Menikmati ”Wangi” Para Pewaris Nabi

thumbnail-syaikh-zaid-al-fayyadh (1)-real-min

Resensi buku oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah dan 15 judul lainnya

syaikh-zaid-al-fayadh-ulama-yang-dirindukan-umat

Judul                : Ulama yang Dirindukan Umat: Keteladanan, Keikhlasan, dan Perjuangan Para Pewaris Nabi

Penulis             : Zaid Al-Fayyadh

Penerbit           : Pustaka Al-Kautsar – Jakarta

Terbit pertama : September 2026

Tebal               : xv + 287 halaman

 

inpasonline.com – Kita tetap bisa ”berteman” dengan orang-orang yang telah berpulang. Caranya, dengan sering mengenang berbagai keteladanannya. Untuk itu, antara lain bisa dengan cara membaca buku-buku semisal yang sedang kita kaji ini.

Untuk apa buku ini terbit? Kata si penulis, untuk memberi gambaran ringkas para ulama yang berjasa mempersembahkan ilmu yang agung. Ilmu itu, warisan yang tak ternilai. Lalu, dari mana bahan penulisannya? Dari banyak kitab hadits, sejarah, biografi, kamus, sastra dan bahasa, serta sumber lain yang relevan (h.2).

            Di dalamnya, kita akan menemukan nama-nama ulama yang masyhur. Nama-nama itu, tersebar di beberapa halaman. Ada Umar bin Khaththab Ra dan Abdullah bin Zubair Ra di h.157. Ada Abdullah bin Umar Ra di h.168, Zaid bin Tsabit di h.169, Amr bin Ash di h.172, Said bin Jubair di h.197, Abu Darda’ di h.225, Saad bin Abi Waqqash di h.226, dan lain-lain.

Kisah ”Jenaka”

Pernah, seorang laki-laki menemui Abu Hanifah. Dia mengadu, harta yang disimpannya denga cara mengubur, lupa tempatnya.

”Ini sebenarnya bukan urusan fiqh. Meski begitu, pergi-lah dan shalat-lah malam ini sampai waktu subuh, insya Allah engkau mengingatnya kembali,” tutur Abu Hanifah.

Laki-laki itu menjalankan saran Abu Hanifah. Belun lewat seperempat malam, ia sudah teringat di mana tempat itu. Ia pun segera menemui Abu Hanifah dan mengabarkannya.

”Aku sudah menduga bahwa setan tidak akan membiarkanmu shalat denga tenang sampai engkau teringat letak uang itu. Mengapa tidak sekalian saja engkau selesaikan shalatmu sepanjang malam sebagai bentuk syukur kepada Allah,” tanya Abu Hanifah (h.130).

Tentu, setidaknya bagi sebagian, kisah di atas bisa mengundang senyum. Meski begitu, pelajaran di dalamnya sangat kuat. Intinya, pertahankan khusyuk saat shalat, kapanpun.

Tekun dan Sederhana

Para ulama yang hanif, bekerja keras saat mencari dan menyebarkan ilmu. Salah satunya, Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau menyusun Kitab Al-Musnad yang dalam hal proses menulisnya, ada kesaksian menarik. “Ayahku menyaring dan menyeleksi Al-Musnad dari tujuh ratus ribu hadits,” kata putranya – Abdullah bin Ahmad (h.93).

Hal lain, rata-rata ulama yang lurus, beperforma sederhana. Lihat Imam Ahmad, yang sederhana dan kala itu tinggal di Mekkah. Pada suatu ketika, banyak yang tahu bahwa sudah beberapa hari Imam Ahmad tak terlihat.

Kemudian, seseorang datang ke rumahnya dan mendapati pintunya tertutup. Setelah bertemu, tampak Imam Ahmad hanya mengenakan busana yang sangat usang, termasuk ada tambalannya.

”Pakaianku telah dicuri,” ungkap Imam Ahmad.

”Aku membawa beberapa dinar. Jika engkau mau ambil-lah sebagai pemberian. Atau, jika tidak berkenan, boleh juga sebagai pinjaman,” kata si tamu.

”Terima kasih,” kata Imam Ahmad yang menolak dengan halus.

”Maukah engkau menuliskan sesuatu untukku dengan upah,” tanya si tamu.

”Ya,” kata Imam Ahmad. ”Belikan-lah aku sepotong kain. Potonglah menjadi dua bagian, satu untuk sarung dan satu untuk selendang. Jika ada sisa uang, bawa-lah kepadaku,” lanjut Imam Ahmad.

Si tamu melakukan hal yang dimaksud Imam Ahmad. Lalu, sebaliknya, tamu itu mendapatkan apa yang dia minta kepada Imam Ahmad (h.144).

Ujian, Pasti!

Siapapun, akan menemui ujian dalam berbagai bentuknya. Tentang ini, simak kisah Imam Jauzi. Siapa beliau, yang fasih sastranya dan indah kalimat-kalimatnya?

Dia seorang ulama yang ahli di berbagai bidang ilmu seperti tafsir, hadits, sejarah, matematika, astronomi, kedokteran, fiqh, bahasa dan nahwu. Beliau menulis sekitar 300 judul kitab.

Di keseharian, beliau unik dalam seni memberi nasihat. Terkait, nasihat-nasihatnya, menghujam. Dia mampu medekatkan hal-hal abstrak melalui perumpamaan terhadap hal-hal yang nyata.

Hal yang jarang dipunyai ulama lain, Ibnul Jauzi lugas jika memberi nasihat kepada penguasa. Pernah dia menasihati Khalifah Al-Mustadhi’. Nasihatnya, dengan mengingatkan bagaimana kepemimpinan Nabi Yusuf As terutama di masa paceklik. Dilengkapi juga, dengan kisah Umar bin Khaththab Ra terutama ketika dia berkata: ”Jika sampai kepadaku kabar tentang pegawaiku yang berbuat zalim dan aku tidak menindaknya, maka akulah yang zalim.”

Mendengar nasihat Ibnu Jauzi itu, sang khalifah menangis. Lalu dia bersedekah dengan harta yang banyak, memberi pakaian kepada banyak orang fakir, dan membebaskan para tahanan.

Lalu, apa di antara ujian Ibnu Jauzi? Lihatlah, ada putranya yang bernama Ali. Buku ini menyebut dia sebagai ”putra yang durhaka”. Anak tersebut menjual buku-buku sang ayah dengan harga yang sangat murah. Itu dilakukannya, saat sang ayah pergi ke luar kota. Berbeda dengan putra yang satunya yaitu Muhiyiddin Yusuf. Setelah sang ayah wafat, dia menjadi pendakwah dan dihormati para khalifah. Dia membangun Madrasah Al-Jauziyah (h.136-139).

Beragam Pesan

Sangat banyak kisah yang lain, dengan kandungan pelajaran masing-masing. Di samping nama-nama yang telah disebut di atas, ada Ibnu Abbas di h.253. Urwah bin Zubair di h.262. Ali bin Husain di h.139 dan 159.

Juga, ada Hasan Al-Bashri di h.280. Abu Hatim Ar-Razi di h.258. Bukhari di h.196. Abdullah bin Al-Mubarak di h.142. Adz-Dzahabi di h.183. Ath-Thabari di h.94 dan 225.

Tentang Abu Hanifah, di samping kisah yang telah dikutip di atas, ada lagi di h.188. Imam Malik di h.13 dan 162. Imam Syafi’i di h.42 dan 203.

Ibnu Sina? Ada di h.208. Sufyan Ats-Tsauri di h.249. Hasan An-Nadwi di h.279.

Menjaga Ilmu

Ilmu yang kita punya, harus dirawat. Dalam hal ini, Al-Qamah sering berkata, ”Ulang-ulangilah pelajaran itu agar ia tidak hilang (h.271).

Sementara, Hisyam bin Urwah punya kenangan tak terlupakan, berupa dialog dengan dengan ayahnya.

”Apakah engkau sudah menulis,” tanya sang ayah.

”Iya,” kata Hisyam.

”Apakah engkau sudah mengoreksi catatanmu dengan catatan aslinya,” tanya si ayah lagi.

”Belum,” jawab Hisyam.

”Berarti engkau belum menulis,” simpul si ayah (h.272).

 

Rawat, Rawat!

Thawus berkata, ”Sesungguhnya termasuk sunnah adalah engkau menghormati orang alim (h.271). Hormati, terutama yang menyebarkan ilmu. Mengapa?

Mereka yang berilmu dan menyebarkannya sangat mulia. Pernah Nabi Saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib Ra, bahwa jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraan kita, hal itu jauh lebih baik daripada ”unta-unta merah”. Adapun maksud ”unta-unta merah”, itu perlambang di masa Nabi Saw sebagai harta yang paling berharga (h.69).

 

Sejumput Catatan

Pengantar Penerbit di h.vii-viii, aneh. Isinya, tak mengantar pembaca kepada tema buku ini. Tak membawa pembaca untuk mengenal secara umum apa isi buku ini. Malah, bicara tentang Logika Al-Qur’an. Apa hubungannya?

Hal lain, ada beberapa salah ketik. Salah satunya, tertulis ”swksama” dan mestinya ”seksama”. Lainnya , indeks tak ada.

Meski begitu, secara umum, buku ini patut kita koleksi dan segera kita baca. Terlebih, sang penulis, punya latar belakang yang sangat mendukung untuk penulisan tema ini. Dia, ulama dan penulis Arab Saudi yang produktif. Dia, hafal Al-Qur’an dan menimba ilmu dari sejumlah Ulama Besar termasuk kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

   Terakhir, mari raup ”wewangian” dari isi buku ini. Ambil pelajaran dari berbagai kisah hidup para ulama di buku ini. Alhamdulillah! []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *