Aliran Sesat “Ahad Soht”, Meresahkan Masyarakat
Inpasonline, 25/4/11
MAROS – Aliran sesat tidak pernah berhenti di negeri ini. Di Dusun Laiya, Desa Matajang, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Kabupaten Maros muncul aliran sesat pimpinan Daeng Kulle. Pengikut aliran ini telah berjumlah 50 orang, terdiri dari orang dewasa dan anak -anak.
Kontradiksi Pluralisme
Oleh : Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi
Ada dua kesan yang terbersit dari wajah pendukung pluralisme agama: kontradiksi tapi percaya diri! Kontradiksi karena mulutnya berbunyi toleransi tapi sorot matanya menyiratkan relativisme. Percaya diri karena merasa berada di jantung wacana postmodernisme.
Ratusan Pengikut “Millata Ibrahim” Bertaubat
Banda Aceh-Sebanyak 139 pengikut ajaran Milata Abraham yang dinilai sesat di Banda Aceh, dikembalikan kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka diminta mengucapkan dua kalimat syahadat dan ikrar untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Humanisme dan Implikasinya Bagi Wacana Syari’ah Kontemporer
Oleh Zulkarnain (Peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) ISID Gontor
A. Pendahuluan
Nilai-nilai Humanisme seakan sudah menjadi trend masyarakat saat ini. “Lebih baik tidak religius tapi humanis, dari pada religius tapi tidak humanis”, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia”[1] adalah bentuk ungkapan dari para pengusung humanisme. Ungkapan ini mencerminkan keapatisan terhadap agama, sehingga mengangap dengan beragama, menjadikan orang tidak manusiawi. Paham ini selalu mendengung-dengungkan kemanusiaan, kebebasan, persamaan sehingga segala sesuatu hanya untuk manusia. Kebaikan bagi mereka cukup dengan mengabdi kepada manusia, tanpa harus menyembah Tuhan.[2] Doktrin semacam ini seakan sudah menjadi pijakan baru bagi masyarakat saat ini, sehingga secara tidak sadar menggeser peran agama.