Adakah Kekerasan Atas Nama Agama?
Inpasonline, 09/02/11
Sebuah bentrokan terjadi lagi antara warga dengan jemaat Ahmadiyah. Kali ini, bentrokan maut terjadi antara jemaat Ahmadiyah dengan warga di Kampung Pasir Peuteuy, Desa Umbulan, kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/2) sekitar pukul 10.30 WIB. Empat orang tewas dari jemaat Ahmadiyah dan beberapa orang mengalami luka-luka, baik warga maupun jemaat Ahmadiyah. Sebelumnya, kita sudah sangat sering disuguhi dengan berita-berita bentrok warga dengan Jemaat Ahmadiyah ini.
Refleksi Hari Pers Nasional 9/2/2011: Mendamba Pers Berspirit Anti-bohong
Oleh M. Anwar Djaelani*
Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Nuh di awal masa kerjanya mendapat amanah khusus dari Presiden SBY. Dia diminta mengoordinasi penyelenggaraan pendidikan sedemikian rupa dapat membangun karakter dan budaya bangsa. Tentu, karakter yang dimaksud adalah karakter positif atau karakter mulia.
Ijma’ Tentang Konsep Kesesatan: Kebutuhan Umat (Pelajaran dari Kasus Ahmadiyyah)
Siapakah kelompok sesat itu? Apakah kriterianya? Siapa sajakah mereka? Murtad/kafir kah mereka? Atau masih muslimkah mereka? Bagaimana cara mensikapi mereka dalam hubungan keagamaan? Misalnya bolehkah menjadikan mereka sebagai imam sholat, berhakkah mereka mendapat harta warisan, bolehkah menikah dengan mereka, bolehkah membunuh mereka, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kita menjalin hubungan dengan mereka di luar hubungan keagamaan? Misalnya dalam hubungan sosial, politik, ekonomi/bisnis, dan lain sebagainya? Pembahasan tentang seputar hal ini-lah yang dibahas dalam konsep kesesatan. Para ulama, di dalam literatur-literatur, sering menyebut pelaku kesesatan dengan istilah ahlul bid’ah, ahlul hawa, dan lain sebagainya. Pembahasan ini menjadi penting karena konsep tersebut akan membentuk pemikiran individu dalam menentukan status seorang muslim dengan pemikiran keagamaannya, apakah ia masih muslim atau sudah menjadi muslim fasiq atau bahkan sudah murtad? Sehingga secara otomatis, selanjutnya mempengaruhi komunikasi dan hubungan antar individu/kelompok Islam. Ketidaksefahaman dalam hal ini menjadikan hubungan dan komunikasi di antara kaum muslimin menjadi kurang harmonis, terutama di antara orang atau kelompok yang saling menuduh sesat. Oleh karena itu, pemahaman yang tidak tepat dan sama tentang konsep kesesatan seringkali dianggap sebagai biang kerok perpecahan dan kemunduran umat.
Transempirikal Sains: Analisa dan Kritik
Istilah ‘sains’ bak kata mukjizat bagi orang modern. Yang tidak bersamanya berarti terbelakang, mundur dan jumud. Siapa yang tidak menguasainya maka ia akan dikuasi oleh yang menguasainya. Bagi suatu masyarakat, bangsa, negara dan lebih-lebih peradaban, akan termarjinalkan, katanya, apabila tidak berpihak kepada sains.
Sepertinya semua orang sudah sepakat dengan kesimpulan itu. Hanya problemnya adalah siapa yang mendefinisikannya sehingga ia paten kepada definisi tertentu? Apa tujuannya dan implikasinya apa?
Semoga Nasibmu Lebih Baik, Mesir.
Inpasonline, 07/02/22
Tidak ada yang menyangka jika Mesir akan menjadi lautan manusia yang menuntut presidennya mundur. Selama ini Mesir dikenal sangat damai dan menjadi ikon pendidikan umat Islam di seluruh dunia. Siapapun akan menyangka bahwa di Mesir banyak dijumpai ulama-ulama yang akan menjadi katalisator kehidupan, baik bagi warganya maupun pemerintahannya. Ternyata, itu semua hanya isapan jempol belaka, justru para ulama-ulama ini telah disia-siakan oleh pemerintahan Mesir, yang diwakili oleh Rezim Mubarak ini. Rezim ini justru lebih mendengar nasehat-nasehat AS daripada ulama-ulama tersebut. Parahnya lagi, rezim ini lebih perduli dan membantu Israel daripada membantu saudaranya sendiri, Palestina.