Menangkal Teroris Dengan Kekerasan, Efektifkah?
inpasonline, 03/05/11
Sudah sangat sering rakyat disuguhi berita penumpasan terhadap terorisme. Tapi apa yang terjadi? Seakan teroris tidak pernah habis dari bumi Indonesia ini. Dan anehnya, justru bermunculan teroris-teroris lain yang berbeda aliran dan orientasi dengan teroris sebelumnya. Fakta ini dibuktikan oleh munculnya teroris seperti Syarif dan Pepi Fernando cs. Sebagaimana diberitakan, meskipun sama-sama pintar merakit bom, Syarif dan Pepi tidak ada keterkaitan hubungan apapun, termasuk orientasinya sekali pun. Jika Syarif dikenal sebagai pemuda fanatis yang tidak suka melihat ada kemungkaran, maka Pepi tidaklah seperti itu. Bahkan ia dikenal sering menenggak miras dan tidak perduli dengan urusan agama. Ia merakit bom dengan orientasi ekonomi, yakni liputannya akan dijual kepada pihak asing.
Meneropong Peran TKI Di Malaysia (Sebuah Catatan Di Hari Buruh Sedunia)
Mahasiswa Pascasarjana IIU Malaysia, Sekjen Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan Malaysia
Setiap kali berbicara mengenai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), maka secara spontan perbincangan tentang Malaysia pun ikut menghiasi ruang-ruang diskusi. Malaysia memang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan TKI. Realitas menunjukkan bahwa Jumlah TKI terbesar yang bekerja di luar negeri terdapat di Malaysia. Lalu Sejauh mana kontribusi TKI dalam pembangunan ekonomi Malaysia dan seberapa besar kepedulian pemerintah RI dalam melindungi TKI di Malaysia?
Toleransi Tak Memerlukan Pluralisme
Oleh M. Anwar Djaelani,
Dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya
Banyak tokoh (seperti ulama, pakar, budayawan) yang menolak film berjudul “?” (baca: Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo yang mulai ditayangkan 7/4/2011. Mereka menilai film itu mengampanyekan pluralisme, sebuah paham yang difatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2005.
Kontradiksi Pluralisme
Oleh : Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi
Ada dua kesan yang terbersit dari wajah pendukung pluralisme agama: kontradiksi tapi percaya diri! Kontradiksi karena mulutnya berbunyi toleransi tapi sorot matanya menyiratkan relativisme. Percaya diri karena merasa berada di jantung wacana postmodernisme.
Pentingnya Mendahulukan Dakwah Teologis
Dalam konteks sekarang dimana pemikiran postmodern mendominasi kaum liberal dan aliran sesat disokong atas nama HAM, diskursus tentang tauhid hendak direduksi. Bahkan jika perlu wacana ketuhanan dibuang total. Sebab, metafisika dan ketuhanan bagi kaum postmo diyakini ilusi yang memenjarakan. Dukungan muslim liberal terhadap 150 paguyuban aliran kepercayaan untuk dijadikan agama resmi, menolak Peraturan Bersama Mendagri&Menbudpar No 43–41 Tahun 2009, dan menolak pembubaran Ahamdiyah tempo hari hanya didasarkan atas HAM, bukan hukum Tuhan.