Ahmad Dahlan, Pembaharuan, dan “Suara Muhammadiyah”

Written by | Pemikiran Islam

kha-dahlan_low-e1452684406705

 

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Pemikiran Muhammad Abduh (1849-1905) banyak mempengaruhi umat Islam, terutama lewat tokoh-tokoh pergerakannya. Skala pengaruhnya luas, bahkan hingga ke Indonesia antara lain lewat KH Ahmad Dahlan (1868-1923).

Kontribusi Al-Manar

Majalah Al-Manar turut mempercepat pengaruh Muhammad Abduh. Majalah yang terbit di Mesir itu memuat pemikiran berupa pembaruan dalam memahami Islam. Setidaknya ada tiga aspek penting yang dikedepankan yaitu, pertama, pembaharuan pemikiran yang dekat dengan aktivitas berijtihad. Kedua, penguatan tekad agar umat Islam benar-benar memperhatikan masalah pendidikan. Ketiga, mengobarkan semangat umat Islam agar mampu mengimbangi Barat dengan meningkatkan kualitas kehidupan sosialnya (Imron Mustofa, 2018: 44).

Pemikiran Muhammad Abduh sampai ke Indonesia terbantu oleh perkumpulan Jami’at Al-Khair yang berdiri di Jakarta pada 1901. Salah satu kegiatan perkumpulan ini adalah menjalin hubungan dengan pemimpin di berbagai negara Islam yang maju seperti Mesir, Turki, dan lainnya.

Al-Manar menjadi bacaan penting bagi anggota Jami’at Al-Khair. Majalah ini rutin dikirim kepada Ahmad Dahlan.

Posisi Al-Iman

Di sisi lain, gerakan pembaruan juga terjadi di Melayu. Lewat berbagai aktivisnya yang berasal dari beberapa kota, mereka berjuang menyebarkan semangat pembaruan termasuk melalui media cetak.

Meski para tokohnya berasal dari berbagai daerah (seperi Singapura, Malaka, dan Minangkabau) para aktivis itu berhimpun dalam sebuah kerjasama untuk dakwah. Mereka menerbitkan majalah Al-Iman yang berkantor di Singapura. Isinya, antara lain tentang ilmu pengetahuan popular, perkembangan penting di dunia dan terutama di dunia Islam. Khusus berita-berita dari dunia Islam, banyak dilaporkan berbagai usaha untuk memerdekakan diri dari posisi sebagai negeri yang sedang terjajah.

Mirip dengan Al-Manar, majalah Al-Iman berusaha membuka kesadaran agar umat Islam maju dan bisa berkompetisi menghadapi Barat. Sebagaimana di Al-Manar, Al-Iman menentang taklid buta dan sebaliknya menganjurkan umat Islam untuk melakukan ijtihad.

Di rubrik tanya-jawab agama, majalah ini mengutip pendapat-pendapat Muhammad Abduh di Al-Manar. Adapun terhadap masalah-masalah agama yang diperselisihkan, Al-Iman langsung merujuk pada dua sumber pokok Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Al-Iman tersebar sampai ke Indonesia terutama daerah-daerah yang menggunakan bahasa Melayu seperti Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, dan sebagian Sulawesi (Imron Mustofa, 2018: h. 44-45).

BACA JUGA  Catatan Kritis Pemikiran Muhammad Shahrur

Pilihan Cerdas

Berdakwah lewat tulisan adalah pilihan cerdas. Maka, pada 1911, Haji Abdullah Ahmad lalu menerbitkan majalah Al-Munir di Padang. Semangat yang dibawanya serupa dengan Al-Iman, Al-Manar, dan majalah-majalah barisan pembaharu lainnya. Intinya, majalah Al-Munir bertujuan membimbing umat Islam ke arah ajaran yang benar, menambah pengetahuan, dan mempererat tali persaudaraan.

Meski Al-Munir diterbitkan di Padang tetapi persebarannya sampai ke Jawa. Salah satu pelanggan setianya adalah Ahmad Dahlan. Lebih dari itu, Ahmad Dahlan menerjemahkan beberapa artikel Al-Munir ke dalam bahasa Jawa, tentu untuk kemudian disebarkan.

