Author: admin

Opini

Kontradiksi Pluralisme

 

Oleh : Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi

 

Ada dua kesan yang terbersit dari wajah pendukung pluralisme agama: kontradiksi tapi percaya diri! Kontradiksi karena mulutnya berbunyi toleransi tapi sorot matanya menyiratkan relativisme. Percaya diri karena merasa berada di jantung wacana postmodernisme.

Fikih dan Syariah

Humanisme dan Implikasinya Bagi Wacana Syari’ah Kontemporer

Oleh Zulkarnain (Peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) ISID Gontor

 

A.         Pendahuluan

Nilai-nilai Humanisme seakan sudah menjadi trend masyarakat saat ini. “Lebih baik tidak religius tapi humanis, dari pada religius tapi tidak humanis”, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia”[1] adalah bentuk ungkapan dari para pengusung humanisme. Ungkapan ini mencerminkan keapatisan terhadap agama, sehingga mengangap dengan beragama, menjadikan orang tidak manusiawi. Paham ini selalu mendengung-dengungkan kemanusiaan, kebebasan, persamaan sehingga segala sesuatu hanya untuk manusia. Kebaikan bagi mereka cukup dengan mengabdi kepada manusia, tanpa harus menyembah Tuhan.[2] Doktrin semacam ini seakan sudah menjadi pijakan baru bagi masyarakat saat ini, sehingga secara tidak sadar menggeser peran agama.