Kritik Sunni terhadap Syiah
Oleh Kholili Hasib*
Semenjak kasus Bangil 15 Pebruari 2011 -tahun lalu- hingga kasus Sampang 29 Desember 2011 baru-baru ini, Syiah menjadi sorotan publik. Beragam respon -baik dari tokoh maupun media- telah mengemuka, yang kesemuanya bisa menjadi alasan agar kita lebih membuka akar persoalan yang sesungguhnya. Kritik yang ditujukan kepada Syiah sejauh ini tampak masih rasional dan proporsional, sebagaimana yang telah ditulis oleh Prof. Dr. Mohammad Baharun (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat) di harian Republika pada 24/01/2012.
Situs Tralaya, Bukti Sejarah yang Diabaikan Orientalis
Oleh M. Masykur Ismail
Situs Tralaya merupakan sebuah komplek pemakaman Islam yang berada di pusat lokasi peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Ciri khas keislaman situs tersebut ditunjukkan dengan adanya tulisan Arab di beberapa nisannya yang berupa kalimat tauhid, ayat-ayat Al-Qur’an maupun doa-doa khas Islam. Situs ini ditemukan dan dikenal sejak abad XIX, dan diakui sebagai salah satu bukti eksistensi penganut agama Islam di zaman Majapahit.
Toleransi Nabi Saw kepada Yahudi
Oleh Asep Sobari
Kedatangan Nabi Saw ke Madinah tidak hanya sebagai orang asing yang hijrah dari tanah kelahirannya. Tapi sekaligus menempatkan beliau sebagai pemimpin di kota Hijaz tersebut. Keputusan penduduk Madinah menyerahkan jabatan ini kepada Nabi Saw tidak dilakukan secara spontan, melaikan melalui proses panjang yang bermuara pada peristiwa tiga tahun sebelumnya, ketika sejumlah tokoh Khazraj menyatakan masuk Islam di Mekah.
Menurut riwayat Ibnu Ishaq dalam as-Sirah an-Nabawiyyah, ada enam tokoh muda Khazraj yang ditemui Nabi Saw pada musim haji tahun 3 sebelum hijrah. Mereka adalah As`ad bin Zurarah, `Auf bin Harits, Rafi` bin Malik, Quthbah bin `Amir, `Uqbah bin `Amir, dan Jabir bin Abdullah. Setelah berbincang dengan Nabi Saw, merakapun menyatakan diri memeluk Islam dengan sangat antusias. Bagi mereka, menerima Islam tidak hanya menghapus dahaga spiritual semata, tapi juga mengembangkan harapan yang sangat besar kepada sosok Nabi Saw dan ajarannya, agar menjadi unsur pemersatu bagi seluruh kelompok masyarakat di Madinah yang telah sekian generasi tercabik-cabik oleh permusuhan dan dendam.
Optimalisasi Pesantren dalam Membangun Peradaban
Oleh Kholili Hasib*
Peran keilmuan pesantren dalam masyarakat tidak diragukan, akan tetapi kita tidak pula menafikan adanya proses yang terlewatkan. Proses pengajaran integral barangkali yang saat ini perlu dioptimalkan.
Keterlambatan pembangunan peradaban Islam, kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil – pengamat pemikiran – disebabkan dinamisasi konsep ilmu fardhu ‘ain (ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim) dan fardhu kifayah (ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagaian kalangan muslim) yang kurang dalam sistem pengajaran. Padahal, dinamisasi konsep yang holistik tersebut berperan membangkitkan kualitas tradisi ilmu dalam sebuah peradaban.