Category: Artikel

Fikih dan Syariah

KH. Hasyim Asy’ari dan Penegakan Akidah

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Oleh Kholili Hasib[1]

Akidah merupakan pondasi sakral dalam agama. Penyimpangan akidah berarti menegasikan agama Islam itu sendiri. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama’, ketika hidup di masa kolonial Belanda mencermati bahwa banyak aliran-aliran pemikiran yang bisa melunturkan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Fikih dan Syariah

Paham Feminisme dan Dampaknya terhadap Dekonstruksi Studi Islam

Oleh Kholili Hasib

Pendahuluan

Belakangan ini sedang diperdebatkan RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) di DPR-RI. RUU KKG ini disinyalir membawa paham feminisme.  Secara mendasar, RUU tersebut bertentangan dengan syari’ah Islam. Feminisme yang lahir dari peradaban Barat sekular menuntut peran perempuan sama (equal) dengan laki-laki di semua aspek kehidupan. Akibatnya, bukan keadilan yang ditampilkan, akan tetapi  penyimpangan terhadap fitrah wanita, merusak tatanan hukum Islam dan pembongkaran studi keislaman.