Belajar Menulis Buku ke “Tasawuf Modern”

Written by | Sejarah Peradaban

WhatsApp Image 2020-06-22 at 17.23.20 (1)

 

Oleh M. Anwar Djaelani,

aktif menulis artikel sejak 1996 dan penulis enam buku

Inpasonline.com-Hamka adalah penulis yang –rasanya- sulit ditandingi oleh rata-rata orang. Karya tulis Hamka, yang pendidikan formalnya tak sampai lulus Sekolah Dasar (SD), lebih dari seratus judul. Tafsir Al-Azhar adalah puncak prestasi kepenulisan ulama yang lahir pada 17/02/1908 itu. Sementara, karyanya -“Tasawuf Modern”- termasuk yang fenomenal. Hal menarik, berbagai kisah di balik buku “Tasawuf Modern” insya-Alllah dapat menginspirasi kita untuk juga bisa menulis sebagaimana Hamka.

****

Siapa Hamka? Oleh karena suka menambah ilmu secara otodidak –belajar sendiri-, Hamka menguasai banyak pengetahuan seperti –antara lain- agama, filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Di belakang hari, tak aneh, jika predikat yang disandangnya banyak seperti ulama, pemikir, sastrawan, wartawan, penulis, tokoh masyarakat, dan aktivis politik. Adapun sebagai ulama dan penulis/sastrawan, Hamka tak hanya dikenal di Indonesia tapi juga di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Lalu, bagaimana kisah terbitnya “Tasawuf Modern” dengan tebal 397 halaman itu? Judul buku itu adalah nama salah satu rubrik di majalah Pedoman Masyarakat yang terbit tiap pekan di Medan. Rubrik itu diasuh oleh Hamka yang sekaligus menjadi pemimpin di majalah itu.

Mulai ditulis pada pertengahan 1937, rubrik itu -berupa serial artikel yang menerangkan tentang bahagia- sangat disukai masyarakat. Tiap terbit majalah edisi baru, lalu hadir di rumah-rumah pelanggan, maka rubrik “Tasawuf Modern” termasuk yang paling awal dicari oleh pembaca. Kajian itu selesai tersajikan pada 1938. Total, tak sampai genap dua tahun.

Setelah selesai pada 1938 itu, banyak surat-surat yang datang kepada Hamka dan kepada “Asy-Syura” -penerbit Pedoman Masyarakat- supaya “Tasawuf Modern” dibukukan. Lalu, pada 1939 terbitlah edisi perdana buku itu dan dijuduli persis sama dengan nama rubriknya di majalah.

Agar sedikit punya gambaran, berikut ini Daftar Isi “Tasawuf Modern”. Ada tiga belas bab: 1).Pendapat-pendapat tentang Bahagia. 2).Bahagia dan Agama. 3).Bahagia dan Utama. 4).Kesehatan Jiwa dan Badan. 5).Harta Benda  dan Bahagia. 6).Qana’ah. 7).Tawakkal. 8).Bahagia yang Dirasakan Rasulullah Saw. 9).Hubungan Ridha dengan Keindahan Alam. 10).Tangga Bahagia. 11).Senangkanlah Hatimu. 12).Celaka. 13).Munajat.

Jika melihat masa tayang rubrik “Tasawuf Modern” yang berpekan-pekan di majalah Pedoman Masyarakat, maka tak mungkin hanya ada 13 judul kajian. Maka bisa diduga bahwa ada penggabungan dari sejumlah edisi menjadi satu bab. Mungkin, penggabungan itu –jika memang ada- didasarkan atas kesamaan pembahasan.

***

Buku “Tasawuf Modern” tergolong fenomenal: Pertama, sejak masih berupa seri artikel di majalah Pedoman masyarakat, tidak sedikit pembaca “Tasawuf Modern” yang terpikat. Hal ini karena mereka merasa mendapat manfaat darinya. Mereka, yang terpikat itu, mulai dari kalangan awam sampai terpelajar. Misal, ada pemuda Aceh yang mengaku mendapat penguatan iman dan jiwa. Ada seorang dokter di Manna –  Bengkulu Selatan, yang lewat surat menyatakan bahwa hati dia semakin teguh. Orang yang disebut terakhir ini, lalu bilang bahwa jika seorang dokter bisa dikatakan sebagai tabib jasmani, maka “Tasawuf Modern” adalah tabib rohani.

Di kesempatan lain dan orang yang berbeda, seorang dokter menasihatkan kepada pasien yang tengah dirawatnya agar membaca “Tasawuf Modern” guna menentramkan jiwanya dan melekaskan sembuhnya. Lalu, di lain-lain tempat, beberapa pasang suami-istri yang berbahagia mengatakan, bahwa “Tasawuf Modern” telah menjadi semacam patri –yang lebih menguatkan- kehidupan mereka yang berbahagia.

Kedua, tersebab tulisan-tulisan di “Tasawuf Modern”, Hamka lalu terhubung dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Agus Salim, M. Natsir, Isa Anshari, dan Hatta. Khusus tiga nama yang disebut pertama, kedekatan mereka dengan Hamka berlanjut sampai di kemudian hari sama-sama menjadi pengurus Partai Masyumi – partai Islam yang legendaris itu. Maka di titik ini, tak pelak, kisah persahabatan mereka menambah bukti bahwa tulisan bisa menjadikan “silaturrahim pemikiran” berkembang ke arah “silaturrahim di dunia nyata”.

BACA JUGA  Islamophobia

Ketiga, “Tasawuf Modern” terbilang laris dengan indikasi yaitu terus bertahan atau tersedia di pasaran. Sejak diterbitkan kali pertama pada 1939, sampai di 2020 –saat tulisan ini dibuat- masih terus dicetak ulang. Fakta lain, bahwa tiap keluar cetakan yang baru, ada saja yang membeli lagi. Apa pasal? Buku yang dimilikinya tak ada lagi di perpustakaannya karena berbagai sebab. Bisa karena dihadiahkan ke teman, bisa karena dipinjam kawan dan tidak dikembalikan lagi, serta sebab yang lain. Saya, termasuk yang membeli lebih dari sekali. Terakhir, yang saya beli cetakan Februari 2020.

Keempat, Hamka merasa pernah diselamatkan oleh “Tasawuf Modern”, buku yang dia tulis sendiri. Bahwa, Hamka –di masa Orde Lama, di tahun 1960-an- merasa terselamatkan oleh bukunya dari kemungkinan terjerumus kepada tindakan bunuh diri yang bisa membawanya ke neraka. Hamka merasa terselamatkan dari kemungkinan punya nama jelek, termasuk bagi anak-anak dan keturunannya di belakang hari. Ada apa?

Pada 27/01/1964, bertepatan dengan awal Ramadhan 1383 H, siang hari Hamka dijemput aparat keamanan di rumahnya. Dia ditangkap dan ditahan. Memang, dia bersama sejumlah aktivis Partai Masyumi ditahan secara sepihak oleh rezim Orde Lama dengan tuduhan akan melakukan makar dan merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno (www.nuun.id/ 23/03/2017).

Berhari-hari Hamka diinterogasi, tak kenal henti. Disebut berhenti hanya ketika makan dan shalat saja. Bahkan, di saat tidur pun diganggu. Rupanya, target aparat, harus ada pengakuan bersalah dari Hamka.

Mengingat Hamka memang tak melakukan hal yang dituduhkan, maka pemeriksa tentu tak bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan. Akhirnya, keluar kalimat provokatif dari pemeriksa: “Saudara pengkhianat, menjual negara ke Malaysia”.

Kalimat itu pendek, tapi sangat melukai hati Hamka. Gelap pandangan Hamka saat mendengar tuduhan “Pengkhinat, menjual negara ke Malaysia”. Gemetar Hamka menahan marah.

Betapa tak akan marah Hamka! Sebelumnya, selama hidup, tak ada yang berkata-kata kasar kepadanya. Dia berasal dari keluarga yang terpandang. Dia putra seorang Ulama Besar –Dr. Karim Amrullah- yang oleh karena itu sedari kecil telah mendapat penghormatan masyarakat. Sejak beranjak dewasa, Hamka sendiri adalah aktivis dakwah yang turut membangun masyarakat terutama dari aspek keagamaan. Tulisan-tulisannya sangat menginpirasi banyak pembaca. Di latar Indonesia, Hamka adalah salah satu tokoh nasional yang giat berusaha menguatkan negeri ini termasuk lewat sisi politik. Sebagai Ulama Besar, pada 1959, posisinya itu diakui oleh Universitas Al-Azhar Mesir yang berkenan menganugerahi Hamka gelar Doktor Honoris Causa.

Tuduhan “Pengkhianat dan penjual negara ke Malaysia” membuat Hamka sangat terpukul. Kala itu, andai menuruti marah, bisa saja Hamka “membuat perhitungan” dengan si pemeriksa yang ada di depannya. Tapi, jika itu dilakukannya, sebutir peluru tak sulit untuk mengakhiri hidupnya. Lalu, besoknya dapat disiarkan di berbagai media, bahwa Hamka lari dari tahanan, dikejar, dan tertembak mati.

Hamka sadar dan lalu terduduk. Hamka menangis.

“Janganlah saya disiksa seperti ini, bikinkan saja satu pengakuan bagaimana baiknya. Akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian –pengkhianat dan penjual negara- janganlah kalian ulangi lagi,” pinta Hamka ke pemeriksa.

“Memang Saudara pengkhianat,” kata pemeriksa itu lagi sambil pergi.

Remuk hati Hamka! Lalu, datang tamu tak diundang, setan. Dia bisikkan ke Hamka, ada silet di sakunya. Dengan alat –benda tajam- itu, dia bisa bunuh diri agar masyarakat tahu bahwa Hamka mati karena tidak tahan menderita akibat penahanan yang sewenang-wenang.

Hampir satu jam terjadi perang hebat di diri Hamka, antara ikut rayuan setan atau bertahan dengan iman yang telah dibina berpuluh-puluh tahun. Di pertarungan batin yang sengit itu, Hamka sampai sempat membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak-anak di rumah.

BACA JUGA  Imam al-Syafi’i, Pembuka Kunci untuk Para Ahli Hadits

Hamka lalu berpikir, jika dia bunuh diri maka mereka yang menganiaya itu akan menyusun “berita indah”, bahwa: Hamka kedapatan bunuh diri karena malu setelah polisi menunjukkan beberapa bukti atas pengkhianatannya. Tentu, ini akan menghancurkan nama baik Hamka yang telah diperolehnya lewat jalan panjang perjuangan puluhan tahun.

Hal lain, jika dia bunuh diri, nanti akan ada orang yang berkata bahwa dengan bukunya –“Tasawuf Modern”- Hamka menyuruh orang agar sabar, tabah, dan teguh hati bila mendapat ujian Allah. Orang-orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya, tapi dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembaca bukunya masuk surga karena bimbingannya, sementara Hamka di akhir hayatnya memilih neraka.

Setelah sempat terjadi pergulatan batin yang tak ringan, alhamdulillah, iman Hamka menang. Hamka terlepas dari kemungkinan terpedaya setan.

Setelah pemeriksaan yang bernuansa horor karena sangat menekan batin Hamka itu, penahanan tetap berlanjut. Sampai suatu saat, karena sakit, Hamka dipindah ke salah sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Di sana, kepada anaknya, Hamka minta dibawakan buku “Tasawuf Modern”.

Di Rumah Sakit, Hamka membaca karyanya sendiri. Kenyataan ini, menarik perhatian seorang teman Hamka saat datang menjenguknya.

“Eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka,” seru si teman.

“Memang, Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri, sesudah selalu memberikan nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini, sebab telah banyak orang memberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku ‘Tasawuf Modern’ ini,” respon Hamka.

***

Setelah sebelumnya kita tahu bahwa sebenarnya buku “Tasawuf Modern” itu adalah kumpulan tulisan, sekarang kita lihat sejumlah “pengakuan” Hamka yang bisa mencerahkan pikiran kita. Mari cermati beberapa hal berikut ini!

Pertama, soal manfaat referensi di buku “Tasawuf Modern”. Dengan rendah hati Hamka mengaku bahwa “Tasawuf Modern” itu bukan ciptaan otaknya, bukan dari filsafatnya yang waktu itu masih berusia muda dan masih sedikit pengetahuan. Karya itu, kata Hamka, hanya “Tilik dari buku-buku karangan ahli-ahli filsafat dan tasawuf Islam, lalu dibandingkan dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi”. Juga, lanjut Hamka, “Dilihat pula karangan-karangan filsafat-filsafat Barat yang diterjemahkan dalam bahasa Arab”. Lebih jauh, “Ambil di sana sedikit dan di sini sedikit pula, lalu dipertautkan dengan pemikiran, pengalaman, dan penderitaan sendiri,” aku Hamka.

Lalu, tanpa beban dan bahkan dengan nada berterima kasih, Hamka menyebut beberapa referensi yang dipakainya saat menulis “Tasawuf Modern”. Di antara kitab yang disebut Hamka adalah karangan Imam Al-Ghazali seperti “Ihya’ Ulumiddin”, “Arbain fi Ushuluddin”, “Bidayah Al-Hidayah”, dan “Minhajul ‘Abidin”.

Hamka membaca pula “Tahdzibul Akhlak” karya Ibnu Maskawaih, beberapa risalah dari Ibnu Sina, Tafsir Muhammad Abduh, “Ar-Radd ‘alad Dahriyin” karya Jamaluddin Al-Afghani, “Aadab al-Dunya wa al-Din” karya al-Mawardi, “Al-Khuluqul Kamil” karya Muhammad Jadil Maula, “Hayatu Muhammad” dan “Fi Manzilil Wahyi” karya Husain Haikal. Pun, dibacanya “Thaharatul Qulub” karya ad-Darini ash-Shufi”, “Riyadhus Shalihin” karya An-Nawawi, dan lain-lain. Tak ketingggalan, dibaca pula kumpulan majalah Al-Hilal dan kumpulan majalah Al-Azhar.

Kedua, hal yang diperlukan adalah kemampuan merangkai berbagai pandangan dari tokoh atau buku yang kita kutip. Bahwa di saat menulis, yang dilakukan Hamka adalah “Pertautkan di sana dan di sini, rekat dengan pemikiran sendiri, kumpulkan kata si anu kata si fulan”. Lalu, jika hasilnya kita akui sebagai karya kita, maka –kata Hamka- hal yang demikian itu seperti apa yang pernah dikatakan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi yang masyhur, bahwa “Tidaklah ada yang kita dapatkan selama umur kita ini, selain dari mengumpulkan kata si fulan dan si anu”.

Terkait proses kreatif menulis buku, dengan rendah hati Hamka mengaku: “Kalau mengumpulkan dan mempertautkan (pendapat orang, pen.) sudah boleh dinamai tulisan, kalau memasukkan pemikiran dan penderitaan kita sendiri itu barang sedikit sudah bernama gubahan, maka bolehlah pembaca sebut ‘Tasawuf Modern’ ini gubahan atau tulisan saya”.

BACA JUGA  “Islam Nusantara”: Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam?

Ketiga, Hamka mendorong masyarakat untuk giat dan bersemangat menulis. Banyak bahan yang bisa diangkat. Banyak materi yang  bisa dikembangkan. Bahkan, banyak pula naskah yang bisa diterjemahkan dan jika perlu dilengkapi dengan penjelasan kita. “Jika menyusun buku ini –‘Tasawuf Modern’- sudah boleh disebut berharga, maka masih banyak lagi rahasia Islam yang patut diketengahkan, dibahasakitakan, supaya yang tak sanggup mengetahui bahasa Arab mengetahui pula akan rahasia agamanya. Jadi, masih kecil sekali harganya pekerjaan ini,” kata Hamka.

***

Alhasil, jika diringkas, berbagai pelajaran dari “Hamka dan Tasawuf Modern” itu sebagai berikut: Pertama, buku “Tasawuf Modern” tak dibuat secara sengaja sejak awal sebagai buku. Di sini, kita bisa menirunya. Hanya saja, langkah meniru ini kita tingkatkan sedikit. Sila berniat menulis buku dengan cara mencicil. Caranya, rajinlah -dan untuk ini perlu dijaga secara ketat pelaksanaannya- untuk menulis secara rutin. Bisa tiap hari satu artikel, tiap pekan satu artikel, dan seterusnya. Mengingat sudah ada niat sebelumnya, maka ada baiknya sejak awal sudah dibuat semacam “Pohon Pikiran” alias Daftar Isi dari calon buku kita. Setelah itu, mulailah menulis dengan cara mencicil berpanduan “Daftar Isi” itu.

Kedua, buku “Tasawuf Modern” tak ditulis oleh orang yang punya gelar formal akademik. Hamka itu bahkan tak sampai menyelesaikan SD-nya. Artinya, menulis buku bisa dilakukan oleh siapa saja asal punya modal suka membaca dan rajin belajar sendiri seperti Hamka. Jangan pernah berpikir, misalnya: Siapa saya? Pantaskah saya menulis buku?

Ketiga, jangan pernah punya anggapan bahwa 100% isi buku itu harus keluar dari pikiran kita sendiri. Pasti ada –sedikit atau banyak- yang perlu kita kutip dari pendapat atau buku orang lain. Langkah mengutip itu –sesekali atau bahkan sering- memang diperlukan untuk mendukung dan menguatkan atas apa yang kita uraikan. Juga, untuk sekadar membandingkan atas apa yang kita tulis. Sebagai wujud pertanggungjawaban ilmiah, bersamaan dengan aktivitas mengutip itu, ada Catatan Kaki dan Daftar Pustaka di buku kita.

Keempat, pilih satu tema yang paling kita suka dan kuasai. Jika Hamka memilih tema “bahagia”, bisa saja kita pilih tema –misalnya- “adab”, “ilmu”, “iman”, “hijrah”, “jihad”, “keluarga sakinah”, dan seterusnya. Kaji satu tema yang kita pilih sampai tuntas, lalu jadikan buku.

Kelima, di mana kita muat tulisan kita? Di zaman digital, banyak pilihan. Pilihan pertama, di blog pribadi kita. Berikutnya, di media sosial semisal di Facebook atau di grup WhatsApp. Ada keuntungan yang bisa diperoleh dengan cara pemuatan tulisan di media sosial, yaitu berkemungkinan kita bisa mendapat umpan balik –bisa kritik dan/atau saran- dari pembaca.

Keenam, setelah satu tema selesai, bersegeralah untuk menulis buku dengan tema yang lain. Insya-Allah akan banyak karya buku kita.

Ketujuh, asalkan ditulis secara serius, buku kita insya-Allah akan berhasil. Di titik ini, kecuali “Tasawuf Modern”, saya kira banyak buku lain -yang cara penulisannya sama- juga sukses di sisi pemasaran. Saya menduga, buku fenomenal “La Tahzan” karya ‘Aidh Al-Qarni juga ditulis serupa dengan cara yang telah Hamka lakukan yaitu mengumpulkan berbagai tulisan yang pernah dibuat. Kita tahu, “La Tahzan” terjual jutaan copy di dunia. Di Indonesia, buku itu juga laris manis.

***

Semoga sepenggal perjalanan kepenulisan Hamka -yang wafat pada 24/07/1981- bisa menginspirasi kita, dalam berdakwah lewat tulisan. Semoga kisah Hamka -yang pada 2011 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional- dapat menerbitkan semangat kita dalam menulis buku. []

 

 

Last modified: 24/06/2020

2 Responses to :
Belajar Menulis Buku ke “Tasawuf Modern”

  1. Resensi yang hebat

  2. Suparno says:

    Terimakasih Bapak tulisan Bapak memginspirasi saya, untuk menulis. Walaupun saya tidak sehebat Bapak. Saya akan terus menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *