Category: Artikel

Pemikiran Islam

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan Fenomena Ulama

Abdul Hakim, S.Si., Apt

 (Dosen di UIN Malang)

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu sebab kemunduran umat adalah tidak optimalnya peran ulama sebagai agen pembina, pengarah dan perbaikan umat. Banyak di antara mereka tidak melakukan pembinaan umat dengan sungguh-sungguh dan kontinyu sehingga umat bimbingan mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi ujian hidup yang terasa semakin berat ini seiring dengan perkembangan teknologi. Mereka juga tidak melaksanakan perannya sebagai pembimbing dan pengarah umat supaya tidak tersesat. Mereka hanya berdiam diri meski di depan mereka terjadi berbagai kemaksiyatan dan kemungkaran. Bahkan tidak sedikit pula ulama yang terseret arus melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan denga ajaran agama atau lebih parah lagi mereka menjadi lokomotif gerakan untuk menentang ajaran (syari’ah) agama. Na’udzu billah min dzalik.

Sejarah Peradaban

Dakwah Islam di Tanah Jawa

Arif Wibowo

(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta)

 

Rame-rame ngoyak doro mabur muluk adhuh,

Nusup sileming mego-wan

Alok-alok playune kesandhung-sandhung tobil

Sarange dhewe ucul

Jroning gupon akeh piyike

Nora kopen, kontrang-kantring

Akeh kang kabandhang gupone katon komplang

Jebulane, sakabehe, melik sarwa mala kang dudu mesthine

Amburu uceng, kelangan dheleg

Mrih tentreme bebrayan, urip ingkang prasaja

 

Tembang doro muluk yang dibawakan seniman Sujiwo Tejo dalam salah satu albumnya mempunyai kandungan yang sangat dalam,  resep membuat suasana Sakinah dalam keluarga. Tembang dan geguritan, memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jawa. Mulai dari yang sangat Jawa seperti doro muluk dan Ilir-Ilir maupun yang kental corak Islamnya seperti Tombo Ati dan  aneka sholawat berbahasa Jawa yang masih setia mengiringi jama’ah menuju masjid di sehabis dikumandangkannya adzan.

Pendidikan Islam

Konsep Pembaharuan Politik dan Pendidikan dalam Pemikiran al-Kawakibi

Inpasonline, 30/12/10

Oleh : Muhamad Sahrul Murajjab

 

Pendahuluan

Sejak penghujung abad ke-18 hingga masa-masa pasca runtuhnya Kekhalifahan ‘Utsmani di Turki tahun 1924, yang dibarengi era imperialisme dan kolonialisme Barat terhadap negara-negara Islam, kondisi kesejarahan umat Islam berada dalam titik yang menyedihkan.

Pada masa-masa itu, Dinasti Mogul Islam di India jatuh ke tangan imperialis Inggris, demikian  juga dengan Kerajaan Øafawiyah di Iran. Sejumlah negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim juga berada dalam cengkraman imperialisme negara-negara Eropa. Sebut saja misalnya Indonesia yang berada di bawah kekuasaan Belanda, Libya dijajah oleh Italia; Tunisia, al-Jazair dan Maroko oleh Perancis, serta Mesir dan negara-negara sebelah selatan Jazirah Arab oleh Inggris.

Selama masa-masa tersebut negara-negara Islam terpuruk dalam keterbelakangan dan kemunduran peradaban di segala bidang baik sosial, politik, maupun ekonomi. Sementara didalam tubuh umat terjadi kelumpuhan potensi-potensi kekuatan yang dimilikinya.[i] Ajaran-ajaran Islam banyak ditinggalkan, sebagaimana bid’ah dan khurafat menggejala dimana-mana.

Pemikiran Islam

Menelusuri Orisinalitas Gagasan Sekularisasi Nurcholis Madjid

Inpasonline, 23/12/10

Oleh: Adnin Armas, MA

            Gagasan sekularisasi di Indonesia sulit dilepaskan dari nama Nurcholish Madjid,  yang pada tanggal 2 Januari 1970 meluncurkan gagasannya dalam diskusi yang diadakan oleh HMI, PII, GPI, dan Persami, di Menteng Raya 58. Ketika itu, Nurcholish meluncurkan makalah berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”.  Gagasan itu kemudian diperkuat lagi dengan pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta,  pada tanggal 21 Oktober 1992, yang dia beri judul "Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia". Setelah itu, berjubellah para propagandis sekularisasi di Indonesia.

Pemikiran Islam

Kritik terhadap Orientalisme: Review Buku Dr. Syamsuddin Arief

inpasonline.com, 27/11/10

Abdul Mujib

PKU ISID GONTOR – MUI ANGKATAN KE- III

 

 

Ibnul Qoyyum menjelaskan tentang sebab-sebab kesesatan orang bahwasannya mereka tidak segera beriman ketika sudah mengetahui dan memahami petunjuk kebenaran bahkan mereka berpaling dari petunjuk tersebut, oleh karena itu Allah SWT memalingkan hati dan penglihatan mereka dan menjadikan suatu penghalang antara mereka dengan keimanan. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyambut Allah dan RasulNya ketika menyeru mereka kepada sesuatu yang menjadi sebab bagi kehidupan mereka kemudian mengingatkan mereka dari ketidaksegeraan dalam menyambut seruan yang bisa menjadi sebab penghalang bagi hati mereka. Allah SWT menjelaskan bahwa perbuatan mereka tersebut menutup hati dan menghalanginya dari keimanan kepada ayat-ayatNya.