Mengorupsi Kemerdekaan
Inpasonline.com, 21/08/11
Sebagian warga negara NKRI merasa gamang menjelang dan sesudah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Pasalnya, mereka tidak merasakan greget apapun sebagai warga negara NKRI. Hanya ada rasa hampa dan kekecewaan; mengapa hingga 66 tahun Indonesia merdeka, praktek korupsi tidak kunjung reda? Nyaris seluruh headline surat kabar juga melantunkan “orkes sakit hati” terhadap tindakan elit politik yang semaunya sendiri menilap uang rakyat demi sebuah hidup gaya (bukan gaya hidup). Tepat seperti yang diungkapkan oleh KH. Hasyim Muzadi pada harian Republika (17/8), “berpolitik hari ini bukanlah untuk memperjuangkan pendapat, melainkan untuk memperjuangkan pendapatan.”
Aneh, Amerika Memprotes Vonis Terhadap Jemaat Ahmadiyah
Inpasonline.com, 18/08/11
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS mengkritik putusan pengadilan Indonesia yang memvonis Deden Sudjana dengan hukuman penjara selama enam bulan. AS merasa Deden hanya membela diri dari penyerangan massa, yang menewaskan tiga temannya.
Remisi Bagi Koruptor Harus Ditinjau Ulang
Inpasonline.com, 18/08/11
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyayangkan masih ada pemberian remisi terhadap narapidana kasus korupsi. Karena itu, dia meminta pemberian remisi tersebut ditinjau ulang.
Barat Harus Akui Kontribusi Ilmuwan Muslim
Inpasonline.com, 16/08/11
“Ilmuwan Barat sering tidak menuliskan sumber rujukan dalam penelitiannya. Setelah ditelusuri, ternyata mereka banyak mengutip atau merujuk kepada ilmuwan Islam. Misalnya teori kausalitas David Hume yang terinspirasi oleh Imam Ghazali,” tutur Adnin Armas, peneliti INSISTS saat memberikan kuliah di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.
JMF UMS Membincang Liberalisme Menjelang Berbuka
Inpasonline.com, 16/08/11
Kemunculan serta perkembangan Jaringan Islam Liberal (JIL) membutuhkan kekritisan umat Islam Indonesia. Penyebaran doktrin-doktrin JIL di kampus-kampus telah membentuk arus pemikiran tersendiri di kalangan akademisi; yang bercirikan bid’ah serta nyeleneh. Meski demikian, mereka gagal menguasai masjid sehingga doktrin-doktrin JIL yang ekstrem justru memunculkan perlawanan dari kalangan akademisi yang aktif di masjid-masjid kampus, yang selama ini mereka jadikan target utama liberalisme.