Politik Liberalisasi Amerika Serikat terhadap Pendidikan Islam di Indonesia – Tinjauan Kritis atas Globalisasi (Tulisan 2)
Oleh Kartika Pemilia Lestari*
A. AS dan Dekonstruksi Pendidikan Islam di Indonesia
Peristiwa 11 September 2001 menandai babak baru dalam proses globalisasi. Kini, setelah peristiwa dramatis tersebut, upaya-upaya Barat untuk menyebarkan nilai, ide, konsep, sistem dan kultur Barat ke Dunia Islam semakin gencar dan merupakan kerjasama kompak antara Barat kolonialis, orientalis, dan misionaris. Karena hal ini berkaitan dengan pemikiran, maka medium yang digunakan untuk menyebarkan konsep dan pemikiran Barat adalah medium untuk pemikiran yang berupa karya-karya ilmiah, seperti buku, makalah-makalah dan workshop-workshop maupun berupa opini di media elektronik dan media massa. Namun, medium yang paling efektif bagi penyebaran teori, konsep, dan ideologi adalah bangku-bangku kuliah di perguruan tinggi melalui mulut para intelektual, ulama, saintis, budayawan, dan sebagainya. Melalui berbagai sarana inilah maka secara teknis; paham, ide, konsep, sistem dan teori liberalisme Barat disebarkan ke Dunia Islam.[1]
PKU ISID Gontor Daurah ke Kuwait
Kuwait City - Untuk pertama kalinya, Program Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor mengikuti daurah pelatihan calon da’i di Kuwait. Daurah ini diadakan oleh Markaz al-Wasathiyyah Kuwait. Kebetulan di Kuwait juga memiliki program pendidikan calon Ulama’. Kegiatan ini di bawah naungan Kementrian Wakaf Kuwait.
NU Akan Menyusun Tafsir Tematis Pengelolaan Sampah
Inpasonline, 27/05/11
Neo-Orientalis Dalam Sorotan Islamia-Republika
Inpasonline, 25/05/11
Di Bulan Mei ini, Islamia-Republika menyoroti sepak terjang orientalis masa kini, atau yang biasa disebut neo-orientalis. Sebagian kalangan beranggapan bahwa kajian neo-orientalis ini terhadap Islam lebih objektif dari pendahulu mereka, sehingga tidak canggung mengadopsi hasil kajiannya. Tapi bagi para penulis Islamia-Republika ini justru tidak banyak perubahan dalam kajian orientalis. Sebagian mereka memang ada yang obyektif dan jujur dengan kajiannya, tetapi mayoritas dari mereka tetap tidak percaya dengan Islam, bahkan memusuhinya.Pelajar Kita Belajar Apa?
Oleh M. Anwar Djaelani
Akhlaq (setidaknya sebagian) pelajar semakin memrihatinkan? Lihat di Pamekasan, misalnya. Jika di tahun 2010 saat konvoi perayaan kelulusan, sejumlah siswi menyobek roknya serta melepas kerudungnya dan dikibar-kibarkan, maka -seperti ditulis www.kompas.com 16/5/2011- di 2011 ada siswi yang kedapatan bertelanjang dada.