Category: Artikel

Studi Al Qur'an & Al Hadits

Bahasa Arab Al-Qur’an

Oleh: Henri Shalahuddin, M.A.

             Dalam wacana liberal-sekuler, kedudukan bahasa Arab dalam Al-Qur’an selalu dikaitkan untuk memperkuat dalih historisitas Al-Qur’an dan hegemoni Arab [Quraisy] terhadap Islam. Tentunya klaim seperti ini sangat-sangat berlebihan. Mengenai tuduhan bahwa Al-Qur’an terhegemoni oleh suku Quraisy dengan mengesampingkan logat-logat bahasa yang terdapat dalam suku-suku Arab lainnya, maka perlu ditegaskan tentang keunggulan bahasa suku Quraisy atas suku-suku Arab lainnya sebagai berikut:

Pemikiran Islam

Universalitas Wahyu dan Kenabian: Counter-Argumen Pluralisme Agama (I)

Dr. Anis Malik Thoha

Assistant Professor, Dept. of Usuluddin and Comparative Religion,

KIRKHS, IIUM

Potensi Manusia

Adalah suatu fakta yang tak terbantahkan, bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan berakal. Dengan akal ini ia bisa berfikir, dari yang paling simpel sampai yang sangat fantastis dan sophisticated, untuk tujuan apa saja, baik yang konstruktif maupun destruktif, sejauh yang menyangkut alam fisik yang nyata dan empiris. Namun begitu masuk ke wilayah alam non-fisik dan meta-fisik, khususnya yang menyangkut  prinsip ketuhanan-peribadatan (penuhanan-penghambaan atau uluhiyyah-ubudiyyah) dan pernik-perniknya, track record akal yang terekam dalam lembaran-lembaran sejarah peradaban manusia amat sangat buram (gloomy) dan merisaukan. Bagaimana tidak! Ada sekelompok manusia yang menghamba, menyembah dan menuhankan sesama manusia, bahkan ada sekelompok yang lain yang menghamba, menyembah dan menuhankan makhluk yang lebih rendah daripada manusia. Bahkan di alam yang ultra modern ini ada kelompok-kelompok manusia yang sibuk “mengatur-atur” Tuhan dan getol sekali melakukan kontestasi melawan-Nya untuk kemudian menggeser dan merebut posisi-Nya (dari God-centredness menuju human- centredness).

Sejarah Peradaban

Fitnah di Sekitar Terbunuhnya Usman R.A: Studi Kritis Atas Kajian Farag Fouda

Oleh (Asep Sobari, Lc.)*

Peristiwa terbunuhnya Usman ra. (semoga Allah senantiasa meridhai dan memuliakannya) selalu menjadi sajian menarik dalam buku-buku sejarah. Para sejarawan yang tidak kritis selalu mengaitkannya dengan tuduhan KKN yang dilakukan Usman. Padahal tuduhan-tuduhan tersebut tidak pernah terbukti, kecuali hanya omongan kosong yang datang dari orang-orang yang benci terhadap beliau dan agama Islam. Salah satunya yang akan disoroti dalam artikel ini adalah tuduhan Farag Fauda dalam bukunya al-Haqiqah al-Gha’ibah (edisi Indonesia: Kebenaran yang Hilang) yang diterbitkan oleh Yayasan Wakaf Paramadina dan Dian Rakyat.[i] Ironisnya, buku ini justru mendapat apresiasi yang berlebihan dari Prof. Azyumardi Azra danProf. Syafi’i Maarif.

Studi Al Qur'an & Al Hadits

Sekitar Penulisan Hadits

Oleh Ainul Yaqin

Pendahuluan

Kaum muslimin meyakini bahwa Al-Hadits merupakan sumber hukum utama sesudah al-Qur’an. Keberadaannya merupakan realitas nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an.[i] Sedangkan al-Hadits, hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran al-Qur’an itu sendiri.