Nihilisme Dalam Kasus Majalah Playboy
Kasus majalah Playboy Indonesia merebak lagi. Pada Jum’at 27 Agustus 2010 seorang pengurus Dewan Pers berdebat seru pada acara dialog di stasiun TVOne dengan juru bicara FPI mengenai kasus vonis 2 tahun, Erwin A, pimred Majalah Playboy Indonesia. Sebagaimana diberitakan, pimred majalah Playboy yang divonis 2 tahun penjara karena melanggar pasal 282 KUHP tentang kesopanan dan kesusilaan belum juga dieksekusi pengadilan. Dan di antara pokok permasalahan yang diperdebatkan pada dialog itu adalah, status majalah Playboy Indonesia. Pihak FPI yang diwakili Munarman meyakini, bahwa majalah Playboy bukanlah produk pers karena mengeksploitasi foto-foto tidak sopan model wanita. Kalaupun itu dikatakan produk pers, maka ada masalah dalam regulasi Dewan Pers.
Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf
Oleh
Ali Rama
Mahasiswa s2 International Islamic University Malaysia
Ilmu ekonomi modern yang saat ini berkembang pesat di Barat, adalah merupakan kelanjutan perkembangan ilmu ekonomi dari masa ke masa, mulai zaman pra sejarah sampai zaman modern saat ini, tanpa terputus sama sekali. Semua peradaban yang pernah eksis dalam sejarah kehidupan manusia turut andil dalam proses evolusi ilmu ekonomi. Ada suatu masa di mana peradaban Islam berada pada puncak kejayaannya dan berkontribusi besar dalam pengembangan science termasuk di dalamnya ilmu ekonomi, namun masa kejayaan ini berusaha ditutup rapat oleh para Ilmuan Barat dan Eropa yang menurut Schumpeter dalam economic analysisnya disebut sebagai Great Gap.
Adakah “Mazhab Sebelum Islam Pecah”?
Dalam sebuah ceramah subuh pada bulan Ramadhan kali ini, di masjid tempat saya tinggal, seorang mubaligh membawakan sebuah topik tentang bagaimana menyikapi ihtilaf diantara kaum Muslimin.
Menurutnya, kaum Muslimin tidak akan terpecah-pecah menjadi beberapa mazhab jika hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan dengan bangga ia mengatakan, mazhab yang dianutnya adalah “mazhab sebelum Islam pecah.”
Permasalahan Mudik Fisik dan Non-Fisik
M. Masykur
Peneliti InPAS (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam)
Tradisi mudik lebaran memang tidak bisa dipisahkan dari umat Islam di Indonesia, khususnya bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Bagi sebagian mereka, mudik bisa jadi dianggap sebagai sebuah kewajiban, karena mengandung unsur silaturahmi dan bakti kepada orang tua. Hal itulah yang membuat mereka tetap rela berkorban meskipun harus melalui perjuangan yang berat untuk bisa melakukannya. Seperti biasanya, para pemudik harus rela berkorban dalam keruwetan: berburu tiket, berjubel naik bus atau kereta, kemacetan, kelelahan, atau menempuh perjalanan hingga berpuluh-puluh jam.
Pemalsuan dan Otentisitas Hadits
Ainul Yaqin
Salah satu kritik beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya paktik pemalsuan hadits. Mereka menyimpulkan bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susahnya mencari hadits yang otentik sehingga dengan gegabah berkesimpulan, tidak ada hadits yang otentik. Sebagai bukti, Ulil mengutip pendapat Abu Rayyah: