Category: Artikel

Sejarah Peradaban

Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah

Inpasonline.com, 21/07/11

Oleh: Asep Sobari

(Peneliti INSISTS Jakarta Bidang Sejarah/ Alumnus Universitas Madinah)

 

Seputar Terminologi Yahudi Dan Bani Isra’il

Yahudi dan Bani Isra’il merupakan kata yang selalu digunakan pada periode Sirah untuk  menyebut para pengikut ajaran Taurat. Meskipun tampak menonjolkan aspek keagamaan,  tapi  sebenarnya  ada  perbedaan  mendasar  antara  keduanya.  Bahkan,  pemaknaan  Yahudi sendiri  tidak  bersifat  baku,  melainkan  mengalami  perkembangan  yang  cukup  radikal mengikuti fase­fase sejarah yang dilalui oleh salah satu rumpun bangsa Semit ini.

Pada dasarnya, kata Yahudi merupakan penisbatan yang memiliki sifat hubungan darah, yakni keturunan Yahuda (Yahudza) bin Ya`qub. Dari garis keturunan inilah lahir Dawud as.  dan  Sulaiman  as. yang  merupakan  simbol  kebesaran  bangsa  ini  sepanjang  masa. Kebanggaan Yahudi adalah kata yang dinisbatkan kepada Yahuda, salah seorang putera Nabi Ya`qub as.

Sejarah Peradaban

Peran Kolonial Belanda Dalam Konflik Islam dan Jawa

M. Masykur Ismail

(Peneliti InPAS)

 

Inpasonline.com, 09/07/11

Pendahuluan

Para pengkaji sejarah Islam di Indonesia hampir semuanya sepakat bahwa Islam disebarkan dan dikembangkan di wilayah Nusantara ini dengan cara yang damai. Pada umumnya, penduduk di kepulauan ini menerima dan memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad (saw) ini secara suka rela, tanpa dilatarbelakangi dengan adanya suatu paksaan atau tekanan. Tentu saja keyakinan akan kebenaran ajaran Islam menjadi pertimbangan utama penduduk Nusantara waktu itu, di samping pertimbangan politis dan ekonomis.[1] Tidak heran jika ajaran dan kebudayaan Islam mengalir sangat deras dari tanah Arab maupun wilayah Islam lainnya ke tanah Indonesia ini. Bahkan agama Islam menjadi agama mayoritas yang dipeluk oleh penduduk Nusantara, dan dalam batas tertentu, Islam menjadi pembentuk jati diri penduduk Indonesia.

Pemikiran Islam

Perbedaan Umat tentang Kedudukan Iman

Abdul Hakim

(Peneliti InPAS/Dosen UIN Malang)

 

Inpasonline.com, 25/06/11

Salah satu tema yang sering diperdebatkan oleh kaum muslimin adalah kedudukan iman, apakah tetap atau naik-turun. Tema ini menarik, karena telah menjadi bahan perdebatan sejak zaman dahulu, bahkan sering dijadikan alasan untuk menganggap sesat orang atau kelompok lain yang memiliki pendapat yang berbeda.

Sejarah Peradaban

Mongolia dalam Lintasan Sejarah Islam

Kartika Pemilia Lestari*

 

Inpasonline.com, 21/06/11 

Tidak ada teror dan kekejaman yang lebih tragis dalam sejarah Islam dibandingkan dengan apa yang diperbuat oleh bangsa Mongol. Laksana avalanche, pasukan Jenghiz Khan menggasak habis seluruh pusat peradaban dan kebudayaan Islam, mereka selalu meninggalkan puing-puing berantakan di setiap tempat yang mereka lalui, dimana sebelumnya berdiri istana-istana, kota dengan taman-taman yang indah dan kebun-kebun gandum yang subur. Ketika tentara Mongol bergerak meninggalkan kota Heart, hanya tersisa 40 orang yang hidup dari 100.000 penduduknya. Bukhara yang terkenal dengan alim ulamanya, mengalami nasib yang sama, masjid diinjak-injak, al-Qur’an dan kitab-kitab agama dijadikan kayu bakar, seluruh kota diratakan dengan bumi, orang-orang yang tidak terbunuh alias masih hidup, digiring sebagai tawanan dan budak. Demikian juga halnya kota demi kota lain di Asia Tengah, yang pada waktu itu telah mencapai tingkat kebudayaan yang tinggi sebagai pusat-pusat peradaban Islam, mengalami kehancuran yang sukar digambarkan : Samarkand, Balkh, bahkan Baghdad yang berabad-abad menjadi ibukota dinasti Abbasiyah.

Pemikiran Islam

Wacana Kebenaran Agama Dalam Perspektif Islam (2 habis)

 Oleh: Dr. Anis Malik Thoha

(Dosen Ilmu Perbandingan Agama International Islamic University Malaysia)

 

a.      Islam dan Klaim Kebenaran Agama

          Masalah hubungan Islam dengan agama-agama lain beserta klaim-klaim kebenarannya secara teologis sudah selesai, settled, dan final. Adalah Allah s.w.t. sendiri yang telah menuntaskan masalah ini sejak awal lewat wahyuNya, al-Qur’Én, dan bukan orang-orang Islam atau ulama-ulamanya lewat “tafsir hermeneutik”nya, apalagi berdasarkan “images” mereka seperti yang dituduhkan dengan sinis dan menyakitkan oleh Jacques Waardenburg, dalam sebuah makalahnya ‘World Religions as Seen in the Light of Islam.’[i] Oleh karenanya, tak selayaknya seorang Muslim mengingkari hal ini, sebab al-Qur’Én adalah merupakan otoritas keagamaan yang tertinggi, dimana teks-teksnya tak pernah berubah (dan berkat jaminan Allah s.w.t., tak akan pernah berubah sampai Hari Kiyamat), begitu juga gramatika bahasa Arabnya. Sehingga prinsip-prinsip dasar yang dikandungnya bisa difahami manusia modern dengan tingkat kejelasan yang tidak beda dengan apa yang difahami orang-orang Arab pada zaman Rasulullah s.a.w.