh duka dan luka. Dan lihatlah bangsa Yahudi yang sekarang ini sedang menikmati hasil jajahannya dengan wajah tanpa dosa. Meskipun belum lama ini Tel Aviv mendapat paket spesial dari al-Qassam sampai harus meminta gencatan senjata usai perang 11 hari.

Ingatlah, masalah Palestina adalah masalah seluruh umat Islam di dunia, termasuk kita. Keimanan lah yang mempersaudarakan kita. Kita semua, termasuk Semua Muslim Palestina ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan lainnya. Juga ibarah satu tubuh yang sama-sama ikut merasakan suka dan duka.

Jangan sampai menjadi orang yang acuh dan tidak peduli. “Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam lainnya, maka dia bukan termasuk umatku,” sabda Nabi termulia.

Penulis adalah pemenang ke-3 Lomba Menulis InPAS pada Juli-Juli 2021

 

BACA JUGA  Jangan Tergiur Aliran Sesat!

Last modified: 24/07/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *