Media Dan Peristiwa Jemaat Gereja HKBP
Inpasonline, 18/09/10
Peristiwa penganiayaan dan penusukan terhadap jemaat gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) tentu mengagetkan semua orang. Hampir semua media melaporkan peristiwa ini. Bahkan Jawa Pos menjadikan berita ini sebagai headline dengan gambar yang sangat besar pada hari Selasa, 14 September 2010. Harian Kompas juga menurunkan berita ini beberapa hari berturut-turut dari Selasa hingga Kamis, 14-16 September 2010. Tidak ketinggalan juga, TVONE menghadirkan pengacara dari Jemaat HKBP, untuk mengulas lebih dalam peristiwa tersebut.
Akal-Akalan Amerika di Balik Isu Terorisme
Oleh; Muhammad Rais
Sekjen Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan Malaysia
Hari ini tepat 9 tahun peristiwa hancurnya gedung kembar World Trade Center (WTC) dan gedung Pentagon (markas departemen pertahanan Amerika Serikat). Amerika Serikat atau AS secara yakin mengatakan bahwa al-Qaeda bertanggung jawab atas peledakan itu. Walaupun sampai saat ini, mereka belum mampu membuktikan tuduhan tersebut. Lalu mengapa Osama hinggi kini belum tertangkap? Siapakah sebenarnya teroris yang diincar AS? Apa motif di balik isu terorisme ini?
Batal Pembakaran, Perobekan Al-Qur’an Jadi Gantinya
Inpasonline, 15/09/10
Setelah dunia mengutuk rencana pembakaran Mushaf Al-Qur’an, akhirnya rencana tersebut dibatalkan oleh penggagagasnya, Terry Jones, seorang Pastor gereja Dove World Outreach Center di kota universitas Gainesville Florida, AS. Pembatalan itu terjadi setelah hampir semua pihak memprotes rencana tersebut.
Hasyim: Jangan Kaitkan Peristiwa Jemaat HKBP dengan Agama
Inpasonline, 13/09/10
KH. Hasyim Muzadi mengingatkan semua pihak untuk tidak mengaitkan peristiwa penusukan dan penganiayaan terhadap Jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan agama. Mantan ketua PBNU itu juga mengingatkan agar semua pihak waspada terhadap pihak yang mau menunggangi peristiwa ini dan menyeret pada konflik agama.
Qirâ’at Dalam Perspektif Orientalis: Kajian Kritis
Oleh: Iskandar Zulkarnaen
A. Pendahuluan
Dalam studi Ilmu Al-Qur'an dikalangan Orientalis,[i] adanya "keragaman bacaan al-Qur'ân" menjadi satu pintu masuk untuk menggulirkan keraguan terhadap otentisitas teks Al-qur'ân (mushaf Utsmani). Salah seorang orientalis yang termasuk paling awal mengangkat masalah perbedaan qirâ'at dengan ortografi Mushaf Utsmani adalah Noldeke.[ii] Dalam pandangannya, tulisan Arab menjadi penyebab perbedaan Qira'at.[iii] Senada dengan Noldeke, Ignaz Goldziher[iv] juga demikian. Ia mengatakan bahwa qirâ'at teks al-Qur'ân yang berbeda-beda kadangkala mencerminkan satu titik orientasi yang mengingatkan bahwa teks al-Qur'ân yang diterima secara luas sebenarnya bersandar pada keteledoran penyalin teks naskah sendiri.[v] Bagi Goldziher, dibakukannya cara baca serta pembukuan Qur'ân oleh khalifah Utsman bin Affân ra itulah yang memunculkan polemik seputar otentisitas mushaf Utsmânî. Seperti Noldeke dan Goldziher, di dorong oleh motivasi mengumpulkan qirâ'at lemah dan menyimpang, Gotthelf Bergstrasser berupaya mengedit karya Ibn Jinnî dan Ibn Khalâwayh.[vi] Kemudian dilanjutkan oleh Arthur Jeffery,[vii] orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American University Cairo dan menjadi guru besar di Columbia University ini, konon ingin merestorasi teks Al-Qur'ân berdasarkan Kitab al-Mashahif karya Ibn Abi Dawud as-Sijistani yang ditengarai merekam bacaan-bacaan (Qirâ'at) dalam beberapa mushaf tandingan' (Rival Codices).[viii] Demikian pendapat Noldeke, Goldziher, Bergstrasser dan Arthur Jeffery.