Merancang Pendidikan di Abad Inovasi
Kartika Pemilia Lestari*
inpasonline.com, 27/06/11”Sistem globalisasi datang pada peradaban umat manusia lebih cepat daripada kemampuan umat manusia itu sendiri melatih diri untuk melihat dan memahaminya”, kata Thomas Friedman dalam Lexus and Olive Tree."
Sebagai seorang kolumnis terkenal dari harian The New York Times, ketajaman analisa Friedman layak mendapatkan apresiasi. Selagi umat manusia di dunia masih tergagap dan tertatih-tatih memahami era kebebasan informasi, mereka kini sekonyong-konyong dihadapkan para era inovasi dan kreasi. Di era ini, umat manusia dituntut untuk selalu bisa menemukan cara baru dalam menyelesaikan pekerjaannya. Lalu, bagaimana dengan posisi umat Islam? “Karna teknologi berkembang terus dengan pesat, kita harus mampu menjelaskan bahwa dengan setiap perkembangan tadi, agama harus eksis. Kita harus kuasai perkembangan zaman, sains dan teknologi harus kita kuasai”, jelas Dr. Indra Djati Sidi ketika mengisi seminar bertajuk “Merancang Pendidikan Masa Depan” pada hari Minggu, 26 Juni 2011 di acara Multaqo Sanawiy XII Persyarikatan Dakwah al-Haromain. Multaqo kali ini mengambil lokasi di Ponpes Al-Wasoya, Jombang.
Mengkritisi Ide Penyatuan Sunni-Syi’ah
M. Masykur (peneliti InPAS)
inpasonline.com, 21/06/11
Bulan kemarin, tepatnya 20 Mei 2011, beberapa tokoh Syi’ah yang tergabung dalam Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) merekayasa pendeklarasian sebuah ormas yang mengatasnamakan Sunni dan Syi’ah. Ormas yang mereka deklarasikan di Masjid Agung Kemayoran Jakarta ini mereka beri nama Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia (MUHSIN). Mereka mencatut nama institusi Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) yang diklaim sebagai deklarator mewakili pihak Sunni.
Al-Zabidi, Membuat Mudah Belajar Bukhari
Oleh Bahrul Ulum
Nama lengkap ulama ini adalah Imam Zainuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Latif bin Abu Bakr al-Sharji Al-Zabidi al-Yamani. Selain dikenal sebagai seorang ahli hadits (muhaddits) pada zamannya, al-Zabidi juga merupakan seorang yang faqih, sastrawan dan penyair.
Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi
Kartika Pemilia Lestari*
Tidak ada subjek diskusi publik kontemporer yang lebih menarik perhatian dan kebingungan kecuali diskusi seputar hubungan antara ‘Islam’ dan ‘Barat’; baik yang berkaitan dengan hubungan antara pemikiran Islam dan pemikiran Barat, hubungan antara negara-negara Islam dan negara-negara non-Islam, maupun hubungan antara orang Muslim dan orang non-Muslim yang terjadi di negara Barat; semua hubungan tersebut memiliki kecenderungan di kedua belah pihak, yakni kecenderungan untuk menuju ke arah sikap optimis dan kritis. Di sini sengaja dipilih term ‘kritis’ karena kelompok kedua ini tidak bisa dibilang pesimis terhadap globalisasi, namun mereka menerima globalisasi dengan kritis. Kekritisan tersebut kemudian memunculkan sikap kreatif dan inovatif dalam membendung dampak negatif globalisasi.