Mensikapi Perbedaan Penetapan 1 Syawal
Menjelang Ramadhan yang lalu, para ulama dan umara, khususnya di Indonesia, dihadapkan pada wacana perbedaan awal Ramadhan. Dan menjelang Idul Fitri, kita kembali menghadapi situasi yang sama untuk menetapkan tanggal 1 Syawal. Seringkali masyarakat awam dibingungkan dengan perbedaan dalam penetapan tanggal Hijriah. Seberapa krusial hal ini perlu untuk dibahas? Berikut ini paparannya.
MUI: Televisi Masih Jauh dari Spirit Ramadhan
Tayangan televisi di bulan Ramadhan dinilai masih ada yang tidak relevan dengan sipirit Ramadhan. Demikian hasil pantauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap tayangan televisi di bulan Ramadhan 1432 H ini. MUI masih menemukan muatan televisi kurang sejalan dengan standar penyiaran baik yang diatur dalam undang-undang.
Berjuluk ‘Kota Santri’, Pasuruan Masih Abaikan Raperda Miras, Prostitusi dan Ramadlan
Inpasonline.com, 24/08/11
Gelar sebagai kota santri ternyata belim menjamin kota Pasuruan bebas dari maksiat. Bahkan di salah satu daerah di kabupaten ini terdapat kampung lokalisasi Tretes yang cukup terkenal.
Di bulan Ramadlan, warung-warung di terminal dan sudut-sudut kota juga masih bebas buka di siang hari. Habib Abu Bakar Hasan Assegaf, salah satu ulama’ berpengaruh di Pasuruan mengaku prihatin dengan kondisi ini. Ia miris, melihat banyaknya warung-warung yang masih bebas buka di siang hari.
Penetapan 1 Syawal 1432 H. Berpotensi Tidak Sama
Inpasonline.com, 23/08/11
Lebaran tahun ini dikhawatirkan akan berbeda hari antara penetapan pemerintah (Isbat) yang diperkirakan menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada Rabu (31/8) dengan keputusan Muhammadiyah yang sejak awal menetapkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa (30/8). Hal ini juga terlihat dari kalender mereka yang mencantumkan tanggal 1 Syawwal yang berbeda dengan kalender resmi pemerintah. Sementara NU, Persis dipastikan akan mengikuti keputusan pemerintah yaitu berlebaran pada Rabu (31/8) karena secara kebetulan berdasarkan kriteria yang mereka gunakan menghasilkan kesimpulan yang sama.
Negara-Negara Adidaya di Bidang Ilmu Pengetahuan
Inpasonline.com, 23/08/11
Pada negara-negara yang telah mengalami kemajuan Iptek, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional merupakan salah satu ukuran penting untuk mengukur kualitas penelitian. Di beberapa negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang, jumlah dan kualitas paper ilmiah yang dipublaksikan tersebut bahkan dijadikan salah satu ukuran untuk menentukan berapa besar dana penelitian yang akan diberikan pada laboratorium tersebut. Paper ilmiah dianggap cukup mewakili penilaian kualitas penelitian, mengingat paper tersebut akan diuji oleh para peneliti yang berkompeten di bidangnya sebelum dinyatakan layak untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah tersebut.