Situs Tralaya, Bukti Sejarah yang Diabaikan Orientalis
Oleh M. Masykur Ismail
Situs Tralaya merupakan sebuah komplek pemakaman Islam yang berada di pusat lokasi peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Ciri khas keislaman situs tersebut ditunjukkan dengan adanya tulisan Arab di beberapa nisannya yang berupa kalimat tauhid, ayat-ayat Al-Qur’an maupun doa-doa khas Islam. Situs ini ditemukan dan dikenal sejak abad XIX, dan diakui sebagai salah satu bukti eksistensi penganut agama Islam di zaman Majapahit.
‘Jembatan Maut’ Menagih Empati Pemimpin
Oleh M. Anwar Djaelani
Di negeri ini, wajah paradoksal mudah kita temui terutama jika menyangkut rasa keadilan dan kesejahteraan. Keduanya -keadilan dan kesejahteraan- seperti hanya berpihak kepada pemimpin atau pejabat dan tidak untuk rakyat.
Empati, ke Mana?
Sebenarnya daftar ironi di sekitar kita lumayan panjang. Tapi, ‘balada sandal jepit’ dan ‘kisah jembatan maut’ kiranya cukup mewakili kegelisahan publik atas masih tingginya kesenjangan antara janji-janji manis para pemimpin dengan realita.
Ide Sekularisasi, Kecerobohan Intelektual Nurcholishh Madjid
Oleh Kartika Pemilia Lestari*
InPAS pada 28/01/2012 menggelar diskusi reguler dengan tema “Dinamika Perkembangan Pemikiran Islam di Malaysia”. Abdullah al-Mustofa, mahasiswa Pascasarjana IIUM (International Islamic University Malaysia) yang sedang liburan tampil menjadi pemateri.
Toleransi Nabi Saw kepada Yahudi
Oleh Asep Sobari
Kedatangan Nabi Saw ke Madinah tidak hanya sebagai orang asing yang hijrah dari tanah kelahirannya. Tapi sekaligus menempatkan beliau sebagai pemimpin di kota Hijaz tersebut. Keputusan penduduk Madinah menyerahkan jabatan ini kepada Nabi Saw tidak dilakukan secara spontan, melaikan melalui proses panjang yang bermuara pada peristiwa tiga tahun sebelumnya, ketika sejumlah tokoh Khazraj menyatakan masuk Islam di Mekah.
Menurut riwayat Ibnu Ishaq dalam as-Sirah an-Nabawiyyah, ada enam tokoh muda Khazraj yang ditemui Nabi Saw pada musim haji tahun 3 sebelum hijrah. Mereka adalah As`ad bin Zurarah, `Auf bin Harits, Rafi` bin Malik, Quthbah bin `Amir, `Uqbah bin `Amir, dan Jabir bin Abdullah. Setelah berbincang dengan Nabi Saw, merakapun menyatakan diri memeluk Islam dengan sangat antusias. Bagi mereka, menerima Islam tidak hanya menghapus dahaga spiritual semata, tapi juga mengembangkan harapan yang sangat besar kepada sosok Nabi Saw dan ajarannya, agar menjadi unsur pemersatu bagi seluruh kelompok masyarakat di Madinah yang telah sekian generasi tercabik-cabik oleh permusuhan dan dendam.