Kritik Konsep Teologi Humanisme Hasan Hanafi
A. Pendahuluan
Secara umum humanisme merupakan suatu paham yang memandang bahwa, manusia adalah standar segalanya. Paham ini meniscayakan penghapusan agama[1] bahkan Tuhan[2] sekalipun. Agama[3] bagi humanis diyakini sebagai sekat yang menutup kesadaran manusia[4]. Maka untuk memperoleh kesadaran penuh diperlukan kebaranian menghapuskan agama, sehingga manusia tidak perlu lagi beragama.
Analisis Kritis Metodologi Penafsiran Ayat-Ayat Al Qur’an Farid Esack
Oleh:
Abdul Hakim (Peserta PKU Gontor Angkatan IV)
A. Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan kalam Ilahi yang terjaga sampai akhir zaman.[1] Seluruh ulama memahami al-Qur’an sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, untuk mencapai ridha-Nya. Dalam mencapai itu semua dibutuhkan pemahaman terhadap Al-Qur’an maka munculah ilmu tafsir sebagai suatu metode memahami al-Qur’an beserta perangkat perangat ilmu lain sebagai pendukungnya, seperti Ulumul Qur’an, Ulumul hadist, Ilmu Nahwu, dan perangkat lainnya. Semua berjalan berabad-abad lamanya sampai sekarang. Perangkat ilmu itu sudah mapan dan sudah sesuai dengan Islam.
Liberalisme, Ideologi Impor Dari Barat
Oleh: Akhmad Muamar
Dari Barat ke Dunia Islam
Liberalisme merupakan suatu paham yang timbul dan berkembang di dunia Barat. Paham ini mengusung paham-paham lain seperti paham relativisme. Paham relativisme adalah paham yang menganggap kebenaran itu relatif. Jadi tidak ada kebenaran absolut. Dari paham relativisme ini lahirlah paham pluralisme agama. Paham ini menganggap bahwa semua agama adalah benar dan tidak ada agama yang paling benar. Tidak ada agama yang berhak mengklaim mempunyai kebenaran absolut.
Hubungan antara Syari’at Islam dengan Hukum Romawi
Oleh: A. Abdulloh Khuseini
(Alumnus PKU Gontor)
Pendahuluan
Sebelum syari’at Islam terdapat banyak syari’at dan undang-undang. Di antaranya ada yang diturunkan dari sisi Allah SWT. yang di sebut dengan syari’at Ilahi atau samawi. Syari’at ini banyak jumlahnya, karena setiap ummat tidak terlepas dari adanya seorang Rasul yang di utus Allah SWT. untuk menyampaikan syari’at dan hukum-Nya. Firman Allah SWT.:
Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah
Oleh Dr. Syamsuddin Arif
TAHUN kesepuluh Hijriah atau 632 Masehi merupakan tahun krisis. Dua orang ‘nabi gadungan’ muncul hampir bersamaan. Bukan secara kebetulan. Tetapi lantaran terbuka kesempatan apabila tersiar berita bahwa Rasulullah jatuh sakit. Maka di negeri Yaman, seorang bernama al-Aswad ibn Ka‘b al-‘Unsi pun memproklamirkan diri sebagai nabi. Lewat pelbagai atraksi seperti menyuruh keledainya bersujud –tentu sesudah dilatihnya, al-Aswad sempat mendapat sejumlah pengikut di Najran dan Sanaa. Ia juga mengklaim didatangi oleh dua malaikat, satu bernama Sahiq, dan satu lagi bernama Syahiq, dengan wahyu berbunyi: “Wal mayisati maysa, wad darisati darsa, yahijjuna ushaba wa furada.” Lantas bagaimana sikap pemerintah kala itu? Gubernur Khalid ibn Sa‘id langsung mengusirnya dari Sanaa. Kemudian Rasulullah mengirim detasemen khusus untuk menumpasnya.