MUI: Jangan Asal Datang, Lihat Keterkaitan NII KW IX dengan Al-Zaytun
Inpasonline, 19/5/11
Sikap Menteri Agama yang terkesan membela Al-Zyatun mendapat respon dari MUI Pusat. Menurut MUI, untuk membuktikan keterkaitan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan asal datang ke Ma'had Al Zaytun.
Hedi Muhammad: Pernyataan Menteri Agama tentang Al-Zaytun Prematur
Kamis pagi (12/5) Hedi Muhammad,Koordinator Tim Investigasi Aliran Sesat [TIAS] Sekretaris Jenderal Forum „Ulama Ummat Indonesia [FUUI], mengatakan bahwa pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali mengenai Al-Zaytun tidak terkait NII-Gadungan, sebagai pernyataan prematur.
Hedi Muhammad juga mengatakan bahwa Menteri Agama tidak mengkaji terlebih dahulu hasil penelitian Litbang Depag yang justru menemukan hubungan antara NII-Gadungan dengan Al-Zaytun.
Pada siang harinya Menteri Agama membantah dengan mengatakan: “Bisa saja dibilang prematur. Tapi yang saya sampaikan itu konfirmasi dari penelitian litbang. Litbang sangat komprehensif dari guru, murid dan literatur, juga kurikulum. Penelitian itu bukan penelitian abal-abal, tapi punya kualitas.” Dan keesokan harinya Menag berkata: “Saya sendiri sudah membaca juga hasil penelitian itu”.
Berikut Wawancara dengan Hedi Muhamamad:
Kuasai Ilmu Syar’i Dulu, Baru Pelajari Teori Barat
Salah satu tantangan pesantren saat ini adalah munculnya pemikiran dekonstruksi ilmu syar’i. Seperti misalnya yang telah berkembang, yakni mengganti makna agama, kerancuan konsep Tuhan dan doktrin teologi global yang mengajarkan pluralisme. Pesantren yang memiliki Ma’had ‘Aly (perguruan tinggi pesantren) perlu meresponnya dengan benar.
Pendidikan Islam Integral Dalam Kerangka Teori (Tela’ah Konsep Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al Attas)
A. Pendahuluan
Pendidikan dewasa ini hampir kehilangan pamornya sebagai suatu proses yang mengantarkan setiap anak Adam menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang secara pribadi dapat memerankan dirinya ditengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai problem solver, yang selanjutnya manusia disebut dengan makhluk sosial. Kenyataan ini dapat dilihat dari adanya pergeseran paradigma (paradigm shift) pada masyarakat akan makna-makna kebenaran, kebahagiaan, keadilan dan lain-lain. Dampaknya adalah masyarakat sudah tidak menjadikan standar pendidikan sebagai suatu barometer mutu individu.[1]
Landasan Teologis Islamisasi Ilmu
Salah satu tantangan proyek Islamisasi Sains adalah sains Islam yang hendak dihadirkan dianggap hanya bernuansa teologis-metafisik. Dan teologi atau metafisika itu diyakini tidak saintifik. Menurut Augus Comte, teologi itu berurusan dengan hal-hal ghaib, dan metafisika bersifat abstrak. Kata Karl Popper, metafisika itu tidak ilmiah. Sehingga, sains diasumsikan oleh filsuf Barat modern tidak mungkin memasuki wilayah yang tidak bisa diindera tersebut.