Ukhuwah Syi’ah–Sunnah dalam Timbangan
Oleh Ainul Yaqin
Pada sebuah kesempatan dialog, Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori punya pengalaman ‘menarik’. Seorang peserta dengan nada menggebu-gebu mengritik pedas keluarnya fatwa MUI Provinsi Jawa Timur tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah. Menurutnya, keluarnya fatwa tersebut bukan saja tidak memberikan contoh yang baik, tapi sangat mencederai ukhuwah Islamiyah. Si peserta ini juga menyodorkan buku berjudul Al-Muraja'at tulisan Abdul Husein Syarafuddin al-Musawi seorang tokoh Syi’ah yang telah di-Indonesiakan dengan judul Dialog Sunnah Syi’ah. Menurunya lagi, buku ini menyajikan sebuah dialog yang baik antara Ahlussunnah dan Syi’ah, sehingga darinya bisa disimpulkan bahwa Syi’ah adalah Sunni, dan Sunni adalah Syi’ah.
Tauhid Syiah dan Ahlussunnah Berbeda Jauh
Oleh Kholili Hasib
Tauhid dalam keyakinan Syiah dan Ahlussunnah memiliki sejumlah titik pembeda. Dalam keyakinan Syiah, tauhid yang murni dikonsepsikan satu paket dengan imamah. Imamah sendiri merupakan kepercayaan paling sentral. Kepercayaan terhadap imamah menjadi syarat mutlak untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apa Akar Persoalan Sunnah Kontra Syiah?
Oleh Kholili Hasib
Konflik Sunnah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah)-Syiah pecah lagi. Tapi, pihak berwenang masih enggan menelusuri akar persoalan secara baik. Penanganan ini harus melibatkan para ulama’. Pengamat kebudayaan atau aktivis LSM Liberal harus hati-hati memberi komentar.
Kisah Rhoma dan Urgensi Pemimpin Seiman
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4
Oleh M. Anwar Djaelani
Rhoma Irama bertambah popular di sekitar akhir Juli sampai pertengahan Agustus 2012. Sebab, si Raja Dangdut itu dituduh memainkan isu SARA terkait pemilihan Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta saat berceramah di sebuah Masjid di Jakarta. Ketika kemudian tuduhan itu tak terbukti, adakah pelajaran dari kasus ini?
Identitas Peradaban Nusantara dan Politik Nativisasi Belanda
Oleh Kholili Hasib
Dalam buku-buku sejarah Nasional telah lama ditulis bahwa, kebudayaan Hindu-Budha adalah identitas asli bangsa Indonesia. Bangunan-bangunan berupa candi merupakan salah satu identitas yang sering ditonjolkan. Sementara warisan peradaban Islam berupa karya-karya kitab, seni-seni Islami, masjid, pesantren dan lain-lain tidak dianggap peninggalan penting peradaban Nusantara meski pengaruhnya mengakar kuat secara luas di Nusantara.