Pemikiran-pemikiran yang ada di dalam majalah Al-Munir ternyata berpengaruh luas, terutama di Jawa. Pengaruh itu, termasuk pula terhadap Ahmad Dahlan. Lalu, bagaimana respon Ahmad Dahlan?

Ahmad Dahlan menangkap semangat pembaruan tersebut. Lalu, hal itu semakin menebalkan semangat yang sudah didapat dari sumber-sumber lain sebelumnya.

Pendirian Muhammadiyah pada 1912 adalah sebentuk usaha untuk memberikan peluang lebih besar mewujudkan gagasan-gagasan pembaharuan. Lewat Muhammadiyah, banyak yang bisa dikerjakan. Misal, berdakwah lewat bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-kemasyarakatan. Bahkan, dakwah dengan tulisan-lewat majalah Suara Muhammadiyah-juga dikerjakan secara itiqomah, sejak 1915 hingga entah sampai kapan. Disebut “hingga entah sampai kapan”, karena sampai Februari 2021 saat tulisan ini dibuat, majalah yang telah berusia lebih dari seabad itu tetap terbit.

Suara Persyarikatan
Majalah bernama Suara Muhammadiyah adalah sebuah sejarah yang sangat panjang. Prestasi dari media resmi persyarikatan Muhammadiyah itu, terutama dalam hal mampu terbit lebih dari seratus tahun patut kita syukuri. Seperti apa sejarahnya?

Mu’arif menulis bahwa terkait penelusuran sejarah Suara Muhammadiyah, Kuntowijoyo punya jasa besar. Sejarawan itu berhasil menemukan dokumen Suara Muhammadiyah edisi nomor 2 tahun 1915 (1333 H) di perpustakaan Leiden, Belanda, pada sekitar 1990-an. Temuan ini sekaligus mengoreksi pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa Suara Muhammadiyah terbit kali pertama pada 1921 di Yogyakarta (www.suaramuhammadiyah.id 20-02-2020).

Sekadar gambaran, di Yogyakarta ada beberapa majalah dan surat kabar yang cukup terkenal ketika Suara Muhammadiyah kali pertama terbit. Media yang dimaksud itu, seperti Ratnadoemilah, Diponegoro, Almanak Buning, Bintang Mataram, Sin Po, dan lain-lain. Tentu, hal itu adalah sesuatu yang menggembirakan karena terjadi di tengah masa penjajahan. Terjadi ketika budaya membaca bisa dipastikan amat rendah. Memang, kala itu, hanya para keluarga kelompok tertentu saja yang cukup “sadar baca”.

BACA JUGA  Integrasi Ilmu dan Kebangkitan Tradisi Keilmuan Islam

Di masa awal, Suara Muhammadiyah diorientasikan terbit sebagai media pembelajaran masyarakat. Niatnya, berdakwah dengan menggunakan jalur media cetak. Maka, majalah itu tidak dijual, tetapi dibagikan secara gratis.

Di Suara Muhammadiyah nomor 2 tahun 1915, terdapat beberapa artikel yang ditulis dengan huruf latin berbahasa Jawa Krama. Di antara beberapa artikel tersebut terdapat tulisan karya “HAD” yang menurut Haji Ahmad Basuni diduga sebagai inisial dari “Haji Ahmad Dahlan”.

Apapun, Suara Muhammadiyah adalah bukti tak terbantahkan bahwa media tersebut punya andil yang tak sedikit dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Apa isi Suara Muhammadiyah edisi tahun pertama?

Isinya, antara lain ada tanya-jawab agama, kisah-kisah pahlawan Islam, dan sejumlah iklan. Hal yang disebut terakhir, iklan, adalah sesuatu yang menarik. Ternyata, Suara Muhammadiyah termasuk di antara media massa yang memelopori tradisi periklanan.

Siapa pemasang iklan di Suara Muhammadiyah? Mereka adalah kalangan tokoh Muhammadiyah yang juga pengusaha batik.

Kembali ke nilai penting kehadiran Suara Muhammadiyah. Terlihat, 30 tahun sebelum republik ini berdiri, Suara Muhammadiyah sudah terbit dan berkontribusi dalam memajukan warga bangsa terutama di kalangan umat Islam. Muhammadiyah, lewat Suara Muhammadiyah, sudah jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka telah menjalankan fungsi dakwah yang mencerdaskan.

Penghargaan Wajar

Suara Muhammadiyah telah menjadi salah satu monumen bersejarah umat Islam di Indonesia yang telah berusia lebih dari satu abad. Atas capaian prestasi itu, Suara Muhammadiyah mendapat penghargaan istimewa di Hari Pers Nasional 2018.

Pada 2018, Suara Muhammadiyah ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh media nasional yang memperoleh penghargaan media kepeloporan. Ketetapan itu berdasar surat bernomor 108/PWI-P/HPN 2018/1/2018, tentang Penghargaan Kategori Kepeloporan sebagai Media Dakwah Perjuangan Kemerdekaan RI dalam Bahasa Indonesia.

BACA JUGA  Kerancuan Epistemologi Pluralisme ala Husein Muhammad

Aspek apa yang dinilai? Hal yang dinilai: Sisi kepeloporan, gagasan, konsistensi, eksistensi media, dan tokoh-tokoh di belakangnya.

Alhamdulillah-sekadar tambahan catatan-, ada lagi penghargaan dalam dua tahun sebelumnya. Pada 2016, Suara Muhammadiyah memperoleh penghargaan Rekor MURI sebagai Media yang Terbit Berkesinambungan Terlama. Pada 2017, mendapat penghargaan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat sebagai Salah Satu Media Tertua di Indonesia.

Sangat Indonesia

Tentang performa Suara Muhammadiyah, ada catatan menarik dari Isngadi Marwah Atmadja. “Pada tahun 1921, Suara Muhammadiyah awalnya menggunakan Bahasa Jawa. Tahun 1922, Suara Muhammadiyah sudah menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Jawa dan Indonesia (Melayu). Pada tahun 1923, Suara Muhammadiyah total menggunakan Bahasa Indonesia,” kata Redaktur Pelaksana Suara Muhammadiyah pada 2018 itu.

Tak hanya itu, pada 1924, Suara Muhammadiyah telah memperkenalkan kata “Indonesia” dalam sebuah tulisannya. Di artikel itu tertulis dengan jelas, “Awas untuk anak Indonesia….”. Lalu pada 1925, di Susunan Redaksi Suara Muhammadiyah tercantum kata Indonesia. Di situ tertulis, “SOEARA MOEHAMMADIJAH dikeluarkan oleh Perkoempoelan Moehammadijah Bg. TAMAN POESTAKA (INDONESIA). Jadi, sebelum Sumpah Pemuda tahun 1928, Suara Muhammadiyah sudah memperkenalkan kata Indonesia empat tahun sebelumnya, kata Isngadi.

Dalam hal catatan menarik, masih ada lagi. Suara Muhammadiyah, pada 1931, lewat satu tajuknya mengkritik suasana Muktamar Muhammadiyah yang sebagian pesertanya berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Di tajuk itu ditulis, bahwa semua peserta, baik di forum resmi maupun di luar forum sidang dalam berkomunikasi seharusnya selalu dengan bahasa Indonesia (www.suaramuhammadiyah.id 27-01-2018).

Respon Panjang

Demikianlah, sebuah sejarah telah terhampar. Ibrah harus kita petik. Antara lain, ide-ide pembaharuan pemahaman keagamaan akan cepat tersiar luas dengan bantuan media cetak.

Berdakwah lewat tulisan itu memiliki banyak keunggulan ketimbang model lainnya. Al-Manar, Al-Iman, dan Suara Muhamadiyah telah membuktikannya. Telah terasa, pembaruan yang digagas Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan dakwah berbasis amaliyah yang diinisiasi Ahmad Dahlan begitu cepat tersosialisasikan dan mendapat respon positif. Respon menggembirkan itu, bahkan terus terjadi hingga kini, lebih dari seratus tahun kemudian.[]

Last modified: 09/02/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *