Filsafat Islam dalam Tinjauan Historis (1)
M. Masykur Ismail
Kajian terhadap sejarah filsafat Islam sebenarnya sudah banyak dilakukan para sarjana dari Barat. Bahkan kajian-kajian mereka sudah banyak diakui sebagai karya ilmiah yang berbobot dan obyektif, karena didukung oleh data-data primer dan referensi yang sangat memadai. Tidak heran jika kajian mereka banyak dikutip oleh pengkaji sesudahnya dan bahkan banyak mempengaruhinya kajian-kajian filsafat Islam sesudahnya. Namun, dalam hal-hal tertentu kajian mereka justru banyak merugikan umat Islam.
Bagaimana Menyikapi Fatwa
DR. Zain An-Najah
Doktor lulusan Al-Azhar Mesir ini prihatin dengan fenomena maraknya orang seenaknya mengeluarkan fatwa. Sedang di satu sisi seringkali kaum muslim Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa fatwa yang keluar dari lembaga agama yang resmi seperti MUI dimentahkan oleh segelintir orang yang disebut sebagai tokoh Islam. Akibatnya, masyarakat sering bingung dan tidak bisa menentukan mana yang benar diantara kedua pendapat tersebut.
Agama Tidak Boleh Ikut Pilpres
Inpasonline, 5/6/2009
Ada yang menarik dari pernyataan SBY –capres yang diusung oleh Partai Demokrat dan 22 partai lainnya- dalam dialog terbuka di Jakarta, Kamis, (04/06) . Dia meminta supaya agama ditempatkan di atas politik. Bila agama dan simbol-simbolnya menjadi komoditas politik, seperti untuk kampanye pemilu presiden (pilpres), SBY menilainya sebagai langkah mundur.
Mohamed Attoumaimi Pecahkan Teka-teki Matematika
InpasOnline, 05/06/09
Stockholm: Seorang pendatang Irak yang berusia 16 tahun dan menetap di Swedia telah memecahkan teka-taki matematika, padahal para ahli telah dibuat pusing selama 300 tahun, demikian laporan media Swedia, Kamis (28/5).
Road Map Yahudi Liberal
Oleh Kartika Pemilia Lestari
Arus pemikiran liberal yang kini tengah melanda umat Islam Indonesia, rupanya pernah terjadi dalam agama Yahudi, tepatnya pada abad ke-16, saat Perjanjian Lama (Old Testament) ditelaah dan diteliti untuk pertama kalinya menggunakan Historical-Critical Method (Metode Kritis Historis) oleh Isaac de Peyrere (1592-1676). Kemudian beberapa tokoh mencoba menerapkan apa yang sudah dirintis oleh Isaac de Peyrere; Benedict de Spinoza (1632-1677), Richard Simon (1638-1712), dan Jean de Clerc (1654-1736).