Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah
Oleh Dr. Syamsuddin Arif
TAHUN kesepuluh Hijriah atau 632 Masehi merupakan tahun krisis. Dua orang ‘nabi gadungan’ muncul hampir bersamaan. Bukan secara kebetulan. Tetapi lantaran terbuka kesempatan apabila tersiar berita bahwa Rasulullah jatuh sakit. Maka di negeri Yaman, seorang bernama al-Aswad ibn Ka‘b al-‘Unsi pun memproklamirkan diri sebagai nabi. Lewat pelbagai atraksi seperti menyuruh keledainya bersujud –tentu sesudah dilatihnya, al-Aswad sempat mendapat sejumlah pengikut di Najran dan Sanaa. Ia juga mengklaim didatangi oleh dua malaikat, satu bernama Sahiq, dan satu lagi bernama Syahiq, dengan wahyu berbunyi: “Wal mayisati maysa, wad darisati darsa, yahijjuna ushaba wa furada.” Lantas bagaimana sikap pemerintah kala itu? Gubernur Khalid ibn Sa‘id langsung mengusirnya dari Sanaa. Kemudian Rasulullah mengirim detasemen khusus untuk menumpasnya.
Ilmu Sejarah Ibarat Spion Kendaraan: Wawancara dengan Isa Anshory M.S.I.
Ilmu sejarah kurang diminati karena berkutat pada masa lalu yang sudah out of date, berbeda dengan ilmu ekonomi, kedokteran atau IT, bagaimana menurut anda?
Sebenarnya kurang diminatinya ilmu sejarah karena banyak orang memandang sejarah itu kurang berguna untuk masa kini. Sejarah hanyalah kumpulan cerita masa lalu yang sudah selesai. Padahal, apa yang terjadi pada masa kini tidak bisa dilepaskan dari masa lalu. Ibarat orang naik mobil, sejarah itu berfungsi seperti kaca spion. Kalau orang ingin berjalan dan melaju ke depan dengan selamat, ya dia harus melihat spion untuk mengetahui apa yang ada di belakangnya. Begitu juga, kalau orang ingin sukses pada masa kini dan masa depannya, jangan lupakan sejarah.
Islamisasi Media Massa
(Anggota Centre For Islamic & Occidental Studies ISID Gontor)
Jika melihat fenomena yang terjadi sekarang, kita akan menemukan banyak hal di media massa yang begitu jauh dari nilai-nilai keislaman. Sebagian besar, berita-berita yang disajikan oleh media massa sangat jauh dari aspek akhlak dan moral. Ukuran keberhasilan tayangan yang diberitakan oleh media massa baik cetak maupun elektronik hanya sekedar dilihat dari permintaan pasar. Akibatnya, akhlak dan moral dikesampingkan. Aturan agama di nomor sekiankan. Yang terjadi, adab yang seharusnya dipentingkan dan menjadi tujuan utama acara di media massa terabaikan. Akhirnya, terbentuklah masyarakat yang berkebiadaban bukan masyarakat yang berkeadaban.
Utsman di Mata Sejarawan: Wawancara dengan Profesor Dr. Abdul Karim MA. Guru Besar Sejarah UIN Jogjakarta.
Sebagian sejarawan menyebut Khalifah Utsman ra. sebagai kepala negara yang nepotis, bagaimana pendapat Anda?
Kalau kita gali dari fakta sejarah, yang pertama tekanannya adalah, sejarah Islam ditulis pada zaman kekhalifahan Abbasiyah, jadi jauh setelah khalifah Utsman bin Affan wafat. Dan kebetulan khalifah Utsman dari bani Umayyah yang memang musuh politik dari Abbasiyah. Nah, sejarah yang ditulis itupun bisa jadi tidak benar-benar netral. Memang sulit menilai sejarah yang terjadi pada abad ke-7, tetapi dari data-data, kita bisa analisis.
Mereka (sebagian sejarawan) menyatakan Utsman ra. nepotis karena para kepala daerah yang ada pada periode Utsman, menurut mereka, adalah keluarga. Tetapi sayangnya mereka tidak menggali mengapa khalifah Utsman mengangkat mereka? Mereka hanya melihat bahwa mereka adalah keluarga, seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, Walid bin Uqbah, Abddullah bin Amir, Said ibnul Ash dan Saad bin Abi Sara.
Bahkan ada buku yang ditulis sejarawan indonesia bahwa Utsman itu menggelapkan uang negara. Alasannya adalah dia memberikan al khumus (seperlima harta hasil rampasan perang) yang didapat dari pertempuran di laut tengah kepada Saad bin Abi Sara secara cuma-cuma.
Membentengi Islam dengan Kristologi -Mengenang KH Abdullah Wasi’an-
Oleh M. Anwar Djaelani
“Innalillah, Kristolog Senior Abdullah Wasi’an Berpulang”. Itu, judul berita di www.hidayatullah.com edisi 16/2/2011. Berita itu menyentak berbagai kalangan. Banyak yang merasa kehilangan atas kepergiannya